Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Efektivitas   Yoga  Prenatal  terhadap Self-Efficacy   dan   Persepsi  I bu   Hamil   dalam Menghadapi Persalinan Hidayanti, Maria Ulfa Nur; Damanik, Brema JK; Maria Estela Karolina; Prima Novitasari
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i1.24063

Abstract

 Latar Belakang: Persepsi yang berkembang di masyarakat umum mengenai persalinan adalah bahwa persalinan merupakan pengalaman yang menyakitkan dan berisiko. Hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan. Gentle birth merupakan salah satu pendekatan dalam asuhan kehamilan dan persalinan yang dapat membantu ibu mengurangi tingkat kecemasan sejak masa kehamilan. Untuk mendukung keberhasilan gentle birth, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan berlatih prenatal gentle yoga. Tujuan penelitian: Penelitian ini menilai hubungan antara praktik yoga prenatal, persepsi ibu hamil tentang persalinan, dan tingkat self-efficacy dalam menghadapi proses kelahiran. Metode: Desain penelitian adalah cross-sectional dengan 54 responden ibu hamil tanpa komplikasi di Kabupaten Blora (2025). Persepsi diukur menggunakan skala persepsi manfaat yoga, sedangkan self-efficacy dinilai memakai Childbirth Self-Efficacy Inventory (CBSEI). Uji Chi-Square dan Fisher Exact digunakan untuk menganalisis keterkaitan variabel. Hasil: Sebanyak 64,8 % responden mengikuti yoga prenatal. Jumlah kehamilan berhubungan signifikan dengan persepsi ibu (p = 0,034); ibu multipara cenderung melihat persalinan secara lebih positif. Tingkat self-efficacy dipengaruhi oleh wilayah tempat tinggal (p = 0,006) dan partisipasi yoga (p < 0,001). Ibu yang tinggal di perkotaan serta rutin berlatih yoga menunjukkan keyakinan diri lebih tinggi menghadapi persalinan dibandingkan kelompok lainnya. Kesimpulan: Yoga prenatal bukan hanya latihan fisik, tetapi juga sarana meningkatkan kesiapan psikologis ibu hamil. Integrasi kelas yoga dengan edukasi kebidanan berbasis komunitas—terutama di wilayah pedesaan—direkomendasikan untuk memperkuat kepercayaan diri ibu dan mendorong pengalaman persalinan yang lebih positif
A Comparative Review of Chitinase Enzymes from Microbial and Mammalian Origins and Their Roles in Health Applications Novitasari, Prima; Hidayanti, Maria Ulfa Nur; Karolina, Maria Estela; Nidha, Amalia An
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 11, No 2: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus June 2025
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v11i2.7554

Abstract

Background: Chitinase is an enzyme crucial in chitin biodegradation, breaking the 1,4-N-α-acetyl-D-glucosamine bonds of its monomers. It is produced by a wide range of organisms, from microorganisms such as bacteria and fungi to macroorganisms including humans. Chitinases have been widely studied for applications in biological control, environmental management, and medical fields, including immune modulation and infection therapy. However, there is still a research gap due to the limited number of systematic comparative studies examining the structural, genetic, and functional differences among chitinases from various biological sources. This limitation hinders optimal and targeted use of chitinases in enzyme-based technologies, particularly for medical applications. Therefore, comprehensive studies are needed not only to describe chitinases by their sources but also to evaluate their practical potential and innovative opportunities for human health. Methods: This study uses a narrative literature review approach. Articles were collected, screened, and systematically organized according to their scope, focusing on chitinase sources, mechanisms of action, and applications in healthcare. Results: The analysis shows fundamental differences in domain structure, gene expression, and catalytic mechanisms of chitinases from bacteria, fungi, and humans. Bacterial chitinases exhibit environmental stability and serve as infection biomarkers, fungal chitinases excel in immunotherapy and bioactive compound production, and human chitinases, though less explored, show potential in precision diagnostics and inflammatory therapy. Conclusions: This cross-domain comparison maps structural and functional characteristics and opens opportunities for integrating cross-species enzyme functions for innovative enzyme-based biopharmaceuticals and precision therapies addressing modern pathogens
Enhancing Childbirth Preparedness: The Effects of Prenatal Yoga on Physical nnd Mental Readiness Santoso, Ferry; Hidayanti, Maria Ulfa Nur; Damanik, Brema JK; Novitasari, Prima; Karolina, Maria Estela
Jurnal Kesmas Jambi Vol. 9 No. 2 (2025): VOLUME 9 - NUMBER 2 - July 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jkmj.v9i2.44732

