Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Apa Dampak Pemeriksaan Patologis Mikroskopis pada Prognosis Kanker? : Tinjauan Sistematis Fidi Kusuma; Rosita
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 14 No. 3 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/y46wyj44

Abstract

Pendahuluan: Kanker merupakan penyebab utama kematian secara global, dengan prognosis yang sangat bervariasi bergantung pada karakteristik biologis dan patologis tumor. Pemeriksaan patologis mikroskopis berperan sentral dalam menentukan prognosis kanker, memberikan informasi mendetail mengenai fitur tumor seperti invasi limfovaskular, margin bedah positif, dan metastasis nodal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak komprehensif pemeriksaan patologis mikroskopis terhadap prognosis kanker, berfokus pada fitur tradisional dan biomarker baru. Metode: Tinjauan sistematis ini mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) 2020 untuk memastikan ketelitian metodologis. Strategi pencarian menggunakan kata kunci berdasarkan PICO (Population: Cancer Patients, Intervention: Microscopic Pathology, Comparison: Traditional Markers, Outcome: Cancer Prognosis) pada basis data seperti PubMed, Semantic Scholar, Springer, dan Google Scholar. Sebanyak 40 studi memenuhi kriteria inklusi setelah penyaringan dan penilaian kualitas. Hasil: Studi-studi yang disertakan mencakup berbagai jenis kanker padat, dengan kanker prostat menjadi yang paling sering diteliti. Fitur patologis tradisional seperti invasi limfovaskular, margin bedah positif, dan metastasis nodus limfa secara konsisten berhubungan dengan prognosis yang buruk. Rasio hazard untuk luaran yang merugikan berkisar antara 1,37 hingga 6,94. Biomarker baru seperti Imunoscore dan patologi digital berbasis kecerdasan buatan menunjukkan potensi untuk menyempurnakan stratifikasi risiko. Diskusi: Pemeriksaan patologis mikroskopis, baik tradisional maupun inovatif, sangat penting dalam prognostikasi kanker pada tumor padat. Fitur tradisional secara konsisten dikaitkan dengan luaran yang merugikan , sementara biomarker baru dan alat patologi digital dapat menyempurnakan model prognostik, meskipun nilai tambahnya bervariasi tergantung konteks. Tantangan utama meliputi standarisasi metodologi dan integrasi penanda baru ke dalam praktik klinis. Kesimpulan: Fitur patologis mikroskopis adalah inti dari prognostikasi kanker pada tumor padat, dengan penanda tradisional yang secara konsisten memprediksi luaran yang merugikan dan biomarker baru yang berpotensi menyempurnakan model prognostik. Integrasi temuan patologis ini ke dalam sistem penentuan stadium dan pengambilan keputusan klinis sangat memperkuat peran sentral mereka dalam memprediksi luaran kanker.
Asosiasi Kategori LI-RADS (Liver Imaging Reporting and Data System) dengan Diagnosis Histopatologis Karsinoma Hepatoseluler: Tinjauan Sistematis dan Sintesis Bukti Tingkat Tinggi Fidi Kusuma
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 21 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/43s5dv55

