Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SKRINING RISIKO MASALAH TERAPI OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD KABUPATEN BANDUNG Andrian Hoerul Anwar
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/x3gheq19

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi serius. Pengobatan hipertensi memerlukan terapi jangka panjang, yang sering kali melibatkan penggunaan obat-obatan secara kompleks dan meningkatkan risiko masalah terapi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menyaring risiko masalah terapi obat pada pasien hipertensi. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional, dan pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada pasien hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,00% pasien tidak mengalami masalah terapi obat, 44,67% berisiko mengalami masalah terapi obat, dan 1,33% pasien sudah mengalami satu atau lebih masalah terapi obat. Jenis masalah terapi obat yang teridentifikasi mencakup kepatuhan yang tidak sesuai (1,65%), terapi obat yang tidak diperlukan (2,97%), pemilihan obat yang tidak tepat (16,34%), reaksi obat yang merugikan (10,40%), dosis yang terlalu tinggi atau rendah (26,73%), serta kebutuhan terapi tambahan (5,94%). Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat potensi signifikan masalah terapi obat pada pasien hipertensi yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan kualitas manajemen terapi.
SISTEMATIC REVIEW FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DI INDONESIA Andrian Hoerul Anwar
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/fqanc998

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) menjadi masalah kesehatan global dengan beban morbiditas dan mortalitas tinggi, menduduki posisi pertama sebagai penyebab kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia. Transisi epidemiologi dari penyakit menular ke tidak menular terjadi lebih cepat dibandingkan kesiapan sistem kesehatan nasional, diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini dan modifikasi faktor risiko. Meskipun telah ada beberapa studi yang menginvestigasi faktor risiko PJK di Indonesia, belum ada tinjauan sistematis yang mengompilasi dan mensintesis temuan-temuan ini. Systematic review ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai faktor-faktor risiko PJK di Indonesia, serta menganalisis kontribusi relatif dan interaksi antar faktor risiko dalam konteks spesifik Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada lima database elektronik (PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science, ISJD, dan DOAJ) dengan batasan publikasi Januari 2020 hingga Oktober 2024. Kriteria inklusi mencakup studi pada populasi Indonesia yang menginvestigasi minimal satu faktor risiko PJK dan menyediakan data kuantitatif asosiasi. Penilaian kualitas menggunakan instrumen yang sesuai dengan desain penelitian. Sintesis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan penilaian kualitas bukti menggunakan sistem GRADE. Sepuluh penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa faktor risiko PJK di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi yang tidak dapat dimodifikasi (usia >40 tahun, jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga) dan yang dapat dimodifikasi (hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, merokok, obesitas, aktivitas fisik rendah, pola diet buruk). Hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia konsisten muncul sebagai faktor risiko dominan dengan hubungan signifikan terhadap kejadian PJK (p<0,05). Tingkat pengetahuan tentang faktor risiko PJK juga berkorelasi signifikan dengan perilaku kesehatan, khususnya kebiasaan merokok (p=0,025). Terdapat indikasi interaksi sinergis antar faktor risiko, terutama pada pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus. Pendekatan komprehensif dalam pencegahan dan pengendalian PJK di Indonesia harus mencakup strategi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, mengendalikan faktor risiko metabolik, mempromosikan gaya hidup sehat, dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan. Diperlukan penelitian kohort prospektif dengan ukuran sampel lebih besar untuk menilai hubungan kausal antara faktor risiko dan kejadian PJK, serta penelitian yang mengkaji interaksi antar faktor risiko dan efektivitas berbagai intervensi dalam konteks lokal Indonesia.
Analisis Pola Peresepan Obat Asma pada Anak Di RS. Rotinsulu Bandung Alief Ergin Az-Zikra Husaeni; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i1.23518

Abstract

Abstract. Asthma is a chronic inflammatory disease of the airways characterized by bronchial hyperresponsiveness and recurrent symptoms such as shortness of breath, coughing, and wheezing. According to the Global Initiative for Asthma (GINA) report in 2023, more than 262 million people worldwide are living with asthma, making it a significant global health problem, particularly among children. This study aimed to analyze the prescribing patterns of asthma medications in pediatric patients at Dr. H.A. Rotinsulu Lung Hospital, Bandung, during the period from January 2020 to December 2024. The research employed a descriptive study design with a cross-sectional approach and retrospective data collection. Data were obtained from medical records and prescription records of pediatric asthma patients aged 0–18 years who were diagnosed with ICD-10 codes J45.x–J46.x. A total sampling technique was applied, resulting in 100 prescription records that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that asthma prevalence was slightly higher in male children (52%) compared to female children (48%). Based on age distribution, asthma cases were most frequently observed in adolescents aged 12–18 years (49%). Regarding prescribing patterns, the most commonly used class of medication was Short-Acting Beta Agonists (SABA), accounting for 46% of prescriptions, with salbutamol being the most frequently prescribed drug. Other medications prescribed included Short-Acting Muscarinic Antagonists (SAMA), Inhaled Corticosteroids (ICS), Long-Acting Beta Agonists (LABA), and Leukotriene Receptor Antagonists (LTRA). Abstrak. Asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran napas yang ditandai dengan hiperreaktivitas bronkus dan gejala berulang seperti sesak napas, batuk, serta mengi. Berdasarkan laporan Global Initiative for Asthma (GINA) tahun 2023, lebih dari 262 juta orang di dunia hidup dengan asma. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola peresepan obat asma pada pasien anak di Rumah Sakit Paru Dr. H.A. Rotinsulu Bandung selama periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan pengambilan data retrospektif dari rekam medis serta catatan resep pasien asma anak usia 0–18 tahun yang terdiagnosis dengan kode ICD-10 J45.x–J46.x. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dan diperoleh 100 data resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi asma pada anak laki-laki sedikit lebih tinggi (52%) dibandingkan anak perempuan (48%). Berdasarkan kelompok usia, kasus asma paling banyak ditemukan pada usia remaja 12–18 tahun (49%). Profil peresepan menunjukkan bahwa golongan obat yang paling sering digunakan adalah Short-Acting Beta Agonist (SABA) sebesar 46%, dengan salbutamol sebagai obat yang paling banyak diresepkan. Selain itu, obat lain yang juga digunakan meliputi Short-Acting Muscarinic Antagonist (SAMA), Inhaled Corticosteroid (ICS), Long-Acting Beta Agonist (LABA), dan Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA).