Background: Urinary tract infection (UTI) is among the most common microbial infections worldwide and presents a major public health issue, particularly for pregnant women. In Indonesia, around 222 million individuals are affected, with 100,000 new cases annually. The physiological and anatomical changes that occur during pregnancy increase susceptibility to UTIs, which, if left untreated, can result in serious complications like pyelonephritis, sepsis, and premature labor. However, research on the contributing factors to UTI among pregnant women remains scarce. Purpose: To explore the relationship between maternal knowledge and attitudes and the incidence of UTI during pregnancy. Method: A prospective cross-sectional design was employed between February and August 2024, involving 84 pregnant women 42 diagnosed with UTI and 42 without. Participants were selected through consecutive sampling. Data were gathered using demographic questionnaires, knowledge and attitude assessments, and urinalysis for UTI confirmation. Statistical analysis was carried out using Pearson’s, Spearman’s, and Chi-square tests, with significance determined at p < 0.05. Results: The study found a significant relationship between education level and UTI incidence (p = 0.004), with a higher rate of infection observed in more educated participants. Both attitude (p = 0.04) and knowledge (p = 0.03) were significantly associated with UTI occurrence, suggesting that poor attitudes and limited knowledge heightened the risk of infection. No significant associations were found with maternal age, parity, BMI, or socioeconomic status. Conclusion: These findings underscore the importance of education, knowledge, and attitude in preventing UTIs during pregnancy. Enhancing maternal health literacy and implementing targeted educational programs could play a key role in reducing UTI incidence and improving pregnancy outcomes. Keywords: Attitude; Knowledge; Maternal Health; Pregnancy; Urinary Tract Infection. Pendahuluan: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi mikroba paling umum di dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama bagi ibu hamil. Di Indonesia, sekitar 222 juta individu terdampak, dengan 100.000 kasus baru setiap tahunnya. Perubahan fisiologis dan anatomis selama kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap ISK yang, jika tidak ditangani, dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pielonefritis, sepsis, dan persalinan prematur. Namun, penelitian mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian ISK pada ibu hamil masih terbatas. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian ISK selama kehamilan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang prospektif antara Februari hingga Agustus 2024, dengan melibatkan 84 ibu hamil (42 terdiagnosis ISK dan 42 tanpa ISK). Responden dipilih melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi, penilaian pengetahuan dan sikap, serta pemeriksaan urinalisis untuk konfirmasi ISK. Analisis statistik dilakukan dengan uji Pearson, Spearman, dan Chi-square, dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan kejadian ISK (p = 0.004), dengan tingkat infeksi lebih tinggi pada peserta dengan pendidikan lebih tinggi. Baik sikap (p = 0.04) maupun pengetahuan (p = 0.03) juga berhubungan signifikan dengan kejadian ISK, yang menunjukkan bahwa sikap kurang baik dan keterbatasan pengetahuan meningkatkan risiko infeksi. Tidak ditemukan hubungan signifikan dengan usia ibu, paritas, IMT, maupun status sosial ekonomi. Simpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan, pengetahuan, dan sikap dalam pencegahan ISK selama kehamilan. Peningkatan literasi kesehatan ibu serta penerapan program edukasi yang terarah dapat berperan penting dalam menurunkan angka kejadian ISK dan meningkatkan luaran kehamilan. Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih; Kehamilan; Kesehatan Ibu; Pengetahuan; Sikap.