Masruro, Uliyatul
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kontestasi Penafsiran Ayat Teologi di Ruang Digital: Analisis Komparatif Tafsir Audiovisual Surat Al-Baqarah ayat 115 Oleh Musthafa Umar dan Firanda Andirja di Kanal YouTube Ananta, Pramudia; Masruro, Uliyatul; Sholihah, Safiratus; Amru, Khobiru
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.26685

Abstract

The interpretation of theological verses in the context of digital space has become an interesting phenomenon to study, considering its challenges and risks, such as the potential for inaccurate or extreme interpretations to be disseminated. Therefore, it is crucial to remain critical and verify the sources of information used in the interpretation of theological verses. This research aims to conduct a comparative analysis of the audiovisual interpretation of Surah al-Baqarah verse 115 by Musthafa Umar and Firanda Andirja on YouTube channels. This verse holds significant relevance in Islamic teachings, particularly concerning the principle of Tawhid (the oneness of God) and the change of the Qiblah direction in prayer worship. The research uses a descriptive qualitative method with a comparative analysis approach. The focus of this research is on the differences and similarities in the approaches and explanations between Musthafa Umar and Firanda Andirja in interpreting the theological verse. Data sources were obtained from their respective audiovisual interpretations delivered through the YouTube channels "kajian Tafsir Al-Ma‘rifah-Ustadz Musthafa Umar" and "Firanda Andirja." The research results indicate significant differences in their interpretations. Musthafa Umar emphasizes the social aspects of the Quran, while Firanda Andirja focuses more on the concepts of prayer (salat) and the Qiblah direction. However, both interpretations encourage flexibility in the implementation of prayer and understanding of the verse. In terms of interpretative sources, Firanda Andirja relies on the Quran and Sunnah, while Musthafa Umar combines the Quran, Sunnah, and the reasoning of ijtihad. Firanda Andirja's interpretive methods include tahlili, muqaran, and al-naqli, while Musthafa Umar uses tahlili, maudhu'i, and al-‘aqli methods. Firanda Andirja's interpretation involves theological aspects, while Musthafa Umar combines theology and linguistics. Abstrak: Penafsiran ayat teologi dalam konteks ruang digital menjadi fenomena menarik untuk dikaji, mengingat penafsirannya memiliki tantangan dan risiko, seperti penyebaran penafsiran yang tidak akurat atau ekstrem. Oleh karena itu, penting untuk tetap kritis dan memverifikasi sumber informasi yang digunakan dalam penafsiran ayat-ayat teologi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif terhadap tafsir audiovisual Surah al-Baqarah ayat115 oleh Musthafa Umar dan Firanda Andirja di kanal YouTube. Ayat ini memiliki relevansi signifikan dalam ajaran Islam, terutama terkait dengan prinsip tauhid (keesaan Tuhan) dan perubahan arah kiblat dalam ibadah salat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis komparatif. Fokus penelitian ini pada perbedaan dan persamaan terhadap pendekatan dan penjelasan antara Musthafa Umar dengan Firanda Andirja dalam menafsirkan ayat teologi tersebut. Sumber data diperoleh dari tafsir audiovisual keduanya yang disampaikan melalui kanal YouTube "kajian Tafsir Al-Ma‘rifah-Ustadz Musthafa Umar" dan "Firanda Andirja". Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam penafsiran keduanya, yaitu Musthafa Umar lebih menekankan aspek sosial Al-Qur'an, sementara Firanda Andirja lebih memfokuskan pada konsep salat dan arah kiblat. Namun, dalam perbedaan keduanya sama-sama mendorong fleksibilitas dalam pelaksanaan salat dan pemahaman ayat tersebut. Dalam konteks sumber penafsiran, Firanda Andirja mengandalkan Al-Qur'an dan Sunnah, sedangkan Musthafa Umar memadukan Al-Qur'an, Sunnah, dan nalar ijtihad. Metode penafsiran Firanda Andirja mencakup tahlili, muqaran, dan al-naqli, sedangkan Musthafa Umar menggunakan metode tahlili, maudhu'i, dan al-‘aqli. Corak penafsiran Firanda Andirja melibatkan aspek teologi, sementara Musthafa Umar menggabungkan teologi dan lughawi.
Relevansi Al-Qur’an dan Sains: Analisis Tafsir Audiovisual Ayat-Ayat Semesta oleh Felix Siauw dan Risco Aditama di Akun YouTube @YukNgajiTV Masruro, Uliyatul; Uliyatul Masruro; Ahmad Zaidanil Kamil
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.26432

Abstract

Diskursus tentang hubungan al-Qur’an dan sains modern telah banyak dikaji, namun kajian mengenai tafsir audiovisual di media sosial masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi ayat-ayat al-Qur’an dengan sains modern melalui analisis tafsir audiovisual Felix Siauw dan Risco Aditama di kanal YouTube @YukNgajiTV. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi hubungan antara ayat-ayat al-Qur’an dengan teori ilmiah modern menggunakan tipologi hubungan agama dan sains John F. Haught, yang mencakup Konflik, Kontras, Kontak, dan Konfirmasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Data primer berupa video interpretasi ayat-ayat semesta, sementara data sekunder diperoleh dari literatur pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara ayat-ayat semesta dengan teori ilmiah modern, seperti QS. aẓ-Ẓāriyât [51]: 47 dengan teori Expanding Universe, QS. Fuṣṣilat [41]: 11 dengan konsep Gas Earth, QS. al-Ḥadīd [57]: 25 dan QS. al-Ḥajj [22]: 5 dengan konsep Iron dan Water, serta QS. an-Naml [27]: 88 dengan teori Continental Drift. Interpretasi Felix Siauw dan Risco Aditama cenderung mengadopsi model Konfirmasi, meskipun terdapat elemen model Kontak dalam dialog mereka antara agama dan sains. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan integrasi al-Qur’an dan sains dalam konteks media digital, serta menyediakan kerangka analitis untuk kajian tafsir audiovisual di masa mendatang.