Parebong, Wawan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEOLOGI SEBAGAI PILAR UTAMA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KRISTEN DI LINGKUNGAN GEREJA Parebong, Wawan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i2.6351

Abstract

ABSTRACT The church is a community of believers called to proclaim the truth based on the teachings of Scripture, one of which is through the implementation of Christian Religious Education (CRE). This responsibility is ongoing, as the spiritual formation of the congregation must be continuously nurtured. In facing modernization, changes in lifestyle among church members, and the rise of teachings that deviate from God’s Word, the church needs to develop CRE that is grounded in theology. The content and direction of CRE stem from theological reflection that reveals God's will. Therefore, theology serves as a vital foundation in designing biblical CRE instruction aimed at shaping spiritually mature believers who can live out their faith in daily life. This article utilizes a qualitative descriptive approach, based on literature study. The data were obtained through the exploration and analysis of various sources such as books, scholarly journals, and relevant references in order to explore theological understanding as the foundation for the development of Christian Religious Education (CRE). The findings underscore the importance of recognizing PAK as a central mission of the church that must be nurtured and expanded. As a theological endeavor, PAK must be developed with theology as its guiding principle—ensuring that Christian education within the church remains doctrinally sound and spiritually transformative. ABSTRAK Gereja adalah komunitas orang percaya yang dipanggil untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan ajaran Kitab Suci, salah satunya melalui penyelenggaraan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Tanggung jawab ini bersifat berkelanjutan karena pembinaan iman jemaat harus terus dilakukan. Dalam menghadapi modernisasi dan perubahan gaya hidup jemaat, serta tantangan ajaran yang menyimpang dari firman Tuhan, gereja perlu mengembangkan PAK yang berlandaskan teologi. Sebab, isi dan arah PAK bersumber dari refleksi teologis yang menjelaskan kehendak Allah. Dengan demikian, teologi menjadi dasar penting dalam merancang pengajaran PAK yang alkitabiah untuk membentuk jemaat yang matang secara rohani dan mampu menghidupi imannya dalam keseharian. Artikel ini disusun dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur. Data diperoleh melalui penelusuran dan analisis terhadap berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, dan referensi relevan guna menggali pemahaman teologis sebagai dasar pengembangan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Hasil dari kajian ini menegaskan bahwa PAK merupakan bagian integral dari misi gereja yang tidak boleh diabaikan. Sebagai wujud karya teologis, PAK harus dikembangkan secara konsisten dengan landasan teologi yang kokoh, agar gereja dapat menumbuhkan jemaat yang kuat dalam iman dan aktif dalam pelayanan.
MEMBENTUK KONSELOR YANG BERIMAN DAN BERKOMPETEN: PERANAN TEOLOGI DALAM PENDIDIKAN KONSELING Parebong, Wawan; Meldianto, Meldianto; Sangga, Jummianto
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i2.6587

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study is to understand the role of theology in counselor education in shaping counselors who are both faithful and competent. This study adopts a qualitative approach with a literature review design. The stages of analysis include: data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Based on the conducted literature review, several key findings related to the role of theology in Christian counselor education can be summarized as follows: 1) Christian theology provides a foundational framework and core values essential in shaping the paradigm of Christian counseling. A theological understanding of human nature, suffering, and healing positions counseling not merely as a psychological intervention, but as a spiritual and prophetic ministry; 2) Theology is not merely a cognitive discipline, but plays a vital role in shaping the heart and character of Christian counselors. An education that instills values of love, empathy, and fidelity to the teachings of Christ fosters the formation of compassionate and highly-integrity-driven counselors; 3) Many theological education institutions have not yet succeeded in fully integrating theological courses with counseling practice. This fragmentation results in graduates struggling to connect their faith with the realities of counseling practice in the field. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana peranan teologi dalam pendidikan konseling untuk membentuk konselor yang beriman dan berkompeten . Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka (literatur review). Tahapan analisis meliputi: Reduksi data,  penyajian data  dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hasil penting terkait peranan teologi dalam pendidikan konseling Kristen: 1) Teologi Kristen memberikan kerangka berpikir dan nilai-nilai dasar yang sangat penting dalam membentuk paradigma konseling Kristen. Pemahaman teologis tentang manusia, penderitaan, dan pemulihan menjadikan konseling lebih dari sekadar intervensi psikologis, melainkan sebagai pelayanan yang bersifat spiritual dan profetik; 2) Teologi bukan hanya ilmu kognitif, tetapi berperan membentuk hati dan karakter konselor Kristen. Pendidikan yang menanamkan nilai kasih, empati, dan kesetiaan pada ajaran Kristus mendorong terbentuknya konselor yang berbelas kasih dan berintegritas tinggi; 3) Banyak institusi pendidikan teologi belum berhasil mengintegrasikan mata kuliah teologi dan praktik konseling secara utuh. Fragmentasi ini menyebabkan lulusan mengalami kesulitan dalam menghubungkan iman mereka dengan praktik konseling di lapangan.