Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Perilaku Hidup Bersih Sehat Dengan Kejadian Infeksi Kecacingan Soil Transmitted Helminth Di Daerah Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu: The Relationship Of Clean Healthy Living Behavior With The Incidence Of Soil Transmitted Helminth Worm Infections In The Integrated Waste Processing Place Mega Charisma, Acivrida; Aini, Jessica Dewi Nur; Puspita, Chelsea Dhea; Chairunnisa, Adellia; Yulianda, Siska; Klau, Adrigius Neno; Ekawasti, Fitrine
Binawan Student Journal Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Direktorat Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Dan Kerjasama Universitas Binawan (DPPMK Universitas Binawan)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54771/r10nw827

Abstract

Infeksi kecacingan Soil Transmitted Helminths (STH) prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia terutama di daerah yang memiliki lingkungan sanitasi buruk. Penyebab STH terbanyak di Indonesia adalah Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Perilaku hidup bersih sehat (PHBS) mencuci tangan, mengonsumsi air bersih, serta kebersihan lingkungan, dapat memengaruhi tingkat kejadian infeksi kecacingan. Potensi kecacingan di Desa Jabaran sangat tinggi karena kondisi lingkungan Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) yang belum sepenuhnya memenuhi standar sanitasi dan kebersihan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengevaluasi kaitan antara perilaku PHBS dan kejadian infeksi STH di TPST Desa Jabaran. Jenis penelitiannya adalah studi literatur. Artikel ini menunjukkan bahwa kurangnya perilaku PHBS meningkatkan risiko infeksi STH di daerah tersebut, dengan tingkat kejadian yang lebih tinggi di masyarakat yang tidak menerapkan kebiasaan hidup sehat. Faktor lingkungan TPST yang terkontaminasi juga berkontribusi pada penyebaran infeksi kecacingan.
Pengolahan Limbah Feses Sapi menjadi Kompos Blok (KOPIKO) Berbasis Zero waste yang Bernilai Ekonomis di Desa Wonosalam Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang Charisma, Acivrida Mega; Farida, Elis Anita; Kriswibowo, Rony; Gantari, Marsellyna Rahma; Puspita, Chelsea Dhea
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7528

Abstract

Limbah feses sapi merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah peternakan yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang merupakan daerah dengan populasi ternak sapi cukup tinggi sehingga menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan teknologi tepat guna pengolahan limbah feses sapi menjadi kompos blok (KOPIKO) berbasis zero waste yang memiliki nilai ekonomis dan ramah lingkungan. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, pendampingan teknis, serta evaluasi melalui pretest dan posttest terhadap indikator pengetahuan, sikap, keterampilan, dan ekonomi masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada seluruh indikator, yaitu pengetahuan meningkat dari 54,5 menjadi 88,0; sikap dari 65,0 menjadi 92,5; keterampilan dari 50,0 menjadi 90,0; dan pemahaman ekonomi dari 40,0 menjadi 85,0. Selain itu, kegiatan ini berhasil menurunkan volume limbah tak terolah hingga 80% serta memberikan tambahan pendapatan rata-rata Rp 3.000.000–Rp 4.500.000 per bulan bagi kelompok peternak. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, keterampilan teknis, dan kemandirian ekonomi masyarakat. Inovasi KOPIKO menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah peternakan berbasis zero waste serta berpotensi dikembangkan di wilayah lain dengan karakteristik serupa.  Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan peternak mengolah limbah feses sapi menjadi kompos blok bernilai ekonomis. Teknologi kompos blok yang diterapkan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan mitra. Model penerapan ini dapat direplikasi pada kelompok peternak lain untuk mendukung implementasi zero waste di wilayah pedesaan.