Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Effectiveness of Telegram Quizzes in Enhancing Arabic Language Content Mastery Among Participants of the Sabilurrasyad Arabic Course in Bandung: Efektivitas Kuis Telegram dalam Meningkatkan Penguasaan Materi Bahasa Arab bagi Peserta Kursus Bahasa Arab di Sabilurrasyad Bandung Natasya Farhati Yunis
Edulab : Majalah Ilmiah Laboratorium Pendidikan Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Laboratorium Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Colaboration with Persatuan Pranata Laboratorium Pendidikan Indonesia Tingkat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/edulab.2025.101.01

Abstract

Purpose – This study aims to investigate the implementation, effectiveness, strengths, and limitations of the Telegram quiz feature as a learning medium in Arabic language instruction. The study adopts a quantitative descriptive approach with an experimental research design. Design/methods/approach – The study employed a descriptive quantitative approach with an experimental design using a one-group pretest-posttest model. Data were collected through questionnaires and tests (pre-test and post-test) administered to 10 course participants. The results were then analyzed through hypothesis testing using a paired sample t-test. Findings – The findings indicate a significant difference in participants' mastery of Arabic language material after using the Telegram quiz. Based on data analysis from 10 course participants, a significant improvement in Arabic language mastery was observed following the use of Telegram quizzes, with mean scores rising from 89.90 (pre-test) to 94.60 (post-test) (Sig. = 0.027 < 0.05; t = 2.645 > tₜₐbₗₑ = 2.262). The Telegram quiz feature was found to be practical and user-friendly, offering a multiple-choice format that facilitates recall and comprehension of learning material. Its interface is engaging and enjoyable, and it provides immediate feedback on whether the selected answer is correct or incorrect. However, certain limitations were identified, including the small font size that can hinder readability, the inability of quiz creators to edit questions or answers once published, and the requirement for stable internet access or data availability for implementation. Research implications/limitations – These findings suggest that Telegram quizzes can serve as an effective alternative instructional medium for non-formal Arabic language education. However, the study is limited by its focus on a single social media platform and a small sample size. Originality/value – This study contributes to the expanding body of research on digital learning media by specifically addressing the pedagogical value of Telegram’s quiz feature, a tool that has received limited attention in the context of non-formal Arabic language instruction. Abstrak Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi, efektivitas, kelebihan, dan keterbatasan fitur kuis Telegram sebagai media pembelajaran dalam pengajaran bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian eksperimen. Desain/metode/pendekatan – Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain eksperimen menggunakan model one-group pretest-posttest. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan tes (pre-test dan post-test) yang diberikan kepada 10 peserta kursus. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji hipotesis dengan teknik paired sample t-test. Temuan – Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam penguasaan materi bahasa Arab peserta setelah menggunakan kuis Telegram. Berdasarkan analisis data dari 10 peserta kursus, terjadi peningkatan signifikan dalam penguasaan bahasa Arab setelah penggunaan kuis Telegram, dengan rata-rata skor meningkat dari 89,90 (pre-test) menjadi 94,60 (post-test) (Sig. = 0,027 < 0,05; t = 2,645 > tₜₐbₗₑ = 2,262). Fitur kuis Telegram dinilai praktis dan mudah digunakan, dengan format pilihan ganda yang memudahkan peserta dalam mengingat dan memahami materi pembelajaran. Antarmukanya menarik dan menyenangkan serta memberikan umpan balik langsung mengenai jawaban yang benar atau salah. Namun, terdapat beberapa keterbatasan, seperti ukuran huruf yang kecil sehingga mengganggu keterbacaan, tidak adanya opsi untuk mengedit soal atau jawaban setelah dipublikasikan, serta kebutuhan akan koneksi internet yang stabil atau ketersediaan data. Implikasi/batasan penelitian  – Temuan ini menunjukkan bahwa kuis Telegram dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif dalam pendidikan bahasa Arab non-formal. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada satu platform media sosial dan jumlah sampel yang kecil. Orisinalitas/nilai – Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian media pembelajaran digital dengan secara khusus menyoroti nilai pedagogis dari fitur kuis Telegram, sebuah alat yang masih jarang dibahas dalam konteks pengajaran bahasa Arab non-formal.
KAIDAH AL-‘ĀM DAN AL-KHĀṢ DALAM KAJIAN AL-QUR’AN Natasya Farhati Yunis; Nurfadhilah; Agustiar
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 6 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Juni
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/v3i6.2442

