Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

DIGITAL ELEVATION MODEL (DEM) ASTER UNTUK MENGHITUNG VOLUME LUMPUR LAPINDO Taufik , Muhammad; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1269

Abstract

Peristiwa semburan lumpur panas di lokasi pengeboran PT. Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi sejak 27 Mei 2006. Hal ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, dan mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Oleh karena semburan lumpur lapindo sampai sekarang belum bisa teratasi maka jumlah volume lumpur lapindo dari waktu ke waktu bertambah semakin besar. Hal ini memerlukan penanganan yang serius terkait dengan pembuangan lumpur. Untuk itu diperlukan suatu informasi yang cepat dan akurat tentang berapa jumlah volume semburan lumpur lapindo per hari Salah satu teknologi yang digunakan untuk menghitung volume lumpur lapindo dari waktu ke waktu (time series) adalah teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dengan memanfaatkan citra ASTER. Dengan citra ASTER, dapat diperoleh informasi secara visual, spasial, digital dan multi temporal dari waktu ke waktu sehingga monitoring dan evaluasi kondisi lingkungan wilayah genangan lumpur dapat dilakukan secara cepat. Hasil perhitungan volume melalui data citra ASTER tanggal 1 Juli 2006 dan 3 September 2006 menunjukkan bahwa volume semburan lumpur Lapindo pada kurun waktu tersebut adalah sebesar 145 ribu m3/hari
ANALISA KESALAHAN LINIER KERANGKA KONTROL HORIZONTAL DENGAN MENGGUNAKAN VISUAL BASIC 6.0 P, Rizaldy; Taufik , Muhammad; M, Mansur
GEOID Vol. 5 No. 1 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v5i1.1279

Abstract

Pengukuran merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan untuk memperoleh suatu data pengamatan, terutama pengukuran kerangka kontrol horizontal yang merupakan kerangka dasar pemetaan untuk memperlihatkan posisi horizontal (X dan Y) antara satu titik terhadap titik yang lain di permukaan bumi pada bidang datar. Metode yang di gunakan untuk penentuan posisi horizontal adalah metode poligon. Salah satu metode pengukuran kerangka kontrol horizontal (x dan y) dengan menggunakan poligon terbuka terikat tidak sempurna adalah dengan menggunakan metode pendekatan. Metode pendekatan adalah metode pengukuran yang kedua ujungnya terikat koordinat yaitu memilki satu koordinat titik awal dan satu koordinat titik akhir. Jenis metode ini tidak mempunyai koreksi sudut tetapi mempunyai koreksi koordinat. Pengukuran kerangka kontrol horizontal dengan metode pendekatan ini dilakukan di tiga jalur yang berbeda-beda sehingga bisa diketahui besar koreksi koordinat masing-masing titik di setiap jalur kerangka kontrol horizontal. Analisa kesalahan linier dengan menggunakan metode pendekatan dihitung menggunakan software microsoft visual basic 6.0 dan hasil perhitungan dengan software microsoft visual basic 6.0 digunakan untuk menganalisa besar koreksi koordinat di tiap-tiap titik di jalur kerangka kontrol horizontal yang berbeda.
STUDI KAWASAN KERENTANAN LONGSOR DANAU MANINJAU, KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT Martia, Nur; Taufik , Muhammad
GEOID Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v7i2.1345

Abstract

Perpindahan atau pergerakan batuan, massa, tanah secara menurun menuju bagian bawah suatu lereng disebut longsor. Tanah longsor dapat terjadi pada material tanah, batuan, atau campuran dari keduanya. Gerakan massa adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, miring, atau mendatar dari kedudukan semula yang diakibatkan oleh gangguan keseimbangan massa pada saat itu yang bergerak ke arah bawah melalui bidang gelincir dan material pembentuk lereng. Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Bencana tanah longsor sering terjadi di Indonesia, sejak rangkaian bencana gempa bumi yang terjadi di Sumatra Barat, menyebabkan pergerakan tanah yang menyebabkan longsor. Hal ini membuat masyarakat sekitar Danau Maninjau yang dikelilingi bukit harus mencari tempat tinggal baru akibat longsor karena gempa bumi tahun 2009 lalu dan waspada akan bencana longsor yang akan menimpa kembali daerah Danau Maninjau. Penelitian ini menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan meng-overlay peta tematik dan metode scoring. Data yang digunakan yaitu Peta RBI Padang skala 1:50.000, Peta Geologi Padang skala 1:250.000 Tahun 1996, Data Curah Hujan Harian Danau Maninjau tahun 2000, dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar Padang skala 1:250.000 tahun 1990. Hasil dari penelitian ini didapatkan, bahwa telah terjadi longsor dengan tingkat status bencana yang berbeda-beda (tingkat rendah, sedang, dan tinggi). Dari penelitian ini didapatkan informasi tingkat kerawanan longsor yaitu tingkat kerawanan sedang seluas 38.588.113,04 m2, kerawanan tinggi seluas 15.043.912, 34m2, dan daerah tingkat sangat rawan seluas 78.759.878,88 m2
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI PARIWISATA BERBASIS WEB DAN ANALISA POTENSI PARIWISATA DI KABUPATEN PACITAN Satoto , Gilang; Taufik , Muhammad
GEOID Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v7i2.1349

