Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Filsafat Taoisme Nefrindo, Oktavianus; Koli, Yovendi Mali
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6814

Abstract

Taoist philosophy cannot be confused with other Eastern philosophical traditions. It is anti-system and has unique elements. Metaphysically, Taoism is monistic, with everything coming from the Dao or Tao. Ontologically, everything exists because it participates in the Tao, and its essence is within the Tao itself. Axiologically, Taoism values individual happiness achieved by harmonizing with the laws of nature. Ethically, Taoism sees the universe as originating from the Tao, and to return to the Tao, one must harmonize oneself with the rhythm of nature. Epistemologically, Taoism approaches truth with negativity, as the Tao cannot be expressed in human language. Institutionalized Taoism as a religion betrays its historical context stemming from the withdrawal of the individual from institutionalized society. Moreover, the theme of Yin and Yang in Taoism is often misunderstood as a strict dualism, whereas it only exists on a phenomenal level. It is this complexity of Taoism that this paper seeks to highlight.AbstrakFilsafat Tao tidak boleh disamakan dengan tradisi filsafat Timur lainnya. Filsafat ini bersifat anti-sistem dan memiliki unsur-unsur yang unik. Secara metafisik, Taoisme bersifat monistik, di mana segala sesuatu berasal dari Dao atau Tao. Secara ontologis, segala sesuatu ada karena berpartisipasi dalam Tao, dan esensinya terdapat dalam Tao itu sendiri. Secara aksialogis, Taoisme mengutamakan kebahagiaan individu yang dicapai melalui harmonisasi dengan hukum alam. Secara etis, Taoisme memandang alam semesta sebagai berasal dari Tao, dan untuk kembali ke Tao, seseorang harus menyelaraskan diri dengan ritme alam. Epistemologis, Taoisme mendekati kebenaran dengan sikap negatif, karena Tao tidak dapat diungkapkan dalam bahasa manusia. Taoisme yang diinstitusionalkan sebagai agama mengkhianati konteks historisnya yang berasal dari penarikan diri individu dari masyarakat yang diinstitusionalkan. Selain itu, tema Yin dan Yang dalam Taoisme sering disalahartikan sebagai dualisme yang ketat, padahal ia hanya ada pada tingkat fenomenal. Kompleksitas Taoisme inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini.
Menyelami Filosofi Lonto Leok: Persatuan dan Konsensus dalam Budaya Manggarai Sili, Adrianus Musu; Iswandi, Ferdinandus; Nefrindo, Oktavianus; Mulyatno, Carolus Borromeus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 2, No 2 (2024): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v2i2.8514

Abstract

Lonto Léok, a tradition from Manggarai, Indonesia, reflects a significant transformation in the context of unity and communal decisions. Originating from inter-tribal conflicts, this tradition has evolved into a symbol of family unity. In Lonto Léok, formal interaction mechanisms are led by a leader known as "Tu'a Golo," who serves as a facilitator and guides the deliberation process. There are three main stages in Lonto Léok: "caca" (unpack), "cica" (discuss), and "congko" (finalize), reflecting an intensive deliberation process to reach collective agreements. This research aims to elucidate the history, meaning, and mechanisms of Lonto Leok in Manggarai culture while highlighting issues that still need to be addressed. The author adopts a qualitative method based on literature review, interviews, and the author's direct experiences as data sources. The research findings reveal that the shift in the meaning of Lonto Léok from battle to family unity demonstrates cultural adaptability in the face of social change. Lonto Léok represents how the Manggarai community manages conflicts and achieves consensus through deliberation and agreement.AbstrakLonto Léok, sebuah tradisi dari Manggarai, Indonesia, mencerminkan transformasi signifikan dalam konteks persatuan dan keputusan komunal. Tradisi ini, yang berasal dari masa konflik antarsuku, kini menjadi simbol persatuan keluarga. Dalam Lonto Léok, mekanisme interaksi formal dipimpin oleh seorang pemimpin yang dikenal sebagai "Tu'a Golo," yang bertugas sebagai fasilitator dan memandu proses musyawarah. Terdapat tiga tahapan utama dalam Lonto Léok: "caca" (bongkar), "cica" (bahas), dan "congko" (rampung), yang mencerminkan proses musyawarah intens untuk mencapai kesepakatan kolektif.  Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah, makna, dan mekanisme Lonto Leok dalam budaya Manggarai sambil menyoroti masalah yang masih perlu diatasi. Penulis mengadopsi metode kualitatif dengan berlandaskan pada studi pustaka, wawancara, dan pengalaman langsung penulis sebagai sumber data. Hasil penelitiannya adalah pergeseran makna Lonto Léok dari pertempuran menjadi persatuan keluarga menunjukkan adaptabilitas budaya dalam menghadapi perubahan sosial. Lonto Léok adalah cara masyarakat Manggarai mengelola konflik dan mencapai kesepakatan melalui musyawarah dan konsensus.
Paham Ketuhanan “Mori Kraeng” dalam Upacara Torok Wuat Wa’i bagi Anak-Anak Manggarai yang akan Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi Elan, Anjelita; Huba, Fransiskus; Nefrindo, Oktavianus; Widodo, Agus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v3i2.10200

Abstract

Torok Wuat Wa'i is a traditional ritual of the Manggarai community conducted when someone is about to migrate. Using qualitative methods through literature studies and interviews, this research aims to delve into the understanding of divinity in the Torok Wuat Wa’i ceremony, particularly for those who are going to study. The results show that the Manggarai people have a belief in a God who governs the universe and human life, whom they refer to as Mori Kraeng. Through the Torok Wuat Wa’i ritual, they pray for a good life and protection from Mori Kraeng, from the moment a person departs from their hometown, during the journey, throughout their studies in the migration area, and until their return to their hometown. Additionally, in the Torok Wuat Wa’i ceremony, they also pay homage to their ancestors, who are believed to play a crucial role in maintaining the balance of nature and human life. Therefore, the Torok Wuat Wa’i ceremony serves not only as a means to establish relationships and seek blessings from God but also as a manifestation of togetherness and unity among humans, the universe, and the spiritual world.AbstrakTorok Wuat Wa'i merupakan ritual adat masyarakat Manggarai yang dilakukan ketika seorang hendak merantau. Dengan metode kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara, penelitian ini bermaksud untuk mendalami paham ketuhanan dalam upacara Torok Wuat Wa’i, khususnya bagi mereka yang hendak studi. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai mempunyai keyakinan akan Tuhan yang menguasai alam semesta dan kehidupan manusia, yang mereka sebut Mori Kraeng. Melalui ritual Torok Wuat Wa’i, mereka memohon kehidupan yang baik dan perlindungan dari Mori Kraeng, sejak seseorang berangkat dari kampung halaman, selama dalam perjalanan, selama studi di perantauan, hingga kepulangannya kembali ke kampung halaman. Selain itu, dalam upacara Torok Wuat Wa’i, mereka juga memberi penghormatan terhadap leluhur, yang diyakini berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, upacara Torok Wuat Wa’i tidak hanya menjadi sarana menjalin relasi dan memohon berkat Tuhan, tetapi juga merupakan wujud kebersamaan dan kesatuan antara manusia, alam semesta, dan dunia spiritual.