Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kedudukan Suami Miskin Terhadap Pemenuhan Nafkah Istri Dalam Tinjauan Fiqh Syāfi’iyyah Murtaza, Murtaza; Mukhlisuddin
Ameena Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v3i1.169

Abstract

Pernikahan merupakan suatu ibadah yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bagi umat manusia. Hukum Islam telah mengatur semua hal, baik dari hal terkecil sekalipun, apalagi tentang persoalan harkat dan martabat seorang perempuan, di dalam Islam perempuan sangat dimuliakan. Setelah adanya akad pernikahan maka banyak sekali berbagai konsekuensi yang timbul sebagai dampaknya. Dalam terminilogi fiqih, nafkah didefinisikan sebagai biaya yang wajib dikeluarkan oleh seseorang terhadap sesuatu yang berada dalam tanggungjawabannya meliputi biaya untuk kebutuhan pangan (ma’tam), sandang (malbas), dan papan (maskan), termasuk juga kebutuhan sekunder seperti perabot kerumah tanggaan. Nafkah dalam Islam mencakup dua aspek, yaitu nafkah lahir dan nafkah batin. Nafkah secara umum berarti belanja, maksudnya ialah sesuatu yang diberikan oleh seorang kepada ister, kerabat, dan miliknya sebagai keperluan pokok, seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal. Nafkah merupakan suatu hak yang wajib dipenuhi oleh seorang suami terhadap isterinya, nafkah ini bermacam-macam, bisa berupa makanan, tempat tinggal, perhatian, pengobatan, dan juga pakaian meskipun wanita itu kaya. Kedudukan suami miskin terhadap pemenuhan nafkah istri dalam tinjauan Fiqh Syāfi’iyyah adalah ketentuan bila suami termasuk golongan miskin maka ia hanya wajib memberi nafkah satu mud dalam satu hari karena bagi suami yang miskin tidak diukur melalui harta asal atau harta dari penghasilan. Apabila suami tidak memenuhi nafkah istri sama sekali maka istri boleh mengajukan gugat cerai pada suami apabila suami tidak mampu memberikan nafkah padanya.
Effects of Eco-Enzyme Dosage and Application Methods on Growth and Yield Components of Peanut (Arachis hypogaea L.) Sari, Cut Mulia; Al Hadi , Budi; Bukhari, Bukhari; Murtaza, Murtaza
Journal of Agriculture Vol. 4 No. 03 (2025): Research Articles, November 2025
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/joa.v4i03.7804

Abstract

Peanut (Arachis hypogaea L.) is a valuable legume crop whose productivity depends on effective and environmentally friendly nutrient management. Eco-enzyme, a liquid organic product obtained from the fermentation of organic waste, has potential as a sustainable agricultural input; however, information regarding its optimal dosage and application method for peanut cultivation remains limited. This study aimed to evaluate the effects of eco-enzyme dosage, application method, and their interaction on the growth and yield components of peanut plants. The experiment was conducted using a factorial randomized block design with two factors. The first factor was eco-enzyme dosage at four levels: 0, 10, 15, and 20 mL plant?¹. The second factor was the application method, consisting of soil drenching and foliar spraying. Observations included vegetative growth parameters and yield components. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by a least significant difference test at the 5% level. The results showed that the eco-enzyme dosage significantly affected plant height at 30 and 45 days after planting, whereas the application method alone did not significantly influence most of the observed variables. However, a significant interaction between dosage and application method was observed for plant height at 45 days after planting, number of empty pods, fresh pod weight, dry pod weight, and seed weight. Higher eco-enzyme dosages combined with appropriate application methods tended to improve yield performance. In conclusion, eco-enzyme influenced peanut growth and yield selectively, and its effectiveness depended largely on the interaction between dosage and application method