Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Masa Keemasan pada Seni dan Arsitektur Masa Daulah Abbasiyah Sri Hastuti; Hanifa Rahmatunnisa; Aidil Fitra Lubis; Achmad Maftuh Sujana
Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat Vol. 2 No. 3 (2025): Juli : Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/akhlak.v2i3.903

Abstract

Islam after the death of the Prophet Muhammad SAW experienced a golden age. The peak of this glory was not seen from the size of its territory, but from the progress of various sectors such as art, culture, building architecture, and education. All of this success was achieved during the Abbasid Dynasty. This dynasty was different from the previous empire, namely the Umayyad, which focused more on expanding the territory of da'wah. In this short and simple article, the development of art, especially architecture, during the Abbasid Dynasty is discussed, which is one indicator of the progress of the Baghdad Caliphate. Architecture is the work of an architect designed to build spaces in a building with certain functions and purposes. The royal palace building is an architectural design that is formed according to the development of the times and contains certain meanings in each of its arrangements. This article aims to explain the architectural style of the Abbasid Caliphate palace, including its types and the influence of other architectural styles in its construction. The method used is a literature study (library research) by collecting data from various relevant literature. The results of this writing are expected to provide a general description of the characteristics of palace architecture during the Abbasid Dynasty.
KUE JEJORONG SEBAGAI WARISAN KULINER TRADISIONAL BANTEN Dian Falahdita; Hanifa Rahmatunnisa; Rosyidah; Abel Octavia Suman; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6670

Abstract

Wisata kuliner merupakan salah satu daya tarik penting dalam pengembangan pariwisata daerah karena mampu merepresentasikan identitas budaya lokal. Kue Jojorong merupakan salah satu kuliner tradisional khas Banten, khususnya berasal dari wilayah Pandeglang dan Lebak, yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini membahas perkembangan kue Jojorong, proses pembuatannya, sejarah, filosofi, serta peran dan nilai ekonominya bagi masyarakat lokal. Jojorong telah dikenal sejak masa Kesultanan Banten dan awalnya disajikan dalam acara adat dan keagamaan, sebelum kemudian berkembang menjadi produk kuliner yang diperdagangkan secara luas. Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional dengan bahan-bahan lokal seperti tepung beras, tepung tapioka, santan, gula merah, dan daun pisang, yang memberikan cita rasa serta identitas khas. Secara filosofis, Jojorong melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kekayaan budaya masyarakat Banten. Dalam konteks ekonomi modern, Jojorong berperan sebagai produk unggulan UMKM yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, kue Jojorong tidak hanya berfungsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai aset budaya dan ekonomi yang potensial untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata dan ekonomi kerakyatan di Provinsi Banten.