This study analyzes the application of visual composition in the production of a documentary film titled “Belajar dari Tanah Adat Baduy.” As an audiovisual work that captures reality, the documentary plays a strategic role as an educational medium and a catalyst for raising social awareness. Videographers bear a crucial responsibility in operating cameras professionally, where mastery of cinematographic techniques including the selection of camera angles and shot sizes is a key element in reinforcing the narrative and fostering the audience’s emotional engagement. This qualitative study employs observation, active participation, interviews, and literature review to explore how visual composition techniques are applied in capturing the traditional educational system and daily life of the Baduy community. The findings indicate that the use of objective camera angles and varied shot sizes effectively helps viewers understand the unique culture and educational values upheld by the Baduy community. This study emphasizes that precise camera framing is a crucial pillar in achieving effective visual communication, capable of bridging cultural messages and enhancing the final quality of a documentary workStudi ini menganalisis penerapan aspek komposisi gambar dalam proses produksi film dokumenter berjudul "Belajar dari Tanah Adat Baduy". Sebagai karya audiovisual yang merekam realitas, film dokumenter berperan strategis sebagai media edukasi dan penggerak kesadaran sosial masyarakat. Videografer memegang tanggung jawab krusial dalam mengoperasikan kamera secara profesional, di mana penguasaan teknik sinematografi termasuk pemilihan sudut pandang dan ukuran gambar menjadi elemen penting untuk mempertegas narasi serta membangun keterlibatan emosional penonton. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi, partisipasi aktif, wawancara, dan studi pustaka untuk mengeksplorasi bagaimana teknik komposisi visual diterapkan dalam memotret sistem pendidikan tradisional dan kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan objective camera angle serta variasi shot size secara efektif guna membantu penonton memahami keunikan budaya dan nilai pendidikan yang dianut masyarakat Baduy. Penelitian ini menekankan bahwa penataan kamera yang presisi merupakan pilar penting dalam mewujudkan komunikasi visual yang efektif, mampu menjembatani pesan kultural, serta memperkuat kualitas akhir dari sebuah karya dokumenter.