., Ni Komang Suni Astini
Stkip Agama Hindu Amlapura

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Lampuhyang

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran Tingkat Sekolah Dasar pada Masa Pandemi Covid-19 Astini, Ni Komang Suni
LAMPUHYANG Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v11i2.194

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manfaat dari teknologi informasi dalam proses pembelajaran di sekolah dasar pada masa pandemikCOVID-19. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan. Pandemik COVID-19 sangat berdampak pada pendidikan di Indoneia. Proses pembelajaran yang awalnya dilakukan di sekolah kini menjadi pembelajaran daring yang dilakukan dari rumah. Pemanfaatan teknologi informasi sangat membantu dalam proses pembelajaran di masa Pandemi COVID-19. Kemajuan teknologi informasi yang sudah sangat maju saat ini, internet bisa menghubungkan siswa dengan guru melalui laman e-learning, whatsapp group, google class,google doc atau google form, zoom. Kemendikbud juga menyediakan platform belajar daring gratis bernama “Rumah Belajar”.Untuk daerah di mana koneksi internetnya tidak terlalu baik, pemerintah bekerja sama dengan TVRI, stasiun televisi negara, untuk menyampaikan materi belajar yang ada di dalam program Belajar di Rumah.Pada tingkat sekolah dasar kelas atas aplikasi yang yang efektif digunakan dalam proses pembelajaran online adalah aplikasi google classroom dan aplikasi zoom sedangkan untuk kelas bawah aplikasi yang dapat sangat efektif digunakan adalah aplikasi whatshapp group. Dalam proses pembelajaran daring yang dilakukan siswa tidak lepas dari pengawasan orang tua dan guru.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran Tingkat Sekolah Dasar pada Masa Pandemi Covid-19 Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v11i2.194

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manfaat dari teknologi informasi dalam proses pembelajaran di sekolah dasar pada masa pandemikCOVID-19. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan. Pandemik COVID-19 sangat berdampak pada pendidikan di Indoneia. Proses pembelajaran yang awalnya dilakukan di sekolah kini menjadi pembelajaran daring yang dilakukan dari rumah. Pemanfaatan teknologi informasi sangat membantu dalam proses pembelajaran di masa Pandemi COVID-19. Kemajuan teknologi informasi yang sudah sangat maju saat ini, internet bisa menghubungkan siswa dengan guru melalui laman e-learning, whatsapp group, google class,google doc atau google form, zoom. Kemendikbud juga menyediakan platform belajar daring gratis bernama “Rumah Belajar”.Untuk daerah di mana koneksi internetnya tidak terlalu baik, pemerintah bekerja sama dengan TVRI, stasiun televisi negara, untuk menyampaikan materi belajar yang ada di dalam program Belajar di Rumah.Pada tingkat sekolah dasar kelas atas aplikasi yang yang efektif digunakan dalam proses pembelajaran online adalah aplikasi google classroom dan aplikasi zoom sedangkan untuk kelas bawah aplikasi yang dapat sangat efektif digunakan adalah aplikasi whatshapp group. Dalam proses pembelajaran daring yang dilakukan siswa tidak lepas dari pengawasan orang tua dan guru.
TANTANGAN IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR PADA ERA NEW NORMAL COVID-19 DAN ERA SOCIETY 5.0 Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.298

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tantangan pendidik dalam mengimplementasikan merdeka belajar pada era new normal covid-19 dan era society 5.0 untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian deskriptif Kuantitatif dengan metode pengumpulan data library research. Untuk menghadapi era society 5.0 ini satuan pendidikan pun dibutuhkan adanya perubahan paradigma pendidikan. Diantaranya pendidik meminimalkan peran sebagai learning material provider, pendidik menjadi penginspirasi bagi tumbuhnya kreativitas peserta didik. Pendidik berperan sebagai fasilitator, tutor, penginspirasi dan pembelajar sejati yang memotivasi peserta didik untuk Merdeka Belajar. Kebijakan program “Merdeka Belajar” meliputi empat pokok kebijakan yaitu Penilaian USBN Komprehensif, UN diganti dengan assessment penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dipersingkat dan zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) lebih fleksibel. Merdeka belajar akan menciptakan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Peningkatan sumber daya manusia, baik guru maupun kepala sekolah, diperlukan pembinaan baik lokal maupun internasional yang berkelanjutan sehingga mampu menjawab tantangan dunia menghadapi era revolusi industry 4.0 menuju era society 5.0. Penerapan merdeka belajar pada Era Society 5.0 tentunya memiliki banyak tantangan terutama bagi para pendidik. Pendidik harus memanfaatkan berbagai inovasi seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Hadirnya era society 5.0 yang merupakan penyempurnaan era 4.0 adalah problem besar sekaligus kesempatan besar wajah pendidikan kita. Guru yang menjadi penggerak dalam pendidikan era society 5.0 harus mempunyai kompetensi memadai. Guru harus cakap dalam memberikan materi pelajaran serta mampu menggerakkan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.
Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Putu Andyka Putra Gotama; Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.305

Abstract

Pendidikan yang relevan harus bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know, yakni peserta didik mempelajari pengetahuan, (2) learning to do, yakni peserta didik menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, (3) learning to be, yakni peserta didik belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan (4) learning to live together, yakni peserta didik belajar untuk menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama manusia. Dengan demikian, pendidikan saat ini harus mampu membekali setiap peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai dan sikap, yang mana proses belajar bukan semata-mata mencerminkan pengetahuan (knowledge-based) tetapi mencerminkan keempat pilar di atas. Melalui keempat pilar itulah dapat terbentuk kompetensi. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki dan dikuasai peserta didik yang dapat tertampilkan secara nyata dalam memecahkan/menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Kompetensi ini hendaknya benar-benar bisa diukur dengan bentuk evaluasi yang valid. Hal ini disebabkan karena kompetensi merupakan produk akhir dari sebuah pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu assesmen yang bisa digunakan adalah Asesmen Otentik. Artikel ini ditulis untuk mengetahui bentuk dan jenis assesmen otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan pembahasan, diperoleh hasil bahwa asesmen otentik merupakan penilaian yang terintegrasi dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan karya siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru mencakup (1) valid, (2) mendidik, (3) berorientasi pada kompetensi, (4) adil terbuka, (5) berkesinambungan, (6) menyeluruh dan, (7) bermakna. Kemudian, ada beberapa jenis assesmen otentik yaitu Wawancara lisan, Menceritakan kembali teks atau cerita, observasi guru, Portofolio, dan Rubrik. Seluruh jenis asesmen otentik ini sangat relevan jika digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka saran ingin diberikan kepada Lembaga pencetak tenaga pendidik agar memberikan penekanan pada model-model asesmen yang bisa dipakai karena asesmen adalah ujung tombak dari keberhasilan suatu pembelajaran. Kemudian, kepada guru bahasa Indonesia agar memahami isi artikel guna menambah pengetahuan mengenai evaluasi pengajaran bahasa Indonesia, dan bagi peneliti lain tentunya dapat melakukan penelitian-penelitian sejenis untuk mengembangkan pengetahuan terutama dalam bidang evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia.