Bambang Tri Laksono
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Efektivitas Penyembuhan Luka Sayat Ekstrak dan Fraksi Ekstrak Daun Mahkota Dewa Inka Siti Rabiah, Inka Siti Rabiah; Suwendar; Bambang Tri Laksono
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i1.6741

Abstract

Abstract. Wounds are a condition characterized by damage to body tissue. This study was motivated by the high prevalence of wounds based on Riskesdas 2018 showing the prevalence of cuts in Indonesia at 20.1% of the population. This study aims to determine the wound healing activity of the extract and fraction of the mahkota dewa leaf extract (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) and to determine the effectiveness of the extract and fraction of mahkota dewa leaf extract on wound healing using male Swiss webster gallus mice. The method used in this test is incision induction with a length of 1.5 cm. In this study, the wound healing activity of the extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction were tested with successive concentrations of 5%. The results showed that the extract and fraction of the extract had wound healing activity, seen based on wound closure on the 3rd to 14th day. The n-hexane fraction had the best effect on wound healing because it was detected to have metabolite compounds, namely alkaloids, flavonoids, polyphenols, quinones, and steroids. Based on statistical tests, there was a significant difference (P<0.05) against the comparison group. Abstrak. Luka merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan kerusakan pada jaringan tubuh. Penelitian dilatar belakangi oleh tingginya prevalensi luka berdasarkan Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi luka sayat di indonesia sebesar 20,1% jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Aktivitas penyembuhan luka dari ekstrak dan fraksi ekstrak daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) dan mengetahui efektivitas antara ekstrak dan fraksi ekstrak daun mahkota dewa terhadap penyembuhan luka dengan menggunakan mencit jantan galus swiss webster. Metode yang digunakan pada pengujian ini yaitu induksi sayat dengan panjang 1,5 cm. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas penyembuhan luka pada ekstrak, fraksi n-hexan, fraksi etil asetat, dan fraksi air dengan konsentrasi berturut-turut 5%. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi ekstrak memiliki aktivitas penyembuhan luka, dilihat berdasarkan adanya penutupan luka pada hari ke-3 hingga hari ke-14. Adapun fraksi n-hexan memiliki efek paling baik dalam penyembuhan luka karena terdeteksi memiliki senyawa metabolit yaitu alkaloid, flavonoid, polifenol, kuinon, dan steroid. Adapun berdasarkan uji statistik terdapat perbedaan yang signifikan (P<0,05) terhadap kelompok pembanding. 
Keamanan Proton Pump Inhibitor (PPI) pada Kehamilan : Kajian Literatur Sistematik Tria Septiani, Tria Septiani; Fetri Lestari; Bambang Tri Laksono
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i1.6742

Abstract

Abstract. Proton pump inhibitors (PPIs) are commonly used drugs in the management of chronic diseases such as GERD, gastritis, and peptic ulcers. However, physiological changes in pregnant women lead to changes in the long-term safety of PPI use. The purpose of this study was to review the safety of PPIs in pregnancy to identify potential adverse drug reactions (ROTDs) that can be taken into consideration in clinical practice. The method used was a systematic literature review conducted by searching for articles in the last 10 years using the PubMed and Science Direct databases. Then filtering articles using Mendeley and critical appraisal with JBI tools to identify potential bias in each article. Three were a total of 3 articles that discussed the use of PPIs in pregnant patients that met the inclusion and exclusion criteria. The results of the literature study from the three articles discussed ROTD due to the use of PPIs during pregnancy, namely preeclampsia, eclampsia, and congenital malformations due to esomeprazole. Abstrak. Proton Pump Inhibitor (PPI) merupakan obat yang umum digunakan dalam penanganan penyakit kronis seperti GERD, gastritis, dan tukak lambung. Namun, perubahan fisiologis pada ibu hamil menyebabkan perubahan keamanan jangka panjang dari penggunaan PPI. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menelaah keamanan PPI pada kehamilan sehingga dapat mengidentifikasi potensi reaksi obat tidak diinginkan (ROTD) yang dapat menjadi pertimbangan pelaksanaan praktik klinis. Metode yang digunakan yaitu kajian literatur sistematik yang dilakukan dengan pencarian artikel dalam 10 tahun terakhir menggunakan database PubMed dan Science Direct. Kemudian dilakukan penyaringan artikel menggunakan Mendeley dan critical apprisal dengan tools JBI untuk mengidentifikasi potensi bias pada setiap artikel. Terdapat total 3 artikel yang membahas mengenai penggunaan PPI pada pasien ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil studi literatur dari ketiga artikel membahas mengenai ROTD akibat penggunaan PPI selama kehamilan yaitu preeklampsia, eklampsia, dan malformasi kongenital akibat esomeprazole.
Hubungan Kualitas Hidup dengan HbA1c Pasien Pengguna Antidiabetes Oral di RSUD Bandung Kiwari 10060321013, Lutfi Anggita; Fetri Lestari; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v5i2.18929

