Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pikukuh : Kajian Historis Kearifan Lokal Pitutur dalam Literasi Keagamaan Masyarakat Adat Baduy Sujana, Ahmad Maftuh
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.357 KB) | DOI: 10.17509/historia.v3i2.24347

Abstract

Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang menginternalisasi sebelumnya. Tradisi masyarakat adat Baduy diwarnai oleh agama yang dianutnya agama Sunda Wiwitan, melahirkan ajaran tersendiri yang disebut pikukuh. Pikukuh tersebut disampaikan secara turun temurun secara lisan menjadi aturan adat mutlak yang harus ditaati. Pelanggaran terhadap aturan adat mutlak tersebut memunculkan konsekuensi, yang harus di terima oleh komunitas masyarakat adat Baduy. Berbagai makna filosofis hidup (kedamaian, kejujuran, kesederhanaan, kasih sayang) dijadikan landasan hidup masyarakat Baduy, mereka akan selalu menjaga dan mengamalkan pikukuh tersebut sampai kapanpun. Dengan melaksanakan pikukuh masyarakat Baduy akan dilindungi oleh Batara Tunggal sebagai kuasa tertinggi dalam keyakinan masyarakat Baduy melalui para guriang (utusan Batara Tunggal) yang dikirim oleh Karuhun (leluhur). Demikian juga, penderitaan hidup yang dialami adalah hukuman dari karuhun dan Batara Tunggal karena tidak patuh kepada pikukuh. Kepatuhan masyarakat dalam memegang kepercayaan agama dengan menaati pikukuh yang dianut oleh masyarakat Baduy, telah menjadikan kunci untuk merekatkan keutuhan masyarakat.
Jihad dan Anti Kafir dalam Geger Cilegon 1888 Ahmad Maftuh Sujana; Saeful Iskandar
Tsaqofah Vol 17 No 1 (2019): June 2019
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v19i1.3167

Abstract

Colonial exploitation that occurred in the 19th century in the archipelago. Creating conditions that can encourage people to carry out social movements that are dominated by continuous economic, political and cultural conditions and have led to the disorganization of traditional societies and their institutions. The entry of the Dutch in the 19th century began to cause enormous problems for the people of Banten, because the changes made by the Dutch government changed the system of government created by the Sultanate of Banten. From the traditional government structure switched to the Modern (European) government system. This has a negative impact on the structure of people's lives. Banten Ulama with the spirit of jihad, the spirit of anti-Islam, sometimes even the spirit of Nativism and Revivalism, became the driving force for various social movements that flourished in the 19th century. Throughout the 19th and early 20th centuries this movement was a historical symptom of the indigenous peasant society. Almost all of these social movements occur due to high tax collections and heavy work that puts pressure on farmers. So that in this case, the kiai's leadership in carrying out the movement against the invaders is all based on the same motivation and conditions, namely maintaining aqidah and worship. Against munkar, polytheism and kufr which are carried out in the framework of munkar ma'ruf nahyi deeds. Everything is based on sincerity to fortify Islam from the influence that damages Islamic aqidah, worship and mu'amalah. This is clearly manifested in the history of struggle which was marked by Ulama throughout the archipelago
Budaya Cina dan Dinamika Tradisi Jawa Ahmad Maftuh Sujana; Nita Nirmalasari
Tsaqofah Vol 17 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v17i2.2572

Abstract

Penulisan sejarah mengenai masuknya Islam di Indonsia masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa Islam datang dibawa oleh para pedagang muslim yang singgah di pesisir. Komunitas Muslim Cina yang memiliki peranan cukup penting dalam islamisasi di Nusantara karena hubungan antara Nusantara dengan Cina sudah terjalin sejak masa pra-Islam dan Islam sudah masuk ke Cina lebih dulu daripada ke Indonesia. Selain itu adanya pengaruh Cina dalam kebudayaan masyarakat Islam di Indonesia menunjukan adanya kontribusi Muslim Cina dalam Islamisasi di Indonesia Seperti halnya di Salatiga, tepatnya di Desa Kalibening, Kecamatan Randuacir terdapat cerita lisan yang menuturkan bahwa dalam penyebaran Islam terdapat tokoh Cina muslim yang bernama Lie Beng Ing. Bahkan sebagian sumber lain mengatakan bahwa nama Kalibening berasal dari nama tokoh tersebut. Lie Beng Ing disebut-sebut salah satu rombongan Cheng Ho yang tidak mau pulang ke Cina Selatan saat melakukan ekspedisi ke Jawa. Pengaruh dari akulturasi budaya Islam Jawa-Cina bisa dilihat dari beberapa peninggalan kepurbakalaan Islam di Jawa yang mengisyaratkan adanya pengaruh Cina yang cukup kuat pada abad ke-15 dan ke-16
Harmoni Agama Pada Masyarakat Adat Baduy Wardah, Eva Syarifah; Sujana, Achmad Maftuh; Tausiyah, Dalilah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.25700

