Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN WANITA DALAM PENGELOLAAN LIMBAH SAMPAH RUMAH TANGGA DI BALAI DESA BALUNIJUK, KABUPATEN BANGKA Lubis, Dinda Mardiani; Putri, Lizha Dwi Mulya; Desiga, Hanifa Intan; Ajrina, Fadiah Izzah; Meraldha, Arsha Riyantikha; Indrayati, Tri
SUBSERVE: Community Service and Empowerment Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Prime Identity Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/scsej.v3i2.89

Abstract

Saat ini masih banyak masyarakat yang acuh terhadap kebersihan lingkungan sehingga memerlukan peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam mengelola sampah yang baik. Wanita memiliki peran penting dalam mengelola kebersihan lingkungan, terutama karena terlibat langsung dalam aktivitas rumah tangga yang menghasilkan limbah setiap hari. Berdasarkan masalah tersebut, dilaksanakanlah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan peran wanita dalam pengelolaan limbah sampah rumah tangga di Desa Balunijuk. Kegiatan ini dilakukan melalui sosialisasi mengenai peran dan tanggung jawab wanita di rumah, sampah, menganalisis dampak positif pengelolaan sampah dan memberikan rekomendasi praktis pengelolaan sampah rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, kesadaran dan minat peserta dalam mengelola sampah rumah tangga. Peserta pada kegiatan ini adalah ibu-ibu PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Desa Balunijuk. Kegiatan pengabdian ini hanya sosialisasi dan diskusi dengan peserta sehingga tim pengabdian mengharapkan adanya kegiatan lanjutan seperti pelatihan dan praktik langsung pengelolaan sampah rumah tangga. 
Pemberdayaan Komunitas Pesisir Melalui Diseminasi Inovasi Kerupuk Cumi Singkong untuk Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan Lubis, Dinda Mardiani; Putri, Lizha Dwi Mulya; Adibrata, Sudirman
PUSAKA ABDIMAS Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Yayasan Serumpun Karang Konservasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61548/pa.v2i2.58

Abstract

To address this issue, the program introduced squid–cassava crackers as a downstreaming initiative that integrates local resources while embodying the agromaritime concept. The main objective was to enhance community capacity in developing value-added processed products and to foster the growth of a creative economy based on local resources. The program was conducted through socialization, training, and practical demonstrations, involving 70 participants consisting of teachers, students of SMAN 1 Merawang, partner foundations, and local stakeholders. Participants were purposively selected to ensure the program’s relevance. Knowledge transfer was carried out through lectures, interactive discussions, and hands-on product-making sessions, complemented by the provision of a grating machine to support program sustainability. The results indicated a significant improvement in participants’ knowledge and interest in product downstreaming. The high level of enthusiasm, particularly during the cooking demonstration, highlighted the potential of squid–cassava crackers as a promising agromaritime innovation. This product successfully combines marine and terrestrial resources, creating new entrepreneurial opportunities and strengthening food security. In conclusion, this initiative demonstrates that disseminating squid–cassava cracker innovation can serve as an entry point for developing a creative economy in coastal areas.
Evaluasi Kualitas Perairan Pantai Sebagin, Kabupaten Bangka Selatan Menggunakan Metode Water Quality Index (WQI) Lubis, Dinda Mardiani; Putra Batubara, Geothani Harapan
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8659

Abstract

Pantai Sebagin Kabupaten Bangka Selatan merupakan kawasan pesisir dengan potensi ekologis dan ekonomi yang signifikan, namun mengalami tekanan lingkungan akibat meningkatnya aktivitas antropogenik. Penelitian ini merupakan kajian awal menilai kualitas perairan Pantai Sebagin menggunakan indeks komposit Water Quality Index (WQI) berdasarkan pembobotan (Effendi, 2003). Evaluasi kualitas air dilakukan menggunakan sembilan parameter fisika-kimia yang dianalisis berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kepmen LH) No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut dan metode WQI. Hasil analisis menunjukkan parameter seperti oksigen terlarut (DO = 8,03 mg/L), pH (7,93), suhu (29,17 °C), salinitas (25,67 ppt), dan total padatan tersuspensi (TSS = 32,03 mg/L) berada dalam kisaran baku mutu dan mendukung keberlangsungan biota laut. Akan tetapi, beberapa parameter seperti amoniak (6,11 mg/L), nitrat (2,82 mg/L), fosfat (0,42 mg/L), dan biochemical oxygen demand (BOD = 38,47 mg/L) telah melampaui ambang batas yang ditentukan. Hasil analisis nilai indeks WQI yang diperoleh adalah 747,18 yang mengindikasikan perairan Pantai Sebagin tergolong tercemar berat. Temuan ini menunjukkan bahwa beban nutrien dan bahan organik yang tinggi telah menurunkan kualitas perairan, sehingga diperlukan strategi pengelolaan pesisir berbasis ekosistem. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah dalam penyusunan kebijakan pengendalian limbah pesisir dan perencanaan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Kata kunci: kualitas perairan, Water Quality Index (WQI), beban nutrien, Pantai Sebagin, pengelolaan pesisir
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR MELALUI PELATIHAN MEMBUAT KERUPUK RENGGINING CUMI-SINGKONG BERBASIS AGROMARITIM DI KABUPATEN BANGKA Adibrata, Sudirman; Putri, Lizha Dwi Mulya; Lubis, Dinda Mardiani; Fatimah, Siti
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 1 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i1.3260

Abstract

The coastal communities of Bangka Regency rely heavily on local resources, including marine fisheries and agricultural commodities. Besides being sold fresh, these commodities can also be processed into downstream products, such as renggining crackers. The purpose of the PKM activity is to empower the community by improving the skills of partners in making innovative squid-cassava renggining crackers. This activity was carried out from June to September 2025 at partner locations, namely Yayasan Lentera Orientasi Nusantara untuk Generasi Edukatif (Longe Foundation) in Balunijuk Village and SMAN 1 Merawang in Baturusa Village, Bangka Regency. The activity method was implemented using a Participatory Action Research (PAR) approach that emphasizes the active involvement of partners in every stage of the program. The training stages start from preparing ingredients, making dough, molding, steaming, drying, frying, to packaging. The results showed that technical training activities and demonstrations or direct practice related to the process of making squid-cassava renggining crackers were well understood by partners. Knowledge transfer to partners regarding local food processing included the transfer of knowledge, technical skills, and technology. Improving skills in the downstreaming of agricultural, marine, and fishery commodities is a concrete action in the effort to implement the agromaritime concept. Small-scale renggining production can improve partners' knowledge, such as recording costs and business results, developing packaging designs, strengthening entrepreneurial capacity, digital marketing, and local product branding strategies. Fried renggining was tested such as taste, aroma, appearance, texture, and testimonials so that partners were able to make renggining with quality improvements according to input obtained from testimonials. These renggining products also demonstrate increased economic added value, diversifying businesses and income sources, and strengthening the concept of coastal food security. Empowerment through an agromaritime approach not only strengthens partners' technical capacity but also leads to the formation of a local entrepreneurial ecosystem. Evaluations conducted in this community service include understanding raw material processing techniques, food sanitation and hygiene, dough formulation, and product packaging and storage techniques.