Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INTEGRASI ILMU KALAM, FIKIH, DAN TASAWUF DALAM PEMIKIRAN AL-GHAZALI: MEMBANGUN ISLAM YANG RASIONAL DAN SPIRITUAL Mila Maulida Barrotuzzahro; Agus Khunaifi
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 4 No 2 (2025): June Edition: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonform
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v4i2.344

Abstract

Al-Ghazali is a central figure in the history of Islamic thought who successfully integrated the three main branches of Islamic sciences—kalam (theology), fiqh (jurisprudence), and tasawwuf (mysticism)—into a unified and harmonious epistemological framework. He viewed kalam not merely as a tool to defend Islamic creed against external threats, but also as a rational foundation for spiritual purification and ethical development. For Al-Ghazali, true Sufism must be firmly rooted in the Qur’an and Sunnah, while avoiding metaphysical and speculative deviations such as hulul (indwelling), ittihad (union), and emanative cosmology influenced by Neoplatonism. Through his monumental works like Ihya’ ‘Ulum al-Din and Minhaj al-‘Abidin, he demonstrated how the synthesis of disciplines could yield an understanding of Islam that is both rational and legalistic, yet deeply ethical and spiritual. Rejecting extreme forms of Sufism that neglect outward Sharia obligations, he emphasized a balanced path that unites knowledge and practice, aiming ultimately at ma‘rifah (gnosis) and true happiness (sa‘adah). His integrative vision not only provided a robust foundation for classical Islamic scholarship but also remains profoundly relevant to contemporary Islamic intellectual and spiritual discourse. This article systematically examines Al-Ghazali’s integrative thought, while addressing both critiques and appreciations of his position within the broader spectrum of Islamic sciences.
Islamisasi Jawa Pada Kesultanan Demak: Telaah Historis Atas Peran Walisongo dan Kekuasaan Islam Awal Di Nusantara Frida Najihatul Anas1; Agus Khunaifi
AL-KAINAH: Journal of Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2025): Al-Kainah: Journal of Islamic Studies
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) STAI Miftahul Huda Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jis.v4i2.1494

Abstract

Latar Belakang: Proses Islamisasi di Jawa merupakan fenomena historis yang kompleks dan tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial-budaya masyarakat pra-Islam yang didominasi oleh tradisi Hindu–Buddha serta kepercayaan lokal. Salah satu fase penting dalam proses tersebut terjadi pada masa Kesultanan Demak, yang menandai peralihan kekuasaan sekaligus transformasi keagamaan masyarakat Jawa. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses Islamisasi Jawa pada masa Kesultanan Demak dengan menyoroti kondisi sosial-budaya pra-Islam, dinamika masuknya Islam melalui dakwah, peran strategis Walisongo dalam membentuk karakter Islam Nusantara, serta peninggalan Kesultanan Demak terhadap kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Jawa. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan historis-kualitatif, menganalisis sumber primer berupa kronik sejarah, naskah klasik, dan literatur sejarah Islam, serta sumber sekunder berupa buku dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil Penelitian: Hasil kajian menunjukkan bahwa Islamisasi Jawa pada masa Demak berlangsung secara bertahap dan damai melalui dakwah kultural yang adaptif terhadap budaya lokal. Walisongo berperan penting melalui pendidikan pesantren, seni, tradisi masyarakat, dan legitimasi politik, sehingga Islam diterima tanpa menimbulkan konflik sosial yang signifikan. Keberhasilan Islamisasi tersebut juga didukung oleh melemahnya Majapahit yang membuka ruang bagi berdirinya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Kesimpulan: Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan Islamisasi pada masa Kesultanan Demak merupakan hasil sinergi antara strategi dakwah kultural dan dukungan kekuasaan politik. Dampak jangka panjang dari proses ini tercermin dalam terbentuknya tradisi Islam Jawa yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap budaya lokal, yang hingga kini menjadi fondasi karakter sosial-keagamaan masyarakat Jawa
CODING GAMES AS A MEDIUM TO STIMULATE COMPUTATIONAL THINKING IN CHILDREN AGED 5-6 Amalia Destivani; Agus Khunaifi
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 1 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i1.7551

Abstract

This study aims to determine how coding games can be used as a medium to stimulate computational thinking in children aged 5–6 years at RA Hj. Sri Musiyarti. The study used data validity tests through observation, interviews, and documentation. The results showed that coding games can stimulate children's abilities in arranging sequences of steps, recognizing patterns, predicting the consequences of instructions, and performing simple debugging. This coding play activity also strengthens social skills such as cooperation, communication, and the ability to manage emotions during the problem-solving process. Coding games are an effective medium in stimulating the basics of computational thinking in early childhood and are suitable for integration into the Early Childhood Education curriculum to support children's readiness to face the demands of 21st-century learning.