Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GUS DUR’S IDEAS IN INFLUENCING POSTCOLONIAL ISLAMIC NUSANTARA THOUGHT Subekti, Fiqi Restu; Mutiullah
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 2 (2025): Vol. 2 No. 2 Edisi April 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i2.735

Abstract

The present article examines the influence of the thought of KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) on the formation of postcolonial discourse in the context of Islam Nusantara. In the postcolonial context, the Islamic construction of the Archipelago is inextricably linked to colonial epistemological legacies and the hegemony of external cultures, particularly Arabic. Gus Dur’s thought process can be understood as a deconstructive effort against the dichotomy between “pure” and “local” Islam that was created by colonial powers and puritan movements. It is evident that Gus Dur’s rejection of the uniformity of Arab culture as the sole representation of Islam was underpinned by a sharp critique of arabisation. As an alternative, he proffered the concept of Islamic pribumisation, defined as the adjustment of Islamic expression to local cultural values without sacrificing the substance of the teachings. Furthermore, Gus Dur placed significant emphasis on the necessity of contextualising Islamic teachings, emphasising the importance of re-evaluating Islamic values in accordance with the prevailing social and cultural dynamics of Indonesian society. It is asserted that an approach of this nature will engender the concepts of pluralism and tolerance, which will in turn serve as the primary foundations upon which religious life is to be constructed. The present study employs a qualitative approach, utilising critical discourse analysis of Gus Dur’s ideas and relevant supporting literature. The findings demonstrate that Gus Dur’s thought plays a significant role in formulating the paradigm of Islam Nusantara. This paradigm is characterised by its responsiveness to local realities, its transcendence of religious formalism, and its rehabilitation of cultural dignity as an integral part of Islamic expression. Consequently, the thought of Gus Dur constitutes a significant contribution to the development of a plural, humanist and contextual Islamic civilisation.
Kritik Plato terhadap Demokrasi: Telaah Filosofis dan Relevansi Kontekstual Delavia, Delavia; Mutiullah; Ramadan, Risky
Politeia: Jurnal Ilmu Politik Vol. 18 No. 1 (2026): Politeia: Jurnal Ilmu Politik
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/politeia.v18i1.21331

Abstract

Artikel ini mengkaji kritik filosofis Plato terhadap demokrasi sebagaimana tertuang dalam karya The Republic, dengan tujuan memahami relevansi kritik tersebut dalam konteks demokrasi modern. Kritik Plato sering dianggap sebagai serangan terhadap prinsip dasar demokrasi, terutama terkait kebebasan yang tidak terkendali, kepemimpinan yang tidak rasional, dan potensi degenerasi sistem menjadi tirani. Artikel ini menawarkan telaah terhadap pandangan Plato mengenai lima bentuk pemerintahan serta struktur ideal negara, yaitu kepemimpinan oleh filsuf yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka kualitatif dengan menganalisis teks primer The Republic serta literatur sekunder yang membahas dinamika demokrasi klasik dan kontemporer. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa kekhawatiran Plato terhadap populisme, rendahnya literasi politik, dan dekadensi kebebasan tetap relevan dalam membaca tantangan demokrasi masa kini. Meskipun bersifat elitis, pemikiran Plato memberikan perspektif alternatif yang kritis terhadap kelemahan demokrasi, serta menawarkan konsep kepemimpinan berbasis akal dan kebajikan moral. Artikel ini berkontribusi pada diskusi filosofis kontemporer dengan mengajak pembaca untuk merefleksikan ulang fondasi demokrasi serta pentingnya memperkuat kualitas moral dan intelektual dalam kepemimpinan politik.
Kritik Plato terhadap Demokrasi: Telaah Filosofis dan Relevansi Kontekstual Delavia, Delavia; Mutiullah; Ramadan, Risky
Politeia: Jurnal Ilmu Politik Vol. 18 No. 1 (2026): Politeia: Jurnal Ilmu Politik
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/politeia.v18i1.21331

Abstract

Artikel ini mengkaji kritik filosofis Plato terhadap demokrasi sebagaimana tertuang dalam karya The Republic, dengan tujuan memahami relevansi kritik tersebut dalam konteks demokrasi modern. Kritik Plato sering dianggap sebagai serangan terhadap prinsip dasar demokrasi, terutama terkait kebebasan yang tidak terkendali, kepemimpinan yang tidak rasional, dan potensi degenerasi sistem menjadi tirani. Artikel ini menawarkan telaah terhadap pandangan Plato mengenai lima bentuk pemerintahan serta struktur ideal negara, yaitu kepemimpinan oleh filsuf yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka kualitatif dengan menganalisis teks primer The Republic serta literatur sekunder yang membahas dinamika demokrasi klasik dan kontemporer. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa kekhawatiran Plato terhadap populisme, rendahnya literasi politik, dan dekadensi kebebasan tetap relevan dalam membaca tantangan demokrasi masa kini. Meskipun bersifat elitis, pemikiran Plato memberikan perspektif alternatif yang kritis terhadap kelemahan demokrasi, serta menawarkan konsep kepemimpinan berbasis akal dan kebajikan moral. Artikel ini berkontribusi pada diskusi filosofis kontemporer dengan mengajak pembaca untuk merefleksikan ulang fondasi demokrasi serta pentingnya memperkuat kualitas moral dan intelektual dalam kepemimpinan politik.