Abstract

Pendahuluan: Karsinoma Hepatoseluler (HCC) adalah keganasan hati primer yang sering didiagnosis melalui pencitraan non-invasif (CT/MRI/CEUS) menggunakan panduan Liver Imaging Reporting and Data System (LI-RADS). LI-RADS mengklasifikasikan lesi hati menjadi kategori probabilitas risiko (LR-1 hingga LR-5) dan kategori keganasan non-HCC (LR-M). Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengkonsolidasikan bukti tingkat tinggi (sintesis meta-analisis data pasien individual/IPD) mengenai kinerja diagnostik kategori LI-RADS terhadap diagnosis histopatologis sebagai standar baku emas. Metode: Tinjauan sistematis dan sintesis bukti tingkat tinggi (umbrella review) ini mengintegrasikan hasil dari meta-analisis akurasi diagnostik utama yang melibatkan lebih dari 15 studi primer. Kriteria inklusi adalah studi akurasi diagnostik pada pasien berisiko tinggi HCC (sirosis atau HBV kronis non-sirosis) yang menggunakan klasifikasi LI-RADS (v2014, v2017, atau v2018) dan konfirmasi diagnosis melalui histopatologi. Kualitas studi dinilai menggunakan alat Quality Assessment of Diagnostic Accuracy Studies 2 (QUADAS-2). Metrik kinerja gabungan (Sensitivitas, Spesifisitas, Diagnostic Odds Ratio) dan Odds Ratio (OR) multivariabel fitur mayor diekstraksi. Hasil: Sintesis data dari kohort gabungan yang mencakup lebih dari 11.000 observasi mengkonfirmasi kinerja signifikan LI-RADS. Kategori LR-5 (CT/MRI) menunjukkan Spesifisitas Gabungan yang sangat tinggi, berkisar antara 92% hingga 97.6% 1, dengan DOR gabungan yang kuat sebesar 27.8 (95% CI: 20.6–37.7).3 Sensitivitas gabungan LR-5 lebih moderat (sekitar 67%–74%).1 Analisis multivariabel menunjukkan fitur Nonperipheral Washout (OR 13.2) dan Nonrim APHE (OR 10.3) 4 memiliki asosiasi independen terkuat dengan HCC, sementara Threshold Growth tidak signifikan (P=0.19).4 Kategori LR-M adalah 93% keganasan 5, tetapi secara mengejutkan, 36% hingga 48% dari lesi ini dikonfirmasi sebagai HCC atipikal 5, bukan Kolangiokarsinoma intrahepatik (iCCA). Penggunaan penanda biokimia (AFP dan INR) dapat memprediksi HCC atipikal dalam LR-M dengan nilai prediksi positif (PPV) sebesar 75%.6 Diskusi: Spesifisitas luar biasa LR-5 memvalidasi diagnosis non-invasif. Namun, sensitivitas rendah LR-5 pada lesi kecil (55% untuk lesi 10–19 mm) 8 dan kompleksitas LR-M yang mengandung subtipe HCC agresif menyoroti perlunya biopsi terarah dan manajemen yang lebih agresif untuk kategori probabilitas menengah. Kegagalan fitur Threshold Growth dalam analisis multivariabel menegaskan bahwa fitur dinamika vaskular adalah pendorong diagnostik utama. Kesimpulan: LI-RADS adalah alat stratifikasi risiko yang sangat spesifik dan signifikan untuk HCC (LR-5). Kategori LR-M dan kategori menengah (LR-3, LR-4) mewakili tantangan diagnostik dan memerlukan integrasi data pencitraan atipikal dengan penanda klinis (AFP, INR) untuk memandu keputusan biopsi guna memastikan deteksi HCC atipikal dan keganasan non-HCC.
HUBUNGAN DEPRESI DAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MARANATHA BANDUNG ANGKATAN 2015 Fidi Kusuma; Cindra Paskaria; Ade Kurnia
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 31 No. 1 (2026): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/yxb3z186

Abstract

Pendahuluan: Depresi merupakan suatu efek yang diakibatkan oleh peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres berkepanjangan. Depresi merupakan gangguan mental yang umumnya ditandai dengan kesedihan yang berkepanjangan dan hilangnya minat terhadap aktivitas yang disukai, serta adanya ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan. Depresi yang dialami oleh mahasiswa dapat berpengaruh pada produktifitasnya terutama di bidang akademik. Prokrastinasi merupakan suatu perilaku menunda dalam hal melakukan ataupun merampungkan suatu pekerjaan demi melakukan aktivitas lain yang kurang berguna, sehingga kinerja menjadi terhambat, tugas tidak dapat selesai tepat waktu, dan tingginya frekuensi terlambat untuk menghadiri pertemuan-pertemuan. Prokrastinasi yang terjadi di lingkungan akademik disebut sebagai prokrastinasi akademik. Metode: Penelitian ini menggunakan subjek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung angkatan 2015 sebanyak 58 orang dengan metode pengambilan data menggunakan kuisioner depresi yang diadaptasi dari Beck Depression Inventory (BDI), dan alat ukur prokrastinasi akademik yaitu Skala Prokrastinasi Akademik yang telah dimodifikasi oleh Agam Anggoro. Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif antara depresi dan prokrastinasi akademik (r=0.548, p=0.000). Diskusi: Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi skor depresi seseorang maka semakin tinggi pula prokrastinasi akademik yang dilakukannya. Kesimpulan: Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa depresi dapat meningkatkan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung angkatan 2015.