Abstract

Keyakinan dan kepercayaan lokal mengakomodasi nilai nilai ajaran yang berkembang di masyarakat ketika pertemuan sehingga secara implisit terjadi upaya untuk saling mengakomodasi antara nilai nilai ajaran agama yang ada dengan kepercayaan lokal dengan dipraktekan dalam kehidupan keseharian. Hasil dari pertemuan kepercayaan lokal bisa bermacam macam bisa bersifat sintetik maupun sintetis tergantung kepada kuat lemahnya dan serasi atau tidaknya corak keyakinan yang datang dan menanti. Kepercayaan lokal ketika berhadapan dengan agama yang datang mengunakan strategi ketertupan dan keterbukaanya sehingga kepercayaan lokal menerima agama yang datang bahkan tidak sedikit yang mengafirmasi sebagai bagian identitass baru mereka yang menujukan adanya harmonisas kehidupan beragama. Harmonisasi Islam sebagai keyakinan yang datang dan kepercayaan lokal Sunda Wiwitan sebagai keyakinan yang menanti dapat dilihat dalam kehidupan keberagamaan masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Masyarakat Baduy memiliki kehidupan beragama yang sangat kental dengan tradisi-tradisi kepercayaan leluhur mereka. Namun, di sisi lain, mereka juga terbuka dengan agama-agama lain dan mengintegrsikan ajaran agama Islam dalam ritual keagamaan Sunda Wiwitan yang mereka anut.
Gerakan Mahasiswa Di Era Reformasi : Tantangan Dan Peluang Chaerul Rahman, Muhammad; Ananda Josafi, Khairi; Aufal Syahrul Abror, Muhammad; Maftuh Sujana, Ahmad
AL-UKHWAH - JURNAL PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM Vol. 4 No. 1 (Juni 2025)
Publisher : Prodi Pengembangan Masyarakat Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/jau.v4i1.5246

Abstract

Gerakan mahasiswa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari proses perubahan sosial-politik bangsa, khususnya sejak era reformasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali peran mahasiswa dalam era pascareformasi, sekaligus menelaah relevansi gerakan tersebut dalam menjawab tantangan kontemporer. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode studi pustaka sebagai sumber utama data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa masih aktif dalam berbagai aksi sosial, terdapat kecenderungan penurunan militansi, fragmentasi orientasi gerakan, serta lemahnya konsolidasi organisasi. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tetap memiliki signifikansi strategis, namun memerlukan reorientasi ideologis dan pembaruan strategi agar tetap relevan dalam dinamika demokrasi modern.
Masa Keemasan pada Seni dan Arsitektur Masa Daulah Abbasiyah Sri Hastuti; Hanifa Rahmatunnisa; Aidil Fitra Lubis; Achmad Maftuh Sujana
Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat Vol. 2 No. 3 (2025): Juli : Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/akhlak.v2i3.903

Abstract

Islam after the death of the Prophet Muhammad SAW experienced a golden age. The peak of this glory was not seen from the size of its territory, but from the progress of various sectors such as art, culture, building architecture, and education. All of this success was achieved during the Abbasid Dynasty. This dynasty was different from the previous empire, namely the Umayyad, which focused more on expanding the territory of da'wah. In this short and simple article, the development of art, especially architecture, during the Abbasid Dynasty is discussed, which is one indicator of the progress of the Baghdad Caliphate. Architecture is the work of an architect designed to build spaces in a building with certain functions and purposes. The royal palace building is an architectural design that is formed according to the development of the times and contains certain meanings in each of its arrangements. This article aims to explain the architectural style of the Abbasid Caliphate palace, including its types and the influence of other architectural styles in its construction. The method used is a literature study (library research) by collecting data from various relevant literature. The results of this writing are expected to provide a general description of the characteristics of palace architecture during the Abbasid Dynasty.
Pesantren Sukamanah pada Kepemimpinan K.H ZAINAL Mustofa Sebagai Benteng Jihad Islam Pada Tahun 1927-1944 M Hakim, Faiha Kamila Kharisma; Anggraeni, Lia; Abdiyatuzzahro, Devi; Sujana, Ahmad Maftuh
Invention: Journal Research and Education Studies Volume 6 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : CV. PUSDIKRA MITRA JAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/invention.v6i1.2439

