Afiyah, Anggi Nur
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KOLABORASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPAS SD Afiyah, Anggi Nur; Zulkarnaen, Zulkarnaen
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5033

Abstract

Science learning at SDN 04 Nagur still faces various challenges, including the dominance of the teacher's role, low active student participation, and minimal integration of local values ??in the learning process. The impact is seen in the low development of students' skills in critical thinking and effective collaboration. As an effort to overcome these problems, a guided inquiry learning model is applied which is designed to develop 21st century skills through stages of scientific thinking and group cooperation. The purpose of this study is to analyze the effectiveness of the application of the guided inquiry learning model in improving critical thinking and collaboration skills of students in class VI B SDN 04 Nagur. This study relies on a qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation to explore the application of the guided inquiry model that is adjusted to student characteristics, such as interests, learning styles, levels of understanding and age of students at the concrete operational stage. Based on the results of the study, it is known that the guided inquiry model has proven effective in increasing student involvement during learning, developing their abilities in formulating problems, compiling data-based solutions, and instilling awareness of local cultural values. However, some obstacles faced such as low student confidence during presentations, and lack of initial understanding of local culture. The solutions implemented include the use of scaffolding, peer tutoring, think-pair-share strategies, and the integration of local values ??into learning materials. The conclusion of this study shows that the implementation of the guided inquiry learning model is effective in improving students' critical thinking and collaboration skills, and is relevant to be applied in contextual science learning based on local characters. ABSTRAKPembelajaran IPAS di SDN 04 Nagur masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain dominasi peran guru, rendahnya partisipasi aktif siswa, dan minimnya integrasi nilai-nilai lokal dalam proses pembelajaran. Dampaknya terlihat pada rendahnya perkembangan keterampilan siswa dalam berpikir kritis serta kolaboratif secara efektif. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 melalui tahapan berpikir ilmiah dan kerja sama kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa di kelas VI B SDN 04 Nagur. Penelitian ini mengandalkan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengeksplorasi penerapan model inkuiri terbimbing yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, seperti minat, gaya belajar, tingkat pemahaman serta usia siswa pada tahap operasional konkret. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa model inkuiri terbimbing terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa selama pembelajaran, mengembangkan kemampuan mereka dalam merumuskan masalah, menyusun solusi berbasis data, serta menanamkan kesadaran akan nilai budaya lokal. Meski demikian, beberapa hambatan yang dihadapi seperti rendahnya rasa percaya diri siswa saat presentasi, serta kurangnya pemahaman awal terhadap budaya lokal. Solusi yang diterapkan antara lain penggunaan scaffolding, peer tutoring, strategi think-pair-share, serta integrasi nilai-nilai lokal ke dalam materi pembelajaran. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa, serta relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran IPAS kontekstual berbasis karakter lokal.
ANALISIS PERBANDINGAN KURIKULUM INDONESIA DAN NEGARA MAJU DALAM KONTEKS KUALITAS PEMBELAJARAN Anggraini, Alif Tulusiyah; Afiyah, Anggi Nur; Milosopa, Erna; Widiastari, Ni Gusti Ayu Putu; Henlong, Theresia; Fitri, Salsabila Annisa
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.8900

Abstract

Basic education is a crucial foundation for the quality of student learning, but cross-national literature indicates that educational success is determined more by consistent implementation and a teacher support ecosystem than simply by the completeness of curriculum documents. This study aims to compare the characteristics, philosophies, and success factors of basic education curricula in Indonesia, Singapore, and Japan, with a focus on their impact on learning quality. Using the Systematic Literature Review (SLR) method with the PRISMA protocol, this study examined 20 selected journal articles from 2015–2025 that had passed due diligence and quality assessment. Thematic analysis grouped the findings into aspects of curriculum orientation, teacher development, character internalization, and technology integration. The synthesis revealed that Singapore implements curriculum efficiency by reducing content breadth for the sake of conceptual depth, supported by research-based teacher development. Japan maintains quality through the internalization of culturally ingrained moral values ??and the improvement of collaborative teaching through lesson study. Meanwhile, Indonesia has an adaptive curriculum policy design but faces the challenge of inconsistent implementation due to the high administrative burden on teachers and resource gaps. The main conclusion emphasizes that the effectiveness of the curriculum is highly dependent on a support system that is able to maintain the teacher's pedagogical space and regular evaluation of learning experiences at the classroom level, not just on changes to formal documents. ABSTRAK Pendidikan dasar merupakan fondasi krusial bagi mutu pembelajaran siswa, namun literatur lintas negara mengindikasikan bahwa keberhasilan pendidikan lebih ditentukan oleh konsistensi implementasi dan ekosistem pendukung guru daripada sekadar kelengkapan dokumen kurikulum semata. Penelitian ini bertujuan mengkomparasikan karakteristik, filosofi, serta faktor keberhasilan kurikulum pendidikan dasar di Indonesia, Singapura, dan Jepang, dengan fokus pada dampaknya terhadap kualitas pembelajaran. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA, kajian ini menelaah 20 artikel jurnal terpilih dari rentang tahun 2015–2025 yang telah lolos uji kelayakan dan penilaian kualitas. Analisis tematik mengelompokkan temuan ke dalam aspek orientasi kurikulum, pembinaan guru, internalisasi karakter, dan integrasi teknologi. Hasil sintesis mengungkapkan bahwa Singapura menerapkan efisiensi kurikulum dengan mereduksi keluasan konten demi kedalaman pemahaman konsep, didukung oleh pembinaan guru berbasis riset. Jepang memelihara mutu melalui internalisasi nilai moral yang membudaya serta perbaikan pengajaran kolaboratif melalui lesson study. Sementara itu, Indonesia memiliki desain kebijakan kurikulum yang adaptif namun menghadapi tantangan inkonsistensi implementasi akibat tingginya beban administratif guru dan kesenjangan sumber daya. Simpulan utama menegaskan bahwa efektivitas kurikulum sangat bergantung pada sistem pendukung yang mampu menjaga ruang pedagogis guru serta evaluasi pengalaman belajar secara berkala di tingkat kelas, bukan hanya pada perubahan dokumen formal.