Iswandi, Ferdinandus
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Paham Ketuhanan Dalam Ritual “Barong Wae” di Manggarai, Nusa Tenggara Timur Iswandi, Ferdinandus; Hakeng, Leonardus; Widodo, Agus
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i1.86869

Abstract

Ritual Barong Wae merupakan salah satu ritual yang sampai sekarang masih dipertahankan di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat Manggarai, ritual ini merupakan warisan budaya yang begitu luhur sehingga dipraktikkan dan dilestarikan secara turun-temurun. Bahkan, ritual ini mendapat tempat yang istimewa di kalangan masyarakat Manggarai karena mengungkapkan relasi mereka dengan Yang Ilahi (Mori Kraeng/Mori Dewa Wae), alam semesta, dan para leluhur. Ketiga aspek ini menjadi penting dalam menjalankan ritual ini. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, wawancara, dan pengalaman langsung, tulisan ini bertujuan untuk secara khusus menganalisis dan menemukan paham ketuhanan dalam ritual Barong Wae. Melalui studi yang mendalam tentang ritual Barong Wae, ditemukan tentang nama, sifat dan peran Yang Ilahi dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Selain Tuhan Pencipta yang mereka sebut Mori Kraeng, mereka juga memiliki Tuhan Penjaga Air yang disebut dengan istilah Mori Dewa Wae. Mori Dewa Waeini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu menjaga sumber-sumber mata air tetap hidup sehingga mencukupi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai ungkapan syukur dan untuk menghormatinya, masyarakat Manggarai melakukan ritual Barong Wae.
Menyelami Filosofi Lonto Leok: Persatuan dan Konsensus dalam Budaya Manggarai Sili, Adrianus Musu; Iswandi, Ferdinandus; Nefrindo, Oktavianus; Mulyatno, Carolus Borromeus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 2, No 2 (2024): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v2i2.8514

Abstract

Lonto Léok, a tradition from Manggarai, Indonesia, reflects a significant transformation in the context of unity and communal decisions. Originating from inter-tribal conflicts, this tradition has evolved into a symbol of family unity. In Lonto Léok, formal interaction mechanisms are led by a leader known as "Tu'a Golo," who serves as a facilitator and guides the deliberation process. There are three main stages in Lonto Léok: "caca" (unpack), "cica" (discuss), and "congko" (finalize), reflecting an intensive deliberation process to reach collective agreements. This research aims to elucidate the history, meaning, and mechanisms of Lonto Leok in Manggarai culture while highlighting issues that still need to be addressed. The author adopts a qualitative method based on literature review, interviews, and the author's direct experiences as data sources. The research findings reveal that the shift in the meaning of Lonto Léok from battle to family unity demonstrates cultural adaptability in the face of social change. Lonto Léok represents how the Manggarai community manages conflicts and achieves consensus through deliberation and agreement.AbstrakLonto Léok, sebuah tradisi dari Manggarai, Indonesia, mencerminkan transformasi signifikan dalam konteks persatuan dan keputusan komunal. Tradisi ini, yang berasal dari masa konflik antarsuku, kini menjadi simbol persatuan keluarga. Dalam Lonto Léok, mekanisme interaksi formal dipimpin oleh seorang pemimpin yang dikenal sebagai "Tu'a Golo," yang bertugas sebagai fasilitator dan memandu proses musyawarah. Terdapat tiga tahapan utama dalam Lonto Léok: "caca" (bongkar), "cica" (bahas), dan "congko" (rampung), yang mencerminkan proses musyawarah intens untuk mencapai kesepakatan kolektif.  Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah, makna, dan mekanisme Lonto Leok dalam budaya Manggarai sambil menyoroti masalah yang masih perlu diatasi. Penulis mengadopsi metode kualitatif dengan berlandaskan pada studi pustaka, wawancara, dan pengalaman langsung penulis sebagai sumber data. Hasil penelitiannya adalah pergeseran makna Lonto Léok dari pertempuran menjadi persatuan keluarga menunjukkan adaptabilitas budaya dalam menghadapi perubahan sosial. Lonto Léok adalah cara masyarakat Manggarai mengelola konflik dan mencapai kesepakatan melalui musyawarah dan konsensus.