Abstract

Islam telah memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia sejak kedatangannya. Berbagai teori menjelaskan asal-usul Islam di Nusantara, termasuk teori Gujarat, Mekah, dan Persia. Kedatangan Islam membawa perubahan signifikan dalam aspek sosial dan pendidikan, terutama melalui sistem pesantren yang menjadi pusat pembelajaran agama. Sebelum Islam, pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha dan terbatas pada kalangan bangsawan. Dengan hadirnya Islam, pesantren berkembang sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan agama, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Selain sebagai pusat pendidikan, pesantren juga berperan dalam dakwah dan perlawanan terhadap kolonialisme. Contoh nyata adalah Pesantren Sukamanah di bawah pimpinan K.H. Zaenal Mustafa yang menentang kebijakan Jepang. Hingga kini, pesantren tetap menjadi bagian penting dari sistem pendidikan Islam di Indonesia.
SEJARAH DAN MODERNISASI TNI ANGKATAN UDARA: IMPLIKASI TERHADAP PERTAHANAN NASIONAL Makhbul Hudori, Raudho; Arifin, Zainul; Apdilla, Raya; Maftuh Sujana, Ahmad
Berajah Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Berajah Journal
Publisher : CV. Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/bj.v5i1.559

Abstract

This article examines the history of the Indonesian National Air Force (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, TNI AU) following Indonesia’s proclamation of independence in 1945. Established in April 1946, the TNI AU emerged amid significant political, social, and military challenges during the early years of Indonesia’s struggle to maintain sovereignty. The formation and development of TNI AU were marked by limited resources and complex dynamics, including the repurposing of captured aircraft and the integration of former colonial military personnel. The article highlights key phases in TNI AU’s evolution, such as its strategic role in major battles like the Five-Day Battle in Semarang and efforts to secure and operate airbases previously controlled by Japanese forces. Moreover, the TNI AU faced continuous political and social challenges, requiring adaptation to changing military doctrines and modernization efforts through international training and procurement of advanced technology. Beyond combat roles, the TNI AU has been actively involved in humanitarian missions and disaster relief, underscoring its broader national significance. This study uses qualitative methods supported by primary interviews, historical documents, and archival data to provide a comprehensive understanding of TNI AU’s contributions to Indonesia’s defense and state-building processes post-independence. The findings demonstrate the crucial role of TNI AU in safeguarding national sovereignty and advancing Indonesia’s military capabilities.
Kiprah Suryani Thahir dalam Pemberdayaan Perempuan Betawi melalui Majelis Taklim (1970–2006) Muhammad Rafli Zakaria; Achmad Maftuh Sujana
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 7 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i7.8695

Abstract

This article examines the role and contributions of Ustadzah Suryani Thahir in empowering Betawi women through Majelis Taklim (Islamic study groups) in South Jakarta between 1970 and 2006. The study employs historical research methodology, consisting of five main stages: topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. Primary sources were obtained through interviews with the subject’s family members and authentic written documents, while secondary sources were collected through literature review. The findings reveal that Suryani Thahir played a dual role as both a religious preacher and a social mobilizer, actively guiding women in religious, educational, and self-development matters. The Majelis Taklim she led served as a strategic platform for Betawi women to gain religious knowledge and expand their social roles amid the dynamics of an urban society. This study highlights the significance of local female figures in the socio-religious history of Jakarta, particularly in elevating the position of women in public spaces through cultural and religious approaches.
Perlawanan Rakyat dan Kriminalisasi Gerakan Sosial: Studi Kasus Konflik Peternakan di Cibetus Padarincang Nawawi, Taosyekh; Amalia, Aam; Fakhrudin, Irfan; Sujana, Ahmad Maftuh
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 3 (2025): July, Social Studies, Educational Research and Humanities Research.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i3.46975

Abstract

This study examines the dynamics of social resistance and criminalization in the case of a large-scale poultry farm development in Cibetus, Padarincang, Serang, Banten. The research highlights how the implementation of development projects without adequate consultation and community consent has triggered conflicts related to environmental degradation, public health, and the right to a safe living space. Using a qualitative case study approach, data were collected through semi-structured interviews with affected residents, community leaders, and civil society organizations, as well as through documentation analysis and field observations. The findings reveal that the local community responded to the project through various forms of organized resistance, including peaceful protests, public advocacy, legal actions, and direct confrontation. These actions were met with repressive state responses, including the arrest and prosecution of residents without proper legal procedures. The criminalization of citizens involved in the resistance underscores a broader pattern of structural injustice, where legal instruments are used to suppress civic participation and protect corporate interests. This study concludes that the conflict in Cibetus reflects a deeper imbalance in power relations between the state, corporations, and civil society. The resistance demonstrated by the community is not merely an objection to a development project but a demand for justice, recognition, and the protection of fundamental rights. The research emphasizes the need for inclusive and participatory governance that respects environmental and social rights in the planning and implementation of development policies.