Dwi Prihatiningsih
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Laporan Kasus Pada Pasien Stroke Infrak Dengan Masalah Perfusi Serebral Tidak Efektif Diah Ayu Oktavia; Dwi Prihatiningsih
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 8 (2025): Menulis - Agustus
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i8.559

Abstract

Latar belakang: Stroke infark merupakan salah satu kondisi medis yang dapat menyebabkan mortalitas dan disabilitas fungsi tubuh pasien. Stroke terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen atau sementara pada fungsi kognitif, motorik, dan sensorik pasien. Salah satu masalah utama yang sering muncul pada pasien stroke adalah risiko perfusi serebral yang tidak efektif, yang dapat memperburuk kondisi neurologis pasien dan meningkatkan risiko komplikasi. Perfusi serebral yang tidak efektif dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, hipoksia otak, dan memperparah defisit neurologis. Oleh karena itu, di IGD, penatalaksanaan cepat diperlukan untuk mencegah komplikasi, termasuk pemantauan tekanan intrakranial, stabilisasi hemodinamik, dan terapi suportif. Tujuan: Mendeskripsikan pengelolaan masalah perfusi serebral dan gangguan komunikasi verbal pada pasien dengan stroke infark di IGD. Laporan kasus: Seorang pasien perempuan, 62 tahun, datang ke IGD dengan keluhan kesulitan bicara sejak pagi dan riwayat hipertensi. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 166/45 mmHg, nadi 104x/menit, dan pernapasan 22x/menit. Hasil pemeriksaan neurologis menunjukkan bibir pasien miring ke kiri, bicara tidak jelas, serta terdapat hasil radiologi yang menunjukkan tanda-tanda stroke iskemik. Hasil: Masalah keperawatan utama yang muncul adalah risiko perfusi serebral tidak efektif . Penatalaksanaan yang dilakukan mencakup manajemen peningkatan tekanan intrakranial, pemantauan status hemodinamik. Simpulan: Evaluasi yang harus diperhatikan dalam penanganan stroke infark meliputi tingkat kesadaran pasien, perfusi serebral, serta efektivitas komunikasi yang dilakukan selama perawatan. Kolaborasi dengan tim medis sangat diperlukan untuk memastikan terapi yang diberikan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Pada Pasien Cedera Kepala Di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Intan Mariani; Dwi Prihatiningsih
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Menulis - Februari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i2.1038

Abstract

Cedera kepala (Traumatic Brain Injury/TBI) adalah kerusakan otak yang disebabkan oleh gaya mekanik eksternal—misalnya benturan, akselerasi-deselerasi, atau penetrasi yang dapat menghasilkan kontusio, hematoma, atau diffuse axonal injury. Pada pasien dengan penurunan kesadaran, TBI mengganggu kemampuan mempertahankan patensi jalan napas sehingga memicu bersihan jalan napas tidak efektif akibat akumulasi sekret dan meningkatkan risiko aspirasi, infeksi paru, dan hipoksia.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pengelolaan jalan napas pada pasien cedera kepala yang mengalami hipersekresi sekret. Metode yang digunakan dalam laporan kasus ini adalah pendekatan deskriptif dengan studi kasus pada pasien cedera kepala yang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU). Data dikumpulkan melalui pengkajian fisik, pemantauan tanda vital, dan prosedur penghisapan sekret, serta intervensi keperawatan seperti pemberian oksigen dan fisioterapi dada.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien mengalami hipersekresi sekret yang menghalangi jalan napas, yang menyebabkan masalah bersihan jalan napas tidak efektif. Pengelolaan yang dilakukan termasuk penghisapan lendir secara teratur, pemberian oksigen, dan kolaborasi dengan fisioterapi dada untuk mempercepat pengeluaran sekret. Meskipun ada sedikit perbaikan, masalah tersebut belum sepenuhnya teratasi, dan pemantauan terus-menerus terhadap status pernapasan dan perfusi serebral diperlukan.Kesimpulan dari laporan ini adalah bahwa pengelolaan jalan napas yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada pasien cedera kepala, terutama yang terpasang trakeostomi. Kolaborasi tim medis, termasuk fisioterapi dada, dapat mempercepat pemulihan dan mengurangi risiko infeksi atau aspirasi.
Manajemen Gangguan Pertukaran Gas Pada Pasien Cedera Kepala Berat (CKB) Di Ruangan Intersive Care Unit (ICU) Ayang; Dwi Prihatiningsih
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Menulis - Februari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i2.1040

Abstract

Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang rawat rumah sakit dengan staf dan perlengkapab khusus di tunjukan unutuk mengelolah pasien dengan penyakit, trauma atau komplikasi yang mengacam jiwa sepeti pasien Cedera kepala berat merupakan kondisi yang dapat menimbulkan gangguan neurologis serius, termasuk gangguan pada sistem pernapasan. cedera otak akut berhubungan erat dengan disfungsi paru melsalui mekanisme brain–lung interaction, di mana kerusakan otak dapat memicu perubahan fisiologis paru sehingga proses pertukaran gas menjadi tidak efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan pengelolaan gangguan pertukran gas pada pasien cedera kepala yang di rawat di ruang intensive care unit (ICU). Data yang di kumpulkan melalui pengkajian fisik pemntauan AGD intervensi keperawatan seperti pemberian oksigen dan head up seni flowlwr. Berdasarkan hasil pengkajian menunjukan bahwa masalah utama ganguan pertukaran gas pada pasien cedera kepala berat, menunjukkan perbaikan signifikan nilai analisa gas darah yaitu CO2 : 25.3 meningkat PO2 : 178 menurun PH : 7,235 meningkat yang menunjukan adanya peningkatan pertukaran gas dan perbaikan hasil analisa gas darah pasien, penelitian ini masih belum sepenuhnya teratasi dalam penangan di kasus ini perlunya kolaborasi tim medis, termasuk lab untuk pemantuan AGD dan kepatenan jalan nafas