Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak Berbasis Project Based Learning dalam Membentuk Karakter Profil Pelajar Pancasila di MTs Negeri Gresik: Penelitian Anis Nur Safitri; M.Muizzudin
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 3 Nomor 4 (April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v3i4.984

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang strategi pembelajaran Akidah Akhlak berbasis project-based learning dalam membentuk karakter profil pelajar pancasila di MTs Negeri Gresik. Tujuan dari penelitian yakni mengetahui apakah penggunaan strategi pembelajaran PjBL pada mata pelajaran Akidah Akhlak dapat membentuk karakter profil pelajar pancasila pada peserta didik. Strategi yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kelas VII A dengan jumlah peserta didik sebanyak 30 orang pada semester 2 tahun pelajaran 2024/2025. Teknik pengumpulan data menggunakan test bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, diakhir siklus dilakukan penilaian menggunakan lembar hasil belajar serta lembar observasi untuk mengetahui peningkatan karakter profil pelajar pancasila pada peserta didik pada materi beriman Kepada Allah swt dan berkebhinekaan. Teknik analisis data terbagi atas data kuantitatif yakni hasil belajar, dan data kualitatif yakni hasil observasi aktivitas guru dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PjBL dapat meningkatkan profil pelajar pancasila pada peserta didik. Pada tahap pra siklus persentase ketuntasan belajar klasikal sebanyak 30% (9 orang), kemudian meningkat pada siklus I sebanyak 50% (15 orang) dan pada siklus II mencapai 90% (27 orang). Penerapan PjBL juga dapat membentuk profil pelajar pancasila pada peserta didik dalam proses pembelajaran seperti pemecahan masalah, kerjasama, kreatifitas, dan kemampuan untuk berbicara didepan orang banyak melalui kegiatan presentasi serta dapat memahami perbedaan pada orang lain
Mapping The Contested Digital Space: A Bibliometric Analysis Of Religious Moderation And Extremism Counter-Narratives In Indonesian Millennial Studies Rodliatul Millah; M.Muizzudin; Imam Nur Aziz
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.42236

Abstract

This study provides a comprehensive bibliometric mapping of the contested digital landscape surrounding religious moderation and extremism counter-narratives, specifically focusing on Indonesian millennial studies. As digital platforms become the primary battlefield for ideological influencehis research evaluates how scholarly discourse has evolved to address the radicalization of the youth. Using a bibliometric approach, this study analyzed a significant corpus of high-quality documents indexed in the Scopus database from 2020 to 2025. Data visualization and thematic mapping were conducted to identify dominant subject areas, keyword co-occurrences, and the most influential research contributors. The results reveal a significant multidisciplinary shift; while traditionally a sociological concern, the field is now dominated by Computer Science (18.2%) and Engineering (16.4%), followed by Social Sciences (10.2%). This indicates that counter-extremism efforts are increasingly relying on algorithmic strategies and digital interventions. The thematic analysis highlights a "Digital-Wasathiyah" paradigm, where the integration of AI and data analytics is seen as vital for scaling moderate narratives. However, "blind spots" remain, particularly concerning the influence of Generative AI on religious authority and traditional learning models millennials. The study is limited to Scopus-indexed data. The findings imply that religious moderation in Indonesia is no longer just a theological challenge but a technological one, requiring a "human-centric" AI approach to preserve social cohesion.