Putriadi, Melisa
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Psikoedukasi Penggunaan Smartphone Pada Anak Yanti, Fitri; Putriadi, Melisa; Pratama, Veggy Andika; Emriadi, Haviz
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30680

Abstract

Orangtua sering tidak menyadari jika anak menggunakan smartphone setiap hari akan menyebabkan anak tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Smartphone memliki banyak kemudahan dan manfaat didalamnya diantaranya kemudahan untuk mengakses berbagai informasi dan hiburan yang terjadi dalam bentuk online ataupun offline. Saat ini tidak hanya orang dewasa yang mengenal teknologi dan komunikasi yang canggih akan tetapi anak-anak juga sudah mengenal smartphone. Namun, penggunaan smartphone sekarang ini sering sekali disalahgunakan oleh berbagai pihak seperti orangtua secara instan memberikan fasilitas smartphone yang digunakan sebagai media dalam mendidik anak yang masih sekolah untuk menjadi salah satu jalan pintas orangtua dalam pendampingan sebagai pengasuh bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah melakukan asesmen untuk mengetahui penyebab penggunaan smartphone pada anak dan memberikan intervensi berupa psikoedukasi mengenai penggunaan smartphone pada anak. Metode penellitian pada penelitian ini menggunakan pengolahan SPSS dengan uji Wilcoxon Sign Test. Tujuannya adalah membandingkan pretest (sebelum diberikan psikoedukasi) dan posttest (setelah diberikan psikoedukasi). Hasil penelitian menggunakan uji Wilcoxon Sign Test diketahui asymp. Sig. (2-tailed), (0,000) dan nilai Z= - 4,787 (p<0,05) ini menunjukkan 0,000 lebih kecil dari 0,05. berdasarkan hasil tersebut, terlihat adanya pengaruh pemberian psikoedukasi mengenai penggunaan smartphone pada anak. Adanya perbedaan pengetahuan sebelum diberikan psikoedukasi dan setelah diberikan psikoedukasi. Dari hasil mean pretest dan mean posttest yaitu mean pretest (sebelum diberikan psikoedukasi) yaitu 7,10 sedangkan nilai mean posttes (setelah diberikan psikoedukasi) yaitu 8,80. Maka dapat disimpulkan bahwa pemberian psikoedukasi mengenai penggunaan smartphone pada anak dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat.
Representasi Visual Kecemasan dan Perasaan Terjebak dalam Desain Komunikasi Visual: Analisis Semiotika dan Psikologi Persepsi pada Karya 'Set Me Free' Yanti, Fitri; Putriadi, Melisa; Saputra, Yofil
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36791

Abstract

Kecemasan dan perasaan terjebak (entrapment) merupakan fenomena psikologis yang semakin prevalen dalam masyarakat kontemporer, namun representasi visualnya dalam ranah desain komunikasi visual seringkali terjebak pada stereotip yang dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme visual dan psikologis dibalik representasi kecemasan melalui studi kasus mendalam terhadap karya 'Set Me Free'. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini mengintegrasikan teori neuroestetika, psikologi Gestalt, dan semiotika visual untuk mendekoding bagaimana elemen grafis mentransmisikan distres psikologis. Data dikumpulkan melalui observasi visual intensif (close reading) dan studi literatur komprehensif yang mencakup temuan neurobiologis tentang default mode network dan generalisasi rasa takut. Temuan utama menunjukkan bahwa 'Set Me Free' memanfaatkan disonansi kognitif melalui fragmentasi simbolik, ketegangan komposisi Gestalt, dan penggunaan tekstur visual kasar untuk memicu respons "visceral" pada audiens. Lebih jauh, penelitian ini mengungkapkan bahwa perasaan terjebak tidak hanya direpresentasikan melalui metafora spasial, tetapi juga melalui ambiguitas perseptual yang memaksa otak audiens melakukan pemecahan masalah visual yang memicu stres. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa desaian komunikasi visual memiliki kapasitas tidak hanya sebagai medium ekspresi, tetapi sebagai pemicu resonansi neurobiologis yang valid dalam konteks kesehatan mental.