Background: Iman Katolik berakar pada Kitab Suci dan Tradisi Gereja yang menghadirkan para kudus sebagai teladan hidup Kristiani. Namun, banyak umat masih kurang memahami peran para kudus, sehingga menimbulkan miskonsepsi dalam devosi dan praktik iman. Di Bali, di mana umat Katolik dan Protestan menggunakan Gereja Oikumene secara bergiliran, persoalan ini sekaligus menegaskan pentingnya pendidikan iman yang inklusif dan ekumenis. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Stasi St. Longginus Kepaon, Paroki Roh Kudus Denpasar-Bali, dengan melibatkan 30 peserta dari latar belakang pendidikan yang beragam. Pendekatan yang digunakan adalah Problem Based Learning (PBL) dan Community Based Research (CBR) melalui tahapan observasi awal, penyusunan materi kontekstual, ceramah interaktif, visualisasi hidup para kudus, refleksi kelompok kecil, serta evaluasi dengan pre-test dan post-test. Hasil: Program menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman iman umat, dari rata-rata nilai pre-test 56,3% menjadi 80,3% pada post-test, atau meningkat 24%. Peningkatan tertinggi tampak pada pemahaman tentang communio sanctorum, pembedaan antara penghormatan dan penyembahan, serta penerapan teladan para kudus dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulan: Pendekatan partisipatif dan kontekstual terbukti efektif dalam memperdalam aspek kognitif dan praksis iman. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini mendorong umat untuk menghidupi nilai kekudusan dalam komunitas basis serta memperkuat semangat ekumene di Bali. Model ini dapat direplikasi di paroki lain sebagai strategi pendidikan iman yang kontekstual, aplikatif, dan transformatif.