Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Effect of Platelet-Rich Plasma Injection as Therapy for Stress Urinary Incontinence Cases Sumarlin, Sofi; Lubis, Munawar Adhar; Fakhrizal, Edy
Jurnal Ilmu Kedokteran Vol 19, No 1 (2025): Jurnal Ilmu Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26891/JIK.v19i1.2025.14-18

Abstract

Women frequently have stress urinary incontinence (SUI), which has a major negative influence on their quality of life. A non-surgical method of enhancing SUI that shows potential is platelet-rich plasma (PRP) therapy, by improving urethral tissue strength and enhancing the urethral closure mechanism. The usefulness of PRP in increasing urethral resistance and lowering SUI symptoms has been examined in recent literature studies conducted between 2019 and 2023. Although the first results are encouraging, more investigation is required to validate long-term advantages and clinical efficacy in broader groups, as well as to comprehend possible adverse effects and related difficulties. For SUI patients looking for non-surgical options, PRP offers an alluring treatment option with the potential to lessen the need for invasive surgical procedures. However, further development and broader clinical studies are necessary to strengthen these findings and support the clinical use of PRP in the management of SUI to improve quality of life. 
Case Report: Effective Pregnancy Management in Uterus Didelphys Lubis, Munawar Adhar; Fakhrizal, Edy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.738

Abstract

Introduction: Uterus didelphys is a rare congenital anomaly resulting from incomplete fusion of the Müllerian ducts, accounting for 10% of such anomalies. It often goes unnoticed until reproductive age, sometimes causing dyspareunia or dysmenorrhea. This anomaly is associated with increased obstetric risks, including higher rates of miscarriages, preterm births, breech presentations, and lower live birth rates. Diagnosis is typically achieved through imaging techniques such as ultrasound, hysterosalpingography, or magnetic resonance imaging. Case Report: This case study involves a 37-year-old primigravida at 34 weeks gestation presenting with premature contractions. Ultrasound revealed a singleton foetus in the breech position, and speculum examination identified two cervical os. The patient had a history of primary infertility and was diagnosed with uterus didelphysis during fertility assessments. Despite the complexities associated with this condition, she successfully conceived through artificial insemination. Her pregnancy was closely monitored, and due to the presence of labour signs and uterus didelphys condition, a planned Caesarean section was performed, resulting in the delivery of a healthy infant. Conclusion: This case underscores the importance of individualised care and continuous monitoring in managing pregnancies complicated by uterine anomalies to mitigate associated risks and improve maternal and foetal outcomes.Laporan Kasus: Managemen Efektif Kehamilan Pada Uterus DidelphysAbstrakPendahuluan: Uterus didelphys merupakan anomali kongenital langka yang disebabkan oleh fusi duktus Müllerian yang tidak sempurna, yang mencakup 10% dari anomali tersebut. Kondisi ini sering tidak disadari hingga usia reproduksi, terkadang menyebabkan dispareunia atau dismenore. Anomali ini dikaitkan dengan peningkatan risiko obstetrik, termasuk tingkat keguguran yang lebih tinggi, kelahiran prematur, presentasi bokong, dan tingkat kelahiran hidup yang lebih rendah. Diagnosis biasanya dicapai melalui teknik pencitraan seperti Ultrasonografi, histerosalpingografi, atau pencitraan resonansi magnetik.Laporan Kasus: Studi kasus ini melibatkan seorang primigravida berusia 37 tahun dengan usia kehamilan 34 minggu yang mengalami kontraksi prematur. Ultrasonografi menunjukkan janin tunggal dalam presentasi bokong dan pemeriksaan spekulum mengidentifikasi dua ostium serviks. Pasien memiliki riwayat infertilitas primer dan didiagnosis dengan uterus didelphysis selama penilaian kesuburan. Meskipun kondisi ini rumit, ia berhasil hamil melalui inseminasi buatan. Kondisi kehamilan pasien dipantau secara ketat, namun karena adanya tanda-tanda persalinan disertai kondisi uterus didelphys, maka diputuskan untuk dilakukan operasi caesar. Pasca operasi kondisi ibu dan bayi sehat.Kesimpulan: Kasus ini menggarisbawahi pentingnya perawatan individual dan pemantauan berkelanjutan dalam mengelola kehamilan yang rumit karena anomali uterus untuk mengurangi risiko dan menjaga keselamatan ibu dan bayi.Kata kunci: uterus didelphys, anomali uterus kongenital, risiko obstetrik, operasi caesar
Hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap kejadian infeksi saluran kemih pada ibu hamil Riandi, Diki; Noviardi, Noviardi; Lubis, Munawar Adhar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1545

