Dismenore merupakan salah satu permasalahan kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Prevalensi dismenore tergolong tinggi pada kelompok remaja dan dewasa muda, bahkan dilaporkan mencapai lebih dari 90%. Selain faktor biologis, faktor psikologis seperti stres diduga berperan dalam meningkatkan keparahan nyeri menstruasi melalui mekanisme ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore pada peserta didik putri di SMA Negeri 1 Manado. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas X yang telah mengalami menstruasi sebanyak 284 orang, dengan sampel sebanyak 82 responden. Pengukuran tingkat stres menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan derajat dismenore diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres sedang (64,6%), diikuti stres tinggi (32,9%) dan stres rendah (2,4%). Pada variabel dismenore, mayoritas responden mengalami nyeri sedang (51,2%), nyeri berat (23,2%), nyeri ringan (20,7%), dan tidak nyeri (4,9%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore (p-value = 0,000; r = 0,538), yang menunjukkan kekuatan hubungan sedang dengan arah positif, sehingga semakin tinggi tingkat stres maka semakin tinggi tingkat nyeri dismenore yang dialami responden.