Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A Case Report of Malaria with Concurrent Dengue and Typhoid Fever Andi Kartini Eka Yanti; Andi Zul Tasyriq; Hendrian Chaniago
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 14 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/a0e3x069

Abstract

Introduction: In Indonesia, malaria, dengue fever (DF), and typhoid fever are endemic infectious diseases that remain major public health concerns. Data from the Ministry of Health in 2025 show high incidence rates of these three diseases, especially in Papua, Bali, and urban areas, which increase the risk of coinfection and complicate diagnosis and treatment. Methods: A case is reported of an 18-year-old man presenting with high fever, headache, nausea, and thrombocytopenia. Initial serological and laboratory tests indicated dengue fever and typhoid infection. Routine monitoring and peripheral blood examination were performed and malaria co-infection was detected. Results: The patient's fever and platelets continued to decrease despite being given supportive therapy and antibiotics. Peripheral blood smear confirmed Plasmodium falciparum infection, prompting the addition of antimalarial therapy with dihydroartemisinin-piperaquine and primaquine. Following comprehensive treatment and close monitoring, the patient’s condition improved, with normalization of vital signs and increased platelet count. Conclusion: Coinfection of malaria, dengue fever, and typhoid in Indonesia is rare but requires special attention. Systematic diagnosis and intensive monitoring are essential for effective treatment and prevention of complications. Increased clinical awareness of possible multiple infections in febrile patients in endemic areas can improve prognosis and optimize patient management.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TERAPI LATIHAN KONVENSIONAL DAN TERAPI REHABILITASI MEDIK PADA LANSIA DENGAN OSTEOARTHRITIS Astri Wahyuni; Imran Safei; Hendrian Chaniago
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 25 No. 1 (2026): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/mr3pj670

Abstract

Latar Belakang: Osteoartritis (OA), khususnya osteoartritis lutut, merupakan penyakit degeneratif sendi yang paling sering dialami lansia dan menyebabkan nyeri, keterbatasan fungsi, penurunan kualitas hidup, serta peningkatan beban biaya kesehatan. Terapi latihan konvensional dikenal sebagai intervensi non-farmakologis utama, namun berkembang pula terapi rehabilitasi medik dengan pendekatan multimodal yang diklaim lebih komprehensif. Perbandingan efektivitas kedua pendekatan tersebut pada populasi lansia masih perlu dikaji secara mendalam. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan desain narrative review. Penelusuran literatur dilakukan terhadap jurnal nasional dan internasional, ClinicalKey, sitasi Fakultas Kedokteran UMI, textbook, dan proceeding book yang terbit pada tahun 2015–2025. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi terkait populasi lansia dengan osteoartritis dan intervensi terapi latihan konvensional serta terapi rehabilitasi medik. Sebanyak 20 artikel yang memenuhi kriteria dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa terapi latihan konvensional efektif menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsi sendi, terutama pada osteoartritis derajat ringan hingga sedang. Terapi rehabilitasi medik multimodal, yang mencakup latihan akuatik, kombinasi latihan dengan modalitas fisik, edukasi, dan self-management, memberikan manfaat yang lebih luas dan stabil dalam jangka panjang, terutama pada lansia dengan nyeri sedang hingga berat, keterbatasan fungsional, dan komorbiditas. Kesimpulan: Terapi latihan konvensional dan terapi rehabilitasi medik sama-sama efektif pada lansia dengan osteoartritis, namun pendekatan rehabilitasi medik yang terstruktur, multimodal, dan individual lebih unggul dalam menangani kompleksitas kondisi klinis dan meningkatkan kualitas hidup lansia secara berkelanjutan.