Abstract

Abstract. Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a progressive chronic disease that requires long-term Oral Antidiabetic Drugs (OAD) therapy which impacts quality of life. Decreased quality of life in T2DM patients is often associated with uncontrolled HbA1c levels. This study aims to analyze the relationship between the quality of life of patients using oral antidiabetic drugs and HbA1c levels. This study was conducted at Bandung Kiwari Hospital during April 2025 using an analytical observational approach based on cross-sectional method. Data were collected through the Diabetes Quality of Life Brief Clinical Inventory (DQoL-BCI) questionnaire, which evaluates the physical, psychological, and social and environmental health aspects of T2DM patients. HbA1c levels were known through medical records. The results showed that patients' quality of life was poor with an average score of 52.50. And there is no significant relationship between the quality of life of T2DM patients using oral antidiabetic drugs with HbA1c levels statistically with a p-value> 0.05. Abstrak. Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) adalah penyakit kronis progresif yang memerlukan terapi Oral Antidiabetic Drugs (OAD) jangka panjang yang berdampak pada kualitas hidup. Penurunan kualitas hidup pasien DMT2 sering kali dihubungkan dengan kadar HbA1c yang tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas hidup pasien pengguna antidiabetes oral dengan kadar HbA1c. Studi ini dilakukan di RSUD Bandung Kiwari selama periode April 2025 menggunakan pendekatan observasional analitik berbasis metode cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner Diabetes Quality of Life Brief Clinical Inventory (DQoL-BCI), yang mengevaluasi aspek kesehatan fisik, psikologis, serta hubungan sosial dan lingkungan pasien DMT2. Kadar HbA1c diketahui melalui rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan kualitas hidup pasien cukup buruk dengan skor rata-rata 52,50. Serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas hidup pasien DMT2 pengguna obat antidiabetes oral dengan kadar HbA1c secara statistik dengan nilai p-value >0,05.
Profil Pasien DM Tipe 2 dengan Neuropati Pengguna OAD di RSUD Bandung Kiwari 10060321003, Dela Kurniasih; Umi Yuniarni; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v5i2.18934

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease that can cause various complications, one of which is diabetic neuropathy. This complication is common in patients with type 2 DM and requires long-term treatment, including the use of oral antidiabetic drugs (OAD). This study aims to determine the profile of patients with type 2 diabetes mellitus with neuropathy complications who use OAD at Bandung Kiwari Regional Hospital. This is an observational study conducted at Bandung Kiwari Regional Hospital from February to May 2025. Data were obtained through demographic data and review of patient medical records. The results obtained stated that the majority of respondents were female (78.95%), aged 56–65 years (39.47%), had an elementary school/Islamic elementary school education (36.84%), worked as housewives (60%), and had suffered from DM for 1–5 years (47.37%). Absrtrak. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah neuropati diabetik. Komplikasi ini umum terjadi pada pasien DM tipe 2 dan memerlukan penanganan jangka panjang, termasuk penggunaan obat antidiabetes oral (OAD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi neuropati yang menggunakan OAD di RSUD Bandung Kiwari. Penelitian ini merupakan studi observasional yang dilakukan di RSUD Bandung Kiwari pada Februari hingga Mei 2025. Data diperoleh melalui data demografi dan telaah rekam medis pasien. Hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (78,95%), berusia 56–65 tahun (39,47%), berpendidikan SD/MI (36,84%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (60%), dan telah menderita DM selama 1–5 tahun (47,37%).
Formulasi Ekstrak Daun Alpukat dan Rimpang Kunyit dalam Sediaan Gummy Candy Nasta Inka Aprilia Prayoga; Gita Cahya Eka Darma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i1.23485

