Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Harmoni Bunyi di Kota Kuali Adilla, Ivan
Puitika Vol. 20 No. 3 (2024): Edisi Khusus Pemetaan dan Pendokumentasian Warisan Tambang Batu Bara Ombilin S
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v20i3.623

Abstract

As a mining city, Sawahlunto was shaped by a variety of cultures. The city developed through the presence of workers from diverse cultural backgrounds. Over time, these different cultures interacted with one another. Through this process, some cultures coexisted harmoniously, while others merged to form new expressions as a result of acculturation. The arts, language, and way of life that emerged reflect the cultural processes that occurred. The cultural identity of Sawahlunto as a mining town exemplifies how the culture of mining or industrial communities is formed. This hybrid and heterogeneous identity holds intriguing cultural values, making it an interesting subject for further study to uncover insights into the process of cultural formation.
LINGKARAN TEMATIK/DISJUNGSI DALAM NOVEL TAMBO, SEBUAH PERTEMUAN, DENGAN INTERTEKSTUALITAS KRISTEVA Thematic Loop/Disjunction in the Novel Tambo, Sebuah Pertemuan with Kristeva's Intertextuality Mulyadi, Mulyadi; Adilla, Ivan; Sudarmoko, Sudarmoko
Salingka Vol 20, No 2 (2023): SALINGKA, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v20i2.1043

Abstract

  AbstrakSalah satu fungsi teks tambo Minangkabau adalah legitimasi tentang asal usul nenek moyang orang Minangkabau. Namun, novel Tambo, Sebuah Pertemuan (TSP) dalam ujaran-ujaran tokoh novel itu menolak keberterimaan legenda tokoh pendahulu dan asal-usul dan mula terbentuknya wilayah budaya Minangkabau. Tujuan artikel ini menentukan dua hal yang bertentangan atau dua jenis teks yang beroposisi dalam TSP, yaitu teks yang berasal dari legenda, epik, dan cerita rakyat, dan utamanya dari tambo Minangkabau; dan teks sejarah tentang Kerajaan Pagaruyung dan masanya. Artikel ini menelisik dua jenis teks itu secara intertekstualitas melalui satu konsepnya, yaitu disjungsi atau oposisi/lingkaran tematik (dua hal bertentangan). Dengan langkah intertekstualitas dari Kristeva, fungsi suprasegmental membahas modus ujaran novelistik dalam teks novel, kemudian dilanjutkan dengan lingkaran kedua yaitu lingkaran tematik atau oposisi/disjungtif. Secara umum terdapat oposisi di bawah dua istilah, yaitu teks legenda, mitos, epik, dan cerita rakyat; dan teks sejarah dan budaya. Jenis teks legenda, mitos, cerita rakyat, epik menandakan bentuk ideologeme simbol sebagai kutipan dan narasi pembentuk awal novel. Sementara TSP lebih ditujukan sebagai ideologeme tanda, yaitu menggabungkan teks legenda dan sejarah sebagai fungsi intertekstual dalam novel TSP. Jika penelitian dilanjutkan, ideologeme tanda menunjukkan pertemuan legenda yang mungkin menyamarkan sejarah pembentukan sistem sosial Minangkabau di masa Kerajaan Pagaruyung. Kata kunci: tambo Minangkabau, intertekstualitas, lingkaran tematik, konjungsi, ideologeme                         AbstractOne of the functions of the Minangkabau tambo text is to legitimize the origin of the ancestors of the Minangkabau people. However, the novel Tambo an encounter (TSP) in the utterances of the novel's characters rejects the acceptability of the legend of the predecessor figures and the origin and the beginning of the formation of the Minangkabau cultural region. The purpose of this article is to determine the two opposing texts in TSP: those derived from legends, epics and folktales, and primarily from the Minangkabau tambo; and historical texts about the Kingdom of Pagaruyung and its times. This article examines these two types of texts in intertextuality through one concept, namely disjunction or opposition/thematic loop (two opposites). With Kristeva's intertextuality step, the suprasegmental function discusses the novelistic mode of speech in the novel text, then proceeds with the second loop, namely the thematic loop or opposition/disjunctive. In general, there is opposition under two terms, namely the texts of legends, myths, epics, and folklore; and historical and cultural texts. The text types of legends, myths, folktales, epics signify the ideologeme form of symbols as quotations and narratives forming the beginning of the novel. While TSP is more intended as a sign ideologeme, which combines legend and history texts as an intertextual function in the novel TSP. If the research is continued, the sign ideologeme shows the encounter of legends that may disguise the history of the formation of the Minangkabau social system in the past. Keywords: tambo Minangkabau, intertextuality, thematic loops, conjunction, ideologeme
Kepribadian Tokoh Aku dalam Novel Telegram Karya Putu Wijaya: Tinjauan Psikologi Sastra Zamora, Arinda Camelily; Syafril, Syafril; Adilla, Ivan
Puitika Vol. 17 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.17.2.45-70.2021

