Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Cara-cara mempercepat penyembuhan luka takhfa nur asyifa; Syazili Mustofa; Helmi Ismunandar; Winda Trijayanthi
Medula Vol 12 No 4 (2022): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v12i4.531

Abstract

A wound is a disconnection of tissue continuity due to damage, or loss of tissue substance due to injury or surgery. wounds are the most common injuries found in our daily lives. there are 3 phases of wound healing process are inflammatory phase, proliferation phase and maturation phase. this process is influenced by many factors like patient factors, wound factors and local factors. in the wound healing process, there are several things that can accelerate wound healing are away from cigarettes, reducing stress, improving nutrition by adding supplements (protein, vitamins and minerals), control chronic disease, stop consume alcohol, prevent infections (wound dressings and antibiotik), and avoid medical drugs that can affect wound healing. by understanding the physiology of good wound healing, we can accelerate wound healing and minimize unwanted effects
Penatalaksanaan Holistik Anak Usia 11 Tahun dengan Parotitis Epidemika melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga Asyifa, Takhfa Nur; Ernawati, Tutik
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 3 (2025): Juni 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i3.6686

Abstract

Parotitis epidemika merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus paramyxovirus, ditandai dengan pembengkakan kelenjar saliva yang bersifat self-limiting dan menimbulkan rasa nyeri. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan saliva atau droplet di udara. Penatalaksanaan umumnya bersifat simptomatik, meliputi pemberian analgesik, kortikosteroid pada kasus berat, asupan cairan yang cukup, diet lunak, dan istirahat total. Studi ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan pelayanan dokter keluarga yang bersifat patient-centered, family-approach, dan community-based dengan berbasis Evidence-Based Medicine (EBM). Metode yang digunakan adalah laporan kasus pada pasien anak usia 11 tahun dengan diagnosis parotitis epidemika. Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, kunjungan rumah, serta telaah rekam medis pasien. Hasil studi menunjukkan adanya faktor risiko internal seperti usia, pengetahuan, pola hidup bersih dan sehat, hygiene pribadi, serta pola makan yang kurang baik. Faktor eksternal mencakup kurangnya pengawasan keluarga terhadap kebiasaan konsumsi jajanan anak. Intervensi dilakukan secara holistik menggunakan media edukatif berupa poster informasi penyakit. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa penatalaksanaan parotitis secara holistik, berbasis EBM, dan melibatkan peran keluarga serta komunitas dapat meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga, mendorong perubahan perilaku sehat, serta mencegah komplikasi lebih lanjut.
Legal Protection and Equitable Medical Services for People Living with HIV Asyifa, Takhfa Nur; Kantikha, I Made; Saragih, Horadin; Sembiring, Malemna Sura Annabertha
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1386

Abstract

Penelitian ini mengkaji implementasi pelindungan hukum dan penyediaan layanan medis yang adil bagi penderita HIV (ODHA) di RSUD Pringsewu, sebuah rumah sakit rujukan regional di Provinsi Lampung, Indonesia. Dengan pendekatan yuridis normatif yang didukung data empiris melalui wawancara dan observasi lapangan, penelitian ini bertujuan menelaah sejauh mana regulasi kesehatan nasional khususnya terkait asas non-diskriminasi, kerahasiaan medis, dan hak atas kesehatan diimplementasikan dalam praktik pelayanan rumah sakit sehari-hari. Temuan menunjukkan bahwa meskipun telah tersedia elemen struktural seperti jalur layanan khusus, distribusi ARV, dan layanan konseling, masih terdapat tantangan substansial. Tantangan tersebut antara lain perlindungan kerahasiaan pasien yang belum optimal, rendahnya pemahaman tenaga medis terhadap hak hukum pasien, serta belum tersedianya mekanisme pengaduan yang spesifik dan aman bagi ODHA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelindungan hukum bagi ODHA tidak cukup hanya dengan kepatuhan terhadap peraturan, melainkan harus diintegrasikan dengan etika profesional, akuntabilitas kelembagaan, dan budaya pelayanan yang berbasis hak asasi manusia. Untuk meningkatkan kualitas dan keadilan layanan, penelitian ini merekomendasikan penguatan pelatihan tenaga medis, perbaikan kebijakan internal, serta peningkatan kerja sama dengan masyarakat sipil. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggali dinamika kebijakan lintas tingkat serta hambatan sistemik dalam mewujudkan layanan kesehatan yang nondiskriminatif bagi ODHA