Abstract

Pacitan mempunyai peluang yang cukup prospektif untuk dikembangkan menjadi industri pariwisata yang mampu bersaing dengan pariwisata di daerah lain. Potensi pariwisata tersebut meliputi wisata pantai, wisata goa, wisata budaya/religius, wisata rekreasi dan wisata industri. Salah satu publikasi dan promosi wisata Kabupaten Pacitan dilakukan melalui internet, namun informasi yang ada dalam web tersebut belum maksimal karena kurangnya penyajian Sistem Informasi Geografis (SIG) mengenai potensi wisata di Kabupaten Pacitan. Oleh karena itu perlu dilakukan pembuatan SIG potensi wisata di Kabupaten Pacitan berbasis web, agar pariwisata Kabupaten Pacitan dapat dikenal luas dan banyak dikunjungi oleh wisatawan Indonesia dan juga wisatawan mancanegara. Dalam penelitian ini, data spasial yang digunakan adalah peta RBI Kabupaten Pacitan tahun 1999 skala 1:25.000 sebanyak 17 sheet, citra satelit Kabupaten Pacitan yang diperoleh dari Google Earth, dan data non spasial berupa data tabular tentang objek wisata Kabupaten Pacitan, data kunjungan wisatawan, serta data kondisi jalan Kabupaten Pacitan. Dari data terebut akan diolah menjadi SIG yang akan diintegrasikan ke web, kemudian dilakukan analisa potensi wisata di Kabupaten Pacitan menggunakan metode SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat). Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi SIG potensi wisata kabupaten pacitan berbasis web GIS yang sudah diintegrasikan dengan baik. Selain itu, dari hasil analisa SWOT dapat diketahui tingkat daya tarik dan potensial wisata tersebut berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga diharapkan mampu menjadi model dasar bagi pemerintah Kabupaten Pacitan untuk meningkatkan sarana prasarana serta infrastruktur dalam pengembangan obyek wisata tersebut.
ANALISIS RONA AWAL LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS :DAERAH EKSPLORASI GEOTHERMAL KECAMATAN SEMPOL, BONDOWOSO) Firdaus , Hana Sugiastu; Taufik , Muhammad; Utama, Widya
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1393

Abstract

Rona awal lingkungan merupakan kondisi lingkungan yang berupa kondisi alam atau komponen-komponen lingkungan awal sebelum perencanaan dan pembangunan fisik dimulai . Sebelum melakukan kegiatan eksplorasi geothermal, penguraian rona awal lingkungan sangatlah diperlukan sebagai dasar dari upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL&UPL) dalam meniminamalisir dampak yang ditimbulkan. Penguraian rona awal lingkungan pada penelitian ini didapat dari pengolahan citra Landsat 7 ETM+ untuk mendapatkan gambaran kondisi tutupan lahan dan kerapatan vegetasi di area studi, serta data sekunder sebagai pelengkap komponen lingkungan lainnya. Penentuan nilai kerapatan vegetasi didasarkan dari tutupan lahan yang dominan yaitu perkebunan, hutan dan semak belukar. NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) merupakan algoritma yang digunakan dalam penentuan kerapatan vegetasi. Dua algoritma yang digunakan dikorelasikan dengan suhu permukaan tanah (SPT) untuk mendapatkan algoritma yang terbaik dalam penentuan kerapatan vegetasi . Korelasi terbaik untuk area perkebunan dan hutan didapatkan dari algoritma NDVI sedangkan SAVI untuk semak belukar. Area studi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur.
INVENTARISASI JARINGAN PIPA PDAM KABUPATEN SITUBONDO DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM INFORMASI GEORAFIS (SIG) Taufik , Muhammad; Kurniawan , Akbar; Seftiara, Ginta Widya
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1568

Abstract

PDAM Tirta Baluran di Kabupaten Situbondo, dalam rangka meningkatkan kinerja pelayanan, perlu merencanakan pengembangan jaringan distribusi yang menjamin ketersediaan air secara menerus. Dari sisi pelaksanaan di lapangan, informasi dan data akan kondisi sistem jaringan distribusi; sangat diperlukan juga untuk pengelolaan aset. Pengelolaan aset bagi PDAM Tirta Baluran merupakan upaya manajamen jaringan pipa dalam lingkup PDAM yang tidak dapat dikelola secara konvensional. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis menggunakan perangkat lunak Visual Basic merupakan teknologi yang dimanfaatkan untuk inventarisasi terhadap jaringan pipa yang ada di Kabupaten Situbondo dan dapat dikembangkan sebagai alat untuk manajemen dan pembangunan PDAM. Berdasarkan hasil penelitian, saat ini PDAMA Tirta Baluran memiliki jaringan pipa primer mempunyai panjang 18,177 km dan pipa sekunder sepanjang 18,0432 km. Jaringan pipa tersebut hanya ada di (3) tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Situbondo, Kecamatan Panji, dan Kecamatan Panarukan.