Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK GEOKIMIA AIR PANAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANATOMIC ABSORPTION SPRECTROPHOTOMETER (AAS), GEOTHERMOMETER DAN GEOINDIKATOR, STUDI KASUS: ULU BELU, KABUPATEN TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG Nurjanah, Anisa; Armandani, Aditya Raihan; Aulia, Khanaya Syafarah; Az zahra', Salmaa Aulia; Lestari, Suci Febria; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 1 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i1.60662

Abstract

Karakteristik geokimia fluida panas bumi berperan sebagai indikator utama dalam memahami kondisi reservoir dan mengevaluasi potensi energi panas bumi di suatu wilayah. Salah satu wilayah yang memiliki potensi panas bumi  berada di daerah Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur kimia, suhu reservoir geothermal dan jenis mata air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah AAS (Anatomic Absorption Sprectrophotometer), geotermometer dan geoindikator. Metode AAS digunakan untuk menganalisis kandungan unsur-unsur kimia dalam sampel air panas, geotermometer membantu dalam memperkirakan suhu reservoir, geoindikator digunakan untuk menentukan tipe air panas berdasarkan komposisi kimianya. Studi ini mengungkapkan terdapat 3 unsur yang dominan Magnesium (Mg2+) sebanyak 10,80 ppm, 12,79 ppm, dan 6,64 ppm, kemudian Kalsium (Ca2+) sebanyak 6,66 ppm. 8,15 ppm dan 11,90 ppm, Iron (Fe3+) sebanyak 1,22 ppm, 5,18 ppm, dan 17,35 ppm. Hasil pengolahan menggunakan geotermometer diperoleh estimasi suhu reservoir Ulu Belu antara 54,59 – 60,26°C. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pengaruh air permukaan ditunjukkan oleh tingginya kandungan magnesium dalam manifestasi air panas. Hasil pengolahan data dengan menggunakan  geoindikator didapatkan bahwa mata air panas yang berada pada lokasi penelitian bertipe immature water dengan kandungan Mg yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa sampel air panas telah tercampur dengan air tanah.
Studi Geomorfologi Daerah Kedungpoh dan Sekitarnya, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Lestari, Suci Febria; Harnani
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i1.1669

Abstract

The Kedungpoh area and its surroundings in Gunung Kidul Regency, Yogyakarta, are part of the Wonosari Basin, which exhibits complex geomorphological characteristics resulting from the interaction of lithology, geological structures, and exogenic processes. This study aims to identify landform units and analyze the geomorphic processes that contribute to the development of geomorphology in the study area. The methods employed include morphological, morphometric, and morphogenetic analyses through the interpretation of topographic maps, DEM data, and direct field observations. The results indicate that the analyzed area can be classified into seven main geomorphic units: Low Denudational Hills with Moderate Erosion, Denudational Hills with High Erosion, High Denudational Hills with High Erosion, Fault Zone Hills with High Erosion, Floodplain, Irregular Meandering Channel, and Lapilli Plain. The morphology of the study area is controlled by variations in Tertiary lithology, the development of major fault structures such as the Pilangrejo Fault and the Pengkol Fault, as well as intensive fluvial and denudational processes. The dominant geomorphic processes include denudation, fluvial activity, and volcanic deposition, with erosion intensity ranging from moderate to high. These findings provide insight into the dynamics of landform development in the Kedungpoh area, which are controlled by the interaction of geological structures, lithology, and ongoing geomorphic processes.