Abstract

Background: Urinary tract infection (UTI) is among the most common microbial infections worldwide and presents a major public health issue, particularly for pregnant women. In Indonesia, around 222 million individuals are affected, with 100,000 new cases annually. The physiological and anatomical changes that occur during pregnancy increase susceptibility to UTIs, which, if left untreated, can result in serious complications like pyelonephritis, sepsis, and premature labor. However, research on the contributing factors to UTI among pregnant women remains scarce. Purpose: To explore the relationship between maternal knowledge and attitudes and the incidence of UTI during pregnancy. Method: A prospective cross-sectional design was employed between February and August 2024, involving 84 pregnant women 42 diagnosed with UTI and 42 without. Participants were selected through consecutive sampling. Data were gathered using demographic questionnaires, knowledge and attitude assessments, and urinalysis for UTI confirmation. Statistical analysis was carried out using Pearson’s, Spearman’s, and Chi-square tests, with significance determined at p < 0.05. Results: The study found a significant relationship between education level and UTI incidence (p = 0.004), with a higher rate of infection observed in more educated participants. Both attitude (p = 0.04) and knowledge (p = 0.03) were significantly associated with UTI occurrence, suggesting that poor attitudes and limited knowledge heightened the risk of infection. No significant associations were found with maternal age, parity, BMI, or socioeconomic status. Conclusion: These findings underscore the importance of education, knowledge, and attitude in preventing UTIs during pregnancy. Enhancing maternal health literacy and implementing targeted educational programs could play a key role in reducing UTI incidence and improving pregnancy outcomes.   Keywords: Attitude; Knowledge; Maternal Health; Pregnancy; Urinary Tract Infection.   Pendahuluan: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi mikroba paling umum di dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama bagi ibu hamil. Di Indonesia, sekitar 222 juta individu terdampak, dengan 100.000 kasus baru setiap tahunnya. Perubahan fisiologis dan anatomis selama kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap ISK yang, jika tidak ditangani, dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pielonefritis, sepsis, dan persalinan prematur. Namun, penelitian mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian ISK pada ibu hamil masih terbatas. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian ISK selama kehamilan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang prospektif antara Februari hingga Agustus 2024, dengan melibatkan 84 ibu hamil (42 terdiagnosis ISK dan 42 tanpa ISK). Responden dipilih melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi, penilaian pengetahuan dan sikap, serta pemeriksaan urinalisis untuk konfirmasi ISK. Analisis statistik dilakukan dengan uji Pearson, Spearman, dan Chi-square, dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan kejadian ISK (p = 0.004), dengan tingkat infeksi lebih tinggi pada peserta dengan pendidikan lebih tinggi. Baik sikap (p = 0.04) maupun pengetahuan (p = 0.03) juga berhubungan signifikan dengan kejadian ISK, yang menunjukkan bahwa sikap kurang baik dan keterbatasan pengetahuan meningkatkan risiko infeksi. Tidak ditemukan hubungan signifikan dengan usia ibu, paritas, IMT, maupun status sosial ekonomi. Simpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan, pengetahuan, dan sikap dalam pencegahan ISK selama kehamilan. Peningkatan literasi kesehatan ibu serta penerapan program edukasi yang terarah dapat berperan penting dalam menurunkan angka kejadian ISK dan meningkatkan luaran kehamilan.                                                                                                                                                           Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih; Kehamilan; Kesehatan Ibu; Pengetahuan; Sikap.