Abstract

Abstract. Gummy candy has been widely developed due to its chewy texture, acceptable taste, and ease of consumption. The physical characteristics of gummy candy are strongly influenced by the composition of formulation components and their interactions. This study aimed to optimize the base formulation of gummy candy containing a combination of avocado leaf and turmeric rhizome extracts using a 2² factorial design, with emphasis on the interaction between texture-forming agents. Gelatin (A) and mannitol concentration (B) were selected as factors at two levels, while the evaluated responses included gumminess, chewiness, hardness, and moisture content. Texture Profile Analysis (TPA) and moisture analysis were conducted, followed by statistical evaluation of main effects and interactions. The results demonstrated that the interaction between gelatin and mannitol significantly affected all observed responses. Increasing gelatin concentration contributed to higher hardness and gumminess, whereas mannitol strengthened gel structure and reduced moisture content. The interaction of both factors produced a more balanced texture profile compared to individual effects. A formulation containing 20% gelatin and 8% mannitol was identified as the optimum formulation, providing stable texture characteristics and appropriate moisture content. These findings indicate that factorial design is an effective approach for optimizing gummy candy formulations based on natural ingredients. Abstrak. Gummy candy banyak dikembangkan karena memiliki tekstur yang kenyal, rasa yang dapat diterima, serta kemudahan konsumsi. Karakteristik utama gummy candy sangat dipengaruhi oleh komposisi bahan penyusunnya dan interaksi antar komponen formulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi basis formulasi gummy candy kombinasi ekstrak daun alpukat dan rimpang kunyit menggunakan desain faktorial 2² dengan fokus pada interaksi antar bahan pembentuk tekstur. Konsentrasi gelatin (A) dan manitol (B) pada dua level sebagai faktor. Sedangkan respon yang diamati meliputi gumminess, chewiness, hardness, dan kadar air. Evaluasi dilakukan menggunakan Texture Profile Analysis (TPA) dan moisture analyzer, kemudian dianalisis secara statistik terhadap efek utama dan interaksi. Hasil analisis menunjukkan interaksi gelatin dan manitol memberikan pengaruh signifikan terhadap respon yang diamati. Peningkatan konsentrasi gelatin berkontribusi terhadap peningkatan hardness dan gumminess, sedangkan manitol berperan dalam memperkuat struktur gel dan menurunkan kadar air sediaan. Interaksi kedua faktor menghasilkan karakteristik tekstur yang lebih seimbang dibandingkan efek tunggal masing-masing faktor. Formula dengan gelatin 20% dan manitol 8% ditetapkan sebagai formula optimum karena menghasilkan profil tekstur yang stabil dan kadar air yang sesuai dengan karakteristik gummy candy yang diharapkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain faktorial efektif digunakan sebagai pendekatan optimasi formulasi gummy candy berbasis bahan alam.
Analisis Pola Peresepan Obat Asma pada Anak Di RS. Rotinsulu Bandung Alief Ergin Az-Zikra Husaeni; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i1.23518

Abstract

Abstract. Asthma is a chronic inflammatory disease of the airways characterized by bronchial hyperresponsiveness and recurrent symptoms such as shortness of breath, coughing, and wheezing. According to the Global Initiative for Asthma (GINA) report in 2023, more than 262 million people worldwide are living with asthma, making it a significant global health problem, particularly among children. This study aimed to analyze the prescribing patterns of asthma medications in pediatric patients at Dr. H.A. Rotinsulu Lung Hospital, Bandung, during the period from January 2020 to December 2024. The research employed a descriptive study design with a cross-sectional approach and retrospective data collection. Data were obtained from medical records and prescription records of pediatric asthma patients aged 0–18 years who were diagnosed with ICD-10 codes J45.x–J46.x. A total sampling technique was applied, resulting in 100 prescription records that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that asthma prevalence was slightly higher in male children (52%) compared to female children (48%). Based on age distribution, asthma cases were most frequently observed in adolescents aged 12–18 years (49%). Regarding prescribing patterns, the most commonly used class of medication was Short-Acting Beta Agonists (SABA), accounting for 46% of prescriptions, with salbutamol being the most frequently prescribed drug. Other medications prescribed included Short-Acting Muscarinic Antagonists (SAMA), Inhaled Corticosteroids (ICS), Long-Acting Beta Agonists (LABA), and Leukotriene Receptor Antagonists (LTRA). Abstrak. Asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran napas yang ditandai dengan hiperreaktivitas bronkus dan gejala berulang seperti sesak napas, batuk, serta mengi. Berdasarkan laporan Global Initiative for Asthma (GINA) tahun 2023, lebih dari 262 juta orang di dunia hidup dengan asma. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola peresepan obat asma pada pasien anak di Rumah Sakit Paru Dr. H.A. Rotinsulu Bandung selama periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan pengambilan data retrospektif dari rekam medis serta catatan resep pasien asma anak usia 0–18 tahun yang terdiagnosis dengan kode ICD-10 J45.x–J46.x. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dan diperoleh 100 data resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi asma pada anak laki-laki sedikit lebih tinggi (52%) dibandingkan anak perempuan (48%). Berdasarkan kelompok usia, kasus asma paling banyak ditemukan pada usia remaja 12–18 tahun (49%). Profil peresepan menunjukkan bahwa golongan obat yang paling sering digunakan adalah Short-Acting Beta Agonist (SABA) sebesar 46%, dengan salbutamol sebagai obat yang paling banyak diresepkan. Selain itu, obat lain yang juga digunakan meliputi Short-Acting Muscarinic Antagonist (SAMA), Inhaled Corticosteroid (ICS), Long-Acting Beta Agonist (LABA), dan Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA).