Riandi, Diki
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Congenital Lymphangioma of the Fetal Limb: A Rare Case Riandi, Diki; Suhaimi, Donel
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.851

Abstract

Introduction: Lymphangioma is a rare congenital malformation caused by the failure of primitive lymphatic channels to connect with the venous system. Its incidence is approximately 1 in 6,000 pregnancies, with only 2% affecting the limbs. Prenatal diagnosis remains challenging, requiring advanced imaging techniques for accurate differentiation from other congenital masses.Case Presentation: A 39-year-old woman, G6P4A1L4, was referred to Arifin Achmad Hospital at 25+6 weeks due to fetal lower limb enlargement and ascites. Ultrasound revealed a large multicystic mass on the fetal left thigh and buttock, measuring 10.2 × 7.8 × 6.4 cm. Initially suspected as sacrococcygeal teratoma, further evaluation suggested lymphangioma. The Doppler study indicated reduced vascularity. After thorough counseling and an ethics committee review involving obstetricians, neonatologists, and pediatric surgeons, the parents opted for termination. Labor was induced with misoprostol 50 mcg orally every 4 hours (two doses), leading to the delivery of a 1,400-gram male infant with an APGAR score of 3 and 0. The baby died 15 minutes post-birth. Maternal condition remained stable with normal vital signs and laboratory results post-delivery.Discussion: Prenatal diagnosis of lymphangioma is difficult due to its resemblance to other congenital masses. Regular extremity screening is crucial for early detection. Postnatal histopathology confirmed lymphangioma, showing dilated lymphatic channels without solid components. This case highlights the importance of multidisciplinary management and serial imaging for prognosis refining prognosis. Conclusion: Prenatal diagnosis is crucial for management planning. Serial ultrasound and MRI can refine prognosis. A multidisciplinary approach is essential for optimal care.Limfangioma Kongenital pada Ekstremitas Bawah Janin: Kasus Langka Abstrak Pendahuluan: Limfangioma adalah malformasi kongenital langka yang disebabkan oleh kegagalan saluran limfatik primitif untuk terhubung dengan sistem vena. Insidensinya 1 dalam 6.000 kehamilan, dengan hanya 2% yang mengenai ekstremitas. Diagnosis prenatal tetap menjadi tantangan, memerlukan teknik pencitraan canggih untuk membedakannya secara akurat dari massa kongenital lainnya. Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 39 tahun dengan G6P4A1H4 dirujuk ke Rumah Sakit Arifin Achmad pada usia kehamilan 25+6 minggu karena pembesaran ekstremitas bawah janin dan asites. Ultrasonografi menunjukkan massa multikistik besar pada paha kiri dan bokong janin, berukuran 10,2 × 7,8 × 6,4 cm. Awalnya dicurigai sebagai teratoma sakrokoksigeal, namun evaluasi lebih lanjut mengarah pada dugaan limfangioma. Studi Doppler menunjukkan vaskularisasi yang berkurang. Setelah konseling menyeluruh dan tinjauan oleh komite etik yang melibatkan dokter obstetri, neonatologi, dan bedah anak, orang tua memilih terminasi kehamilan. Persalinan diinduksi dengan misoprostol 50 mcg per oral setiap 4 jam (dua dosis). Induksi ini menghasilkan kelahiran bayi laki-laki seberat 1.400 gram dengan skor APGAR 3 dan 0. Bayi meninggal 15 menit setelah lahir. Kondisi ibu tetap stabil dengan tanda vital dan hasil laboratorium normal pascapersalinan.Diskusi: Diagnosis prenatal limfangioma sulit karena kemiripannya dengan massa kongenital lainnya. Skrining ekstremitas secara rutin sangat penting untuk deteksi dini. Histopatologi pascanatal mengonfirmasi limfangioma dengan menunjukkan saluran limfatik yang melebar tanpa komponen solid. Kasus ini menekankan pentingnya manajemen multidisiplin dan pencitraan serial untuk memperjelas prognosis.Kesimpulan: Diagnosis prenatal sangat penting dalam perencanaan manajemen. Ultrasonografi serial dan MRI dapat membantu memperjelas prognosis. Pendekatan multidisiplin sangat diperlukan untuk perawatan optimal. Kata kunci: Diagnosis prenatal, Limfangioma, Malformasi limfatik, Manajemen perinatal, Massa ekstremitas janin.
Hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap kejadian infeksi saluran kemih pada ibu hamil Riandi, Diki; Noviardi, Noviardi; Lubis, Munawar Adhar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1545

Abstract

Background: Urinary tract infection (UTI) is among the most common microbial infections worldwide and presents a major public health issue, particularly for pregnant women. In Indonesia, around 222 million individuals are affected, with 100,000 new cases annually. The physiological and anatomical changes that occur during pregnancy increase susceptibility to UTIs, which, if left untreated, can result in serious complications like pyelonephritis, sepsis, and premature labor. However, research on the contributing factors to UTI among pregnant women remains scarce. Purpose: To explore the relationship between maternal knowledge and attitudes and the incidence of UTI during pregnancy. Method: A prospective cross-sectional design was employed between February and August 2024, involving 84 pregnant women 42 diagnosed with UTI and 42 without. Participants were selected through consecutive sampling. Data were gathered using demographic questionnaires, knowledge and attitude assessments, and urinalysis for UTI confirmation. Statistical analysis was carried out using Pearson’s, Spearman’s, and Chi-square tests, with significance determined at p < 0.05. Results: The study found a significant relationship between education level and UTI incidence (p = 0.004), with a higher rate of infection observed in more educated participants. Both attitude (p = 0.04) and knowledge (p = 0.03) were significantly associated with UTI occurrence, suggesting that poor attitudes and limited knowledge heightened the risk of infection. No significant associations were found with maternal age, parity, BMI, or socioeconomic status. Conclusion: These findings underscore the importance of education, knowledge, and attitude in preventing UTIs during pregnancy. Enhancing maternal health literacy and implementing targeted educational programs could play a key role in reducing UTI incidence and improving pregnancy outcomes.   Keywords: Attitude; Knowledge; Maternal Health; Pregnancy; Urinary Tract Infection.   Pendahuluan: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi mikroba paling umum di dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama bagi ibu hamil. Di Indonesia, sekitar 222 juta individu terdampak, dengan 100.000 kasus baru setiap tahunnya. Perubahan fisiologis dan anatomis selama kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap ISK yang, jika tidak ditangani, dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pielonefritis, sepsis, dan persalinan prematur. Namun, penelitian mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian ISK pada ibu hamil masih terbatas. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian ISK selama kehamilan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang prospektif antara Februari hingga Agustus 2024, dengan melibatkan 84 ibu hamil (42 terdiagnosis ISK dan 42 tanpa ISK). Responden dipilih melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi, penilaian pengetahuan dan sikap, serta pemeriksaan urinalisis untuk konfirmasi ISK. Analisis statistik dilakukan dengan uji Pearson, Spearman, dan Chi-square, dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan kejadian ISK (p = 0.004), dengan tingkat infeksi lebih tinggi pada peserta dengan pendidikan lebih tinggi. Baik sikap (p = 0.04) maupun pengetahuan (p = 0.03) juga berhubungan signifikan dengan kejadian ISK, yang menunjukkan bahwa sikap kurang baik dan keterbatasan pengetahuan meningkatkan risiko infeksi. Tidak ditemukan hubungan signifikan dengan usia ibu, paritas, IMT, maupun status sosial ekonomi. Simpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan, pengetahuan, dan sikap dalam pencegahan ISK selama kehamilan. Peningkatan literasi kesehatan ibu serta penerapan program edukasi yang terarah dapat berperan penting dalam menurunkan angka kejadian ISK dan meningkatkan luaran kehamilan.                                                                                                                                                           Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih; Kehamilan; Kesehatan Ibu; Pengetahuan; Sikap.