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi untuk menemukan kepribadian tokoh Aku menggunakan analisis teori psikoanalisis Sigmund Freud, untuk mengetahui penyebab tokoh Aku mengalami gangguan pada kepribadiannya, dan juga untuk mengetahui dugaan gangguan yang terjadi pada tokoh Aku dalam novel Telegram karya Putu Wijaya. Penelitian ini menggunakan tinjauan Psikologi Sastra, dengan teori Psikoanalisis Sigmund Freud. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik pengumpulan  data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan teknik catat.Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tokoh Aku memiliki kepribadian suka menghayal dan memiliki gangguan kecemasan neurotik yang disebabkan lemahnya ego yang dimiliki dan id yang cenderung mendominasi. Gangguan kecemasan neurotik yang diderita oleh tokoh Aku disebabkan karena ia tidak dapat berfikir dengan jelas, sehingga ia sulit membedakan antara realita dengan khayalan. Maka sebab itulah fungsi ego sebagai pengambil kepurtusan menjadi lemah karena kebingungan yang diderita akibat terlalu sering menghayal.
Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Lampuki Karya Arafat Nur: Tinjauan Psikologi Sastra Alfajri, Rega Maulana; Adilla, Ivan; Zurmailis, Zurmailis
Puitika Vol. 17 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.17.2.99-104.2021

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kaitan konflik batin tokoh utama dengan pengarang pada novel Lampuki karya Arafat Nur. Untuk mendapatkan hasil tersebut digunakan teori psikologi sastra dengan menggunakan teori psikoanalisis Jacques Lacan. Metode penelitian yang digunakan analisis deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan data-data yang sudah diidentifikasi melalui proses pembacaan berulang-ulang.Dalam analisis deskriptif ini, data yang diperoleh dicatat dan dipilih berdasarkan masalah yang akan dibahas. Analisisnya dilakukan dengan menganalisis dan mendeskripsikan beberapa unsur struktural dalam cerpen kemudian dilanjutkan dengan menganalisis konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa bentuk konflik batin tokoh utama dalam novel Lampuki terjadi disebabkan oleh kegelisahan dan ketakukan yang dipicu oleh lingkungan sekitar dan orang yang berada di dekatnya. Novel ini juga merupakan bentuk refleksi dari pengalaman hidup pengarang yang tumbuh saat gejolak politik yang terjadi di Aceh.
Citra Kota Padang Dalam Puisi Padang Kota Tercinta Dan Perjalanan Senjakala Karya Leon Agusta (Tinjauan Semiotika Riffaterre) Hayati, Fadhillah; Adilla, Ivan; Sudarmoko, Koko
Puitika Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v19i2.205

Abstract

One of the nicknames for Padang City is Padang Kota Tercinta. This name was born from a poem by Leon Agusta. Leon Agusta's poems that contain Padang Kota Tercinta, namely the poems entitled "Padang Kota Tercinta" and "Perjalanan Senjakala". To explain the meaning and image of Padang City in the two poems, this research was conducted using semiotic theory and methodology proposed by Riffaterre, namely heuristic and hermeneutic reading. Based on the research that has been conducted, it is concluded that the matrix in the poem "Padang Kota Tercinta" is the image of Padang City struggling in the transition of modern times, and the matrix of the poem "Perjalanan Senjakala" is the image of Padang City struggling in the name of the love of Padang Kota Tercinta. Both poems reveal the changes of Padang City as it develops towards Modern Civilisation as its image. The dynamics of people's lives that begin to change, from traditional to modern, are tied to the Padang City area and the nickname of Padang Kota Tercinta. These two poems are related through the similarity of the lyricist who is referred to in the poem as The Wanderer. From his wanderings, the dynamics of human life are told as a form of love for Padang City.Keywords: Poems, Image of Padang City, Leon Agusta, Riffaterre's Semiotics, and Love.
Adaptasi Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Ke Film Bumi Manusia Sutradara Hanung Bramantyo Mardianti, Jenefri; Syafril, Syafril; Adilla, Ivan
Puitika Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v19i2.225

Abstract

This research was motivated by the author’s interest in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer, which was previously banned, then in 2019 it was filmed with the same title, namely Bumi Manusia, directed by Hanung Bramantyo. The activity of adapting a novel to a film will cause a change. These changes concern a number of ideological elements in each work. This research discusses how the ideology of the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer was adapted to the film Bumi Manusia directed by Hanung Bramantyo. This research objective  to explain how the ideological adaptation of the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer was adapted to the film Bumi Manusia directed by Hanung Bramantyo. This research was conducted using Linda Hutcheon's theory. This theory is used to discover and explain story adaptations and ideological adaptations from novels and films. This research uses qualitative methods by obtaining written data from both novel and film media that refer to social problems. The techniques used are data collection, data analysis, and presentation of data analysis results.From the research carried out, it was concluded that in the adaptation of the novel Bumi Manusia to the film Bumi Manusia, changes occurred which included reducing and adding characters, eliminating several events, changing the setting and storyline. Meanwhile, the ideological adaptation is that the novel Bumi Manusia is based on political and social ideology, while the film Bumi Manusia is based on economic ideology.