Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Isu Subordinasi Gender: Koloni Semut dalam Q.S. An-Naml: 18 Perspektif Tafsir Ilmi dan Teori Mubadalah Pratama, Masrul Maulana; Algifary, Muhammad Abizar; Hamid, Hasbi; Mujahid, Ahmad
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5091

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkonter penafsiran yang mensubordinasi peran perempuan dalam relasi gender melalui kajian terhadap Q.S. an-Naml: 18. Pemaknaan ayat-ayat al-Qur’an kerap bias terhadap dominasi laki-laki, seolah mengafirmasi superioritas gender tertentu. Namun, Q.S. an-Naml: 18 justru menampilkan semut betina sebagai pemimpin komunitasnya, sejalan dengan prinsip mubadalah yang menekankan ketersalingan peran tanpa subordinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna ayat tersebut melalui Perspektif tafsir ilmi serta teori mubadalah Faqihuddin Abdul Qodir guna menegaskan bahwa Islam tidak mendukung relasi gender yang timpang. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan serta teknik analisis deskriptif, penelitian ini mengintegrasikan kajian tafsir dan sosial untuk menelaah pola kerja semut yang mencerminkan sistem kerja berbasis fungsi, bukan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial semut dalam ayat ini memberikan pelajaran berharga bagi manusia dalam membangun relasi yang adil dan setara, tanpa konstruksi hierarki yang menindas. Tafsir ilmi Kemenag juga menegaskan bahwa ayat ini bukan sekadar kisah hewan, tetapi mengandung isyarat mendalam mengenai keseimbangan peran dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, kajian ini menegaskan bahwa Islam, sebagaimana tercermin dalam ayat ini, tidak mendukung relasi gender yang bersifat hegemonik, melainkan menekankan prinsip kesalingan yang adil dan harmonis.
Julia Kristeva Intertextual Reconfiguration of Interpretation of Rūḥ al-Qudus: An Analysis of Tafsīr ath-Ṭhabarī and al-Kabīr on Q.S. Al-Baqarah [2]:87 Pratama, Masrul Maulana; Erawati, Desi; Faridatunnisa, Nor; Mualimin, Mualimin
Jurnal Ushuluddin Vol 33, No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v33i2.38735

Abstract

This study is based on different interpretations of the concept of Rūḥ al-Qudus in classical and medieval exegesis. The aim of this study is to examine how this concept is presented in Tafsīr al-Ṭabarī and Tafsīr al-Rāzī and how Julia Kristeva's theory of intertextuality can illustrate the semantic relationships between the two. Through a qualitative-descriptive approach and an intertextual analysis of Jāmi‘ al-Bayān and al-Tafsīr al-Kabīr, this study concludes that al-Ṭabarī understands Rūḥ al-Qudus theocentrically and literally as the angel Jibrīl, i.e. as a divine mediator who acts as an enabler and bringer of revelations, based on the consensus of the traditions of the Companions and Tabi‘in. In contrast, al-Rāzī reinterprets this concept in a rational-philosophical manner, namely as quwwah rabbāniyyah, i.e. as a divine power that animates the spiritual consciousness ofhuman beings and enlivens their intellectual and moralcapacities. An intertextual analysis shows that al-Rāzī not onlyadopts al-Ṭabarī's view, but also undertakes a transformation ofmeaning through theological elaboration and metaphysicalspeculation, which expands the ontological position of Rūḥ al-Qudus in the discourse of revelation. This study contributes tointroducing the application of Kristeva's intertextuality model inexegesis and explaining the process of reconfiguring the meaningof Rūḥ al-Qudus in the intellectual dialogue between the classicaland medieval periods