Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Membumikan Nilai-Nilai Qur’ani di Pulau Pariwisata: Peran Sosial-Keagamaan Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Kapek, Lombok Barat Akbar, Rizamul Malik; Barizi, Ahmad
Jurnal Penelitian Agama Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v26i1.2025.pp35-50

Abstract

Abstract Islamic boarding schools (pondok pesantren) are not only traditional Islamic educational institutions but also dynamic social agents capable of adapting to the evolving landscape of modern society, including in strategic tourism areas. This article aims to examine the socio-religious role of Pondok Pesantren Al-Aziziyah in localizing Qur’anic values within the conte xt of Lombok Barat, a region undergoing social transformation driven by rapid growth in the tourism sector. Employing a qualitative approach based on library research and content analysis of documents, scholarly articles, and institutional publications related to the pesantren’s activities, this study reveals three key findings: (1) Al-Aziziyah implements an integrative educational system that combines tahfizh (Qur’an memorization), classical Islamic texts (kitab kuning), and character development; (2) the pesantren actively engages public spaces through cultural da‘wah initiatives, such as “Kafe Taman Langit,” serving as contextual expressions of Qur’anic values; and (3) its alumni emerge as transformative agents across strategic sectors, including religion, education, and sociopolitical domains. The primary contribution of this article lies in its integration of three academic domains—Qur’anic values, pesantren education, and tourism society dynamics—into a cohesive analytical framework that remains underexplored in contemporary scholarship. Intisari Pondok pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, tetapi juga sebagai agen sosial yang adaptif terhadap dinamika masyarakat modern, termasuk di kawasan strategis pariwisata. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran sosial-keagamaan Pondok Pesantren Al-Aziziyah dalam membumikan nilai-nilai Qur’ani di Lombok Barat, daerah yang mengalami transformasi sosial akibat pesatnya pertumbuhan sektor wisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis isi terhadap dokumen, artikel ilmiah, dan publikasi institusional terkait aktivitas pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sistem pendidikan Al-Aziziyah dirancang secara integratif antara tahfizh, kitab kuning, dan penguatan karakter; (2) pesantren ini aktif mengintervensi ruang publik melalui dakwah kultural, seperti Kafe Taman Langit, sebagai bentuk ekspresi nilai Qur’ani yang kontekstual; dan (3) alumni pesantren tampil sebagai agen transformasi di berbagai sektor strategis, baik keagamaan, pendidikan, maupun sosial-politik. Kontribusi artikel ini terletak pada penyatuan tiga ranah kajian—nilai Qur’ani, pendidikan pesantren, dan dinamika masyarakat wisata—dalam satu kerangka analitis yang relevan dan masih jarang disentuh dalam kajian akademik kontemporer.Kata Kunci : Pesantren Tahfizh; Nilai Qur’ani; Kawasan Pariwisata; Peran Sosial Keagamaan
The Classification of Knowledge Based on Al-Ghazali's Perspective and Its Relevance to Qur’anic Exegesis Akbar, Rizamul Malik; Soleh, Achmad Khudori
FiTUA: Jurnal Studi Islam Vol 6 No 2 (2025): December
Publisher : STIT Sunan Giri Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47625/fitua.v6i2.1066

Abstract

This article studies Al-Ghazali’s system of knowledge classification and its relevance to Qur’anic exegesis within the framework of classical Islamic epistemology. The focus of this study is to explain the structure of Al-Ghazali’s epistemology, which includes the sources of knowledge, methods of acquisition, and legal-ethical rulings on seeking knowledge, while positioning tafsir as an integral part of this framework. This research employs a qualitative approach through library research, focusing on Al-Ghazali’s major works, such as Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn and al-Risālah al-Ladunniyyah. The findings indicate that: (1) Al-Ghazali classifies knowledge based on its sources into revelatory knowledge (‘ilm al-shar‘i), rational knowledge (‘ilm al-‘aql), and intuitive knowledge (‘ilm al-kashf); (2) based on its method of acquisition, knowledge is divided into ḥuḍūrī (immediate) and ḥuṣūlī (acquired through learning), incorporating approaches such as bayānī, burhānī, ‘irfānī, and tajribī; (3) in terms of legal rulings, knowledge is categorized as farḍ ‘ayn, farḍ kifāyah, mandūb, mubāḥ, or ḥarām; and (4) Qur’anic exegesis is positioned as a shar‘i science, falling under the category of farḍ kifāyah, specifically within the subcategory of al-mutammimāt, developed through ḥuṣūlī methods and integrating several epistemological approaches.
Jamaah Tabligh dan Pembaruan Islam Tanpa Politik: Studi Historis Gerakan Dakwah Transnasional di Indonesia Pasca-Kemerdekaan Akbar, Rizamul Malik; Masruri, M. Hadi; Kholidy, Muhammad Firdaus Al
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 5: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i5.15744

Abstract

Penelitian ini mengkaji pentingnya peran Jamaah Tabligh dalam pembaruan Islam pasca-kemerdekaan di Indonesia melalui dakwah non-politik yang berkontribusi pada kohesi sosial masyarakat plural. Artikel ini bertujuan menganalisis peran historis dan kontribusi gerakan dakwah transnasional tersebut dalam pembentukan peradaban Islam kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis konten dan interpretatif terhadap literatur historis dan sosial-keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Jamaah Tabligh berakar dari India dan berkembang di Indonesia melalui jaringan dakwah transnasional pasca-kemerdekaan; (2) prinsip dakwah non-politik menjadi strategi transformasi spiritual individu dan penguatan komunitas akar rumput; (3) gerakan ini berkontribusi terhadap kohesi sosial dan penguatan nilai spiritual masyarakat; dan (4) enam prinsip ajaran spiritual menjadi fondasi pembinaan umat berbasis komunitas. Penelitian ini menegaskan bahwa pembaruan Islam dapat berlangsung melalui pendekatan kultural dan spiritual tanpa keterlibatan politik formal serta memperkaya kajian peradaban Islam kontemporer.