Abstract

Kajian terhadap kaidah al-‘Ām (umum) dan al-Khāṣ (khusus) dalam studi Al-Qur’an memegang peranan yang sangat penting dalam memastikan ketepatan pemahaman dan penafsiran hukum-hukum Islam. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan secara mendalam definisi, ragam bentuk, serta contoh penerapan al-‘Ām dan al-Khāṣ di dalam Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) yang menitikberatkan pada penelaahan literatur klasik dan kontemporer, baik berupa buku, jurnal, maupun karya ilmiah lain yang relevan dengan tema ushul fiqh dan ilmu tafsir. Hasil menunjukkan bahwa al-‘Ām adalah lafaz yang maknanya mencakup semua anggota yang termasuk di dalamnya tanpa pengecualian, sedangkan al-Khāṣ adalah lafaz yang maknanya hanya mencakup objek tertentu secara lebih terbatas. Secara teknis, ayat-ayat yang mengandung lafaz umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk: al-‘Ām yang tetap pada keumumannya, al-‘Ām yang dimaksudkan khusus sejak awal karena adanya qarinah (indikasi pengkhususan), dan al-‘Ām yang kemudian ditakhsiskan oleh dalil lain. Sementara itu, teknik takhsis atau pengkhususan dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, di antaranya mentakhsiskan ayat dengan ayat lain, mentakhsiskan ayat dengan hadits, mentakhsiskan hadits dengan ayat, serta melalui ijma’, qiyas, bahkan dalam beberapa mazhab melalui pendapat sahabat.
Sunni dan Syi'ah: Dinamika Sejarah dan Tantangan dalam Membangun Peradaban Islam Global Natasya Farhati Yunis; Lailatul Barqah; Eliya Roza
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 24, No. 1 (2025): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2025.24105

Abstract

Abstract: This research aims to examine the historical dynamics as well as the roles and challenges of Sunni and Shi'a in building a global Islamic civilization. Sunni and Shi'a as two major sects often have different views and often contradict each other. In addition to cooperation, it is not uncommon for conflicts to decorate the relationship between these two schools. This research is a qualitative research using a literature review. This study shows that historically, Sunni-Shi'a differences began with leadership disputes after the death of the Prophet Muhammad (PBUH), which later developed into theological, ideological, and practical differences. The main difference between the two lies in the concept of leadership (caliphate vs. imamah), the source of law, and the view of the Prophet's companions. Conflicts between Sunnis and Shi'ites are often triggered by political and geopolitical factors. However, efforts for dialogue, educational reform, and cross-sectarian cooperation also continue to be carried out for the sake of harmonization of relations. Furthermore, the dynamics of relations between Sunnis and Shi'a are not solely antagonistic. History records that in addition to conflicts, there were also periods of collaboration and mutual influence between the two, both in the intellectual and cultural fields. These two schools played an important role in building the Islamic scientific tradition. In the context of an increasingly connected and complex world, the challenges faced by Muslims require cross-sectarian solidarity, not sharpening differences. Thus, the future of global Islamic civilization will be largely determined by the ability of Sunnis and Shi'a to understand, respect, and work together for the common good. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika sejarah serta peran dan tantangan  sunni dan syi’ah dalam membangun peradaban Islam global. Sunni dan syi’ah sebagai dua aliran besar kerap memiliki perbedaan pandangan dan sering bertentangan. Selain kerjasama, tak jarang konflik menghiasi hubungan kedua aliran ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa secara historis, perbedaan Sunni-Syi’ah bermula dari sengketa kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis, ideologis, dan praktik keagamaan. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada konsep kepemimpinan (khilafah vs. imamah), sumber hukum, dan pandangan terhadap sahabat Nabi. Adapun konflik antara Sunni dan Syi’ah seringkali dipicu oleh faktor politik dan geopolitik. Namun demikian, upaya dialog, reformasi pendidikan, dan kerja sama lintas mazhab juga terus dilakukan demi harmonisasi hubungan. Lebih jauh, dinamika hubungan antara Sunni dan Syi’ah tidak semata-mata bersifat antagonistik. Sejarah mencatat bahwa selain konflik, terdapat pula masa-masa kolaborasi dan saling pengaruh di antara keduanya, baik dalam bidang intelektual maupun budaya. Kedua mazhab ini berperan penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Dalam konteks dunia yang semakin terhubung dan kompleks, tantangan yang dihadapi umat Islam membutuhkan solidaritas lintas mazhab, bukan justru mempertajam perbedaan. Dengan demikian, masa depan peradaban Islam global akan sangat ditentukan oleh kemampuan Sunni dan Syi’ah untuk saling memahami, menghargai, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama.