Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Potensi seduhan jahe merah (Zingiber officinale Rubrum) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis Marsenia, Elly; Putranto, Ricky Anggara; Binartha, Ciptadhi Tri Oka
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.104334

Abstract

Jahe merah merupakan tanaman yang digunakan sebagai bahan baku obat herbal tradisional yang berkhasiat untuk kesehatan. Kandungan senyawa aktif yang dihasilkan jahe merah menghasilkan efek farmakologis. Bahan alam ini dapat dijadikan sebagai alternatif obat kumur yang efek salah satunya sebagai antibakteri. Bakteri Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri penyebab periodontitis akibat faktor virulensi yang menginduksi peradangan jaringan periodontal. Obat kumur klorheksidin 0,2% merupakan obat kumur sebagai perawatan periodontitis, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas seduhan jahe merah (Zingiber officinale Rubrum) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Penelitian ini berupa eksperimental laboratorium secara in vitro dengan rancangan post-test only group design. Uji antibakteri dilakukan dengan metode dilusi dengan sampel seduhan jahe merah 5 gram, 2,5 gram, 1,25 gram, 0,625 gram, 0,3125 gram, klorheksidin 0,2% sebagai kontrol positif, dan akuades sebagai kontrol negatif. Seduhan jahe merah memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Hasil rata-rata jumlah koloni seduhan jahe merah 5 gram menghasilkan rata-rata terendah dibanding kelompok lainnya dan pada hasil uji Post Hoc Tukey HSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p < 0,05) dibandingkan kontrol negatif dan positif, sehingga kelompok seduhan jahe merah 5 gram memiliki efek antibakteri yang tertinggi dibandingkan kelompok yang lain, namun tidak dapat melampaui klorheksidin 0,2%.
Potensi Seduhan Jahe Merah (Zingiber Officinale Rubrum) terhadap Bakteri Porphyromonas Gingivalis Marsenia, Elly; Anggara Putranto, Ricky; Tri Oka Binartha, Ciptadhi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i5.58019

Abstract

Jahe merah merupakan tanaman yang digunakan sebagai bahan baku obat herbal tradisional yang berkhasiat untuk kesehatan. Kandungan senyawa aktif yang dihasilkan jahe merah menghasilkan efek farmakologis. Bahan alam ini dapat dijadikan sebagai alternatif obat kumur yang efek salah satunya sebagai antibakteri. Bakteri Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri penyebab periodontitis akibat faktor virulensi yang menginduksi peradangan jaringan periodontal. Obat kumur klorheksidin 0,2% merupakan obat kumur sebagai perawatan periodontitis, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas seduhan jahe merah (Zingiber officinale Rubrum) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Penelitian ini berupa eksperimental laboratorium secara in vitro dengan rancangan post-test only group design. Uji antibakteri dilakukan dengan metode dilusi dengan sampel seduhan jahe merah 5gram, 2,5gram, 1,25gram, 0,625gram, 0,3125gram, klorheksidin 0,2% sebagai kontrol positif, dan akuades sebagai kontrol negatif. Seduhan jahe merah memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Hasil rata-rata jumlah koloni seduhan jahe merah 5gram menghasilkan rata-rata terendah dibanding kelompok lainnya dan pada hasil uji Post Hoc Tukey HSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p < 0,05) dibandingkan kontrol negatif dan positif, sehingga kelompok seduhan jahe merah 5gram memiliki efek antibakteri yang tertinggi dibandingkan kelompok yang lain, namun tidak dapat melampaui klorheksidin 0,2%.
Gambaran Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Palmerah Tahun 2023–2024 Theresia, Tiarma Talenta; Lestari, Sri; Hutagaol, Mula Batiswa; Syauqi, Anindia Riana; Saraswati, Agrina Eka; Hamidjaja, Beverly Chloe; Prawira, Christian Adi; Marsenia, Elly; Dharma, Gracia Anindya; Amira, Khansa; Helza, Victoria Susantoputri Angenia
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v9i2.4129

Abstract

Pendahuluan: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi dalam waktu lama yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk wilayah urban seperti Kecamatan Palmerah. Kondisi ini dapat berdampak pada perkembangan fisik, kognitif, serta kualitas hidup anak di masa depan. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Palmerah tahun 2023–2024. Bahan dan metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data sekunder diperoleh dari rekapan Puskesmas Kecamatan Palmerah selama tahun 2023 hingga 2024. Sampel meliputi seluruh balita usia 0–59 bulan dari sepuluh kelurahan di wilayah kerja puskesmas. Variabel yang dianalisis mencakup usia, jenis kelamin, lokasi kelurahan, dan capaian program kesehatan. Analisis dilakukan untuk melihat distribusi stunting serta efektivitas program intervensi seperti ASI eksklusif, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang. Hasil penelitian: Hasil menunjukkan adanya penurunan jumlah balita stunting dari 9.640 kasus pada tahun 2023 menjadi 8.286 kasus pada tahun 2024. Kelompok usia 24–59 bulan merupakan kelompok dengan prevalensi stunting tertinggi, dengan dominasi kasus pada balita laki-laki. Kelurahan Palmerah I dan II tercatat sebagai wilayah dengan angka stunting tertinggi, sedangkan Slipi I dan II terendah. Program imunisasi dan pelayanan ibu hamil mencapai target >100%, sementara ASI eksklusif dan pemantauan tumbuh kembang masih belum mencapai target nasional. Kesimpulan: Prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Palmerah mengalami penurunan namun masih belum mencapai target nasional, sehingga perlu diperkuat upaya edukasi, pendampingan kader, dan sinergi lintas sektor secara berkelanjutan.