Farah, Naila
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Childfree dalam Perspektif Teologi Pembebasan Ali Ashgar Engineer: Kebebasan, Keadilan, dan Kesejahteraan Farah, Naila
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.21090

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep childfree dalam perspektif teologi pembebasan Ali Asghar Engineer, dengan fokus pada nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan. Fenomena childfree —keputusan untuk tidak memiliki anak— semakin relevan di tengah dinamika sosial dan ekonomi masyarakat modern. Dalam teologi pembebasan, Engineer mengedepankan interpretasi agama yang progresif, berorientasi pada pembebasan individu dari struktur yang menindas, termasuk tekanan sosial terkait reproduksi. Serta mengeksplorasi bagaimana konsep kebebasan individu dalam memilih childfree dapat dipahami dalam kerangka teologi pembebasan, yang menghargai hak individu untuk menentukan hidupnya sesuai dengan nilai-nilai keadilan sosial dan kesejahteraan kolektif. Pendekatan ini mencakup analisis terhadap tradisi agama yang sering kali bersifat patriarkal dan eksplorasi bagaimana nilai keadilan gender, keadilan ekonomi, dan kesejahteraan komunitas dapat diharmonisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif childfree tidak bertentangan dengan prinsip teologi pembebasan, selama pilihan tersebut didasarkan pada kesadaran, tanggung jawab, dan orientasi terhadap keadilan sosial. Artikel ini berkontribusi pada wacana teologis kontemporer dengan menawarkan pandangan alternatif tentang peran agama dalam mendukung kebebasan individu dan membangun kesejahteraan masyarakat secara inklusif. Kata Kunci: childfree, teologi pembebasan, Ali Asghar Engineer, kebebasan, keadilan, kesejahteraan.
Ekploitasi Buruh Perempuan pada Perusahaan Tekstil di Brebes Amalia, Tasya Diana; Musahwi, Musahwi; Farah, Naila
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v7i1.21004

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam mengenai eksploitasi pada buruh perempuan yang bekerja di PT. X, Kabupaten Brebes dengan status pekerja tidak tetap. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam pada buruh yang masih aktif bekerja dan mantan buruh yang pernah bekerja di PT. X. Penelitian ini fokus pada pengalaman eksploitasi buruh perempuan selama bekerja. Selain wawancara mendalam, data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi yang berhubungan dengan topik penelitian.  Hasil penelitian ini menunjukan bahwa buruh perempuan mengalami berbagai bentuk eksploitasi seperti jam kerja yang berlebihan, upah lembur yang tidak sesuai dengan regulasi, ketimpangan fasilitas kerja antar shift, jaminan sosial seperti BPJS yang tidak merata, status kerja yang tidak pasti sehingga buruh rentan mengalami pemutusan hubungan kerja secara sepihak dan juga kekerasan  simbolik melalui perkataan kasar. Kondisi ini memperlihatkan ketidakberdayaan buruh perempuan yang berstatus pekerja tidak tetap.
Pembaruan Islam di Indonesia (Telaah Atas Pemikiran Harun Nasution, Nurcholis Madjid, dan Abdurrahman Wahid) Farah, Naila
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18936

Abstract

Gerakan pemikiran ketiga tokoh di atas, telah menancapkan pengaruhnya yang luas terhadap etos dan dinamika berpikir umat Islam Indonesia. Bahkan pengaruh pemikiran mereka telah dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam kehidupan intelektual umat Islam Indonesia. Mereka telah berhasil mendobrak pintu kejumudan menuju pola pikir yang dinamis dan kreatif. Yang menarik dari ketiga pemikir ini adalah upayanya yang gigih untuk mempertemukan antara, pada satu sisi, nilai-nilai keislaman dengan keindonesiaan, sementara pada sisi lain, antara kekayaan warisan pemikiran Islam klasik dengan nilai-nilai modernitas –dengan bahasa dan pendekatan apapun yang mereka gunakan-. Sehingga dari komitmen seperti ini –dalam posisinya yang ada- yidak berlebihan kalau ketiga pemikir ini dimasukkan dalam kelompok “neo-modernis Islam”. Yakni, komitmennya yang membangun visi Islam di masa modern, dengan sama sekali tidak meninggalkan warisan intelektual Islam. Bahkan jika mungkin, mencari akar-akar Islam untuk mendapatkan kemodernan Islam itu sendiri.