Abstract

Childbirth requires both physical and mental readiness, yet many women face it with anxiety and insufficient preparation. Prenatal Yoga is increasingly recognized as a holistic intervention that integrates physical, psychological, and emotional preparation. This study aimed to examine the effect of Prenatal Yoga on the physical and mental readiness of pregnant women in facing childbirth. A cross-sectional quantitative study was conducted in May 2025 involving 54 pregnant women in Blora Regency. Data were collected using structured questionnaires to assess physical readiness (body flexibility and discomfort) and mental readiness (anxiety and relaxation) through the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The association between Prenatal Yoga and readiness was analyzed using Chi-Square and Fisher’s Exact tests. The study found no significant association between socio-demographic factors or yoga practice and physical readiness. In contrast, mental readiness was significantly associated with place of residence (p = 0.006), maternal education (p = 0.025), and participation in prenatal yoga (p = 0.000). Prenatal Yoga emerged as the strongest predictor of mental readiness for childbirth, highlighting its potential as a safe, accessible, and effective strategy to reduce anxiety, enhance self-efficacy, and improve emotional resilience. Promoting Prenatal Yoga within maternal health programs may empower women to face childbirth with greater confidence and mental preparedness.
Determinan Psikososial dan Individu terhadap Perilaku Berkendara pada Mahasiswa di Jayapura: Studi Potong Lintang Menggunakan Teori Perilaku Terencana Damanik, Brema JK; Walianggen, Nimbrot; Hidayanti, Maria Ulfa Nur
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.33725

Abstract

Latar Belakang Perilaku berkendara berisiko di kalangan mahasiswa merupakan tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di Jayapura, Indonesia, di mana penggunaan sepeda motor sangat luas sementara penegakan hukum lalu lintas masih terbatas. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor individu dan psikosial terhadap perilaku berkendara menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Metode: Studi menerapkan desain potong lintang dengan responden adalah 76 mahasiswa di Jayapura. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mencakup aspek sikap, norma yang dirasakan, efikasi diri, motivasi pengendalian diri, dan pengetahuan berkendara. Analisis regresi logistik multivariat digunakan untuk mengidentifikasi prediktor yang signifikan. Hasil: Pengendara berjenis kelamin laki-laki (AOR = 7,235; 95% CI: 1,914–27,350; p = 0,004), pengalaman berkendara sejak usia <17 tahun (AOR = 7,100; 95% CI: 1,808–27,891; p = 0,005), efikasi diri rendah (AOR = 6,280; 95% CI: 1,083–36,401; p = 0,040), dan pengetahuan lalu lintas kurang baik (AOR = 0,240; 95% CI: 0,061–0,943; p = 0,041) berasosiasi signifikan dengan perilaku berkendara berisiko. Sikap dan norma yang dirasakan tidak berasosiasi secara signifikan dengan perilaku tersebut. Kesimpulan: Perilaku berkendara berisiko di kalangan mahasiswa lebih banyak berasosiasi dengan karakteristik individu dan kompetensi psikologis dibandingkan dengan sikap atau norma sosial. Intervensi sebaiknya difokuskan pada peningkatan efikasi diri dan pendidikan lalu lintas yang terarah, terutama bagi pengendara laki-laki muda yang telah terbiasa menggunakan sepeda motor sejak dini.
Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Teluk Bintuni Simatupang, Haposan; Damanik, Brema JK; Hidayanti, Maria Ulfa Nur
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.36663

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan beban tinggi di Indonesia. Selain dipengaruhi faktor lingkungan dan sosial ekonomi, perilaku individu turut berperan dalam penularan dan perkembangan TB. Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis prediktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian TB paru di Kabupaten Teluk Bintuni. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan 210 responden yang dipilih melalui random sampling dari 16 puskesmas pada Maret–April 2025. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner. Analisis meliputi uji Chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk menentukan prediktor dominan pada tingkat signifikansi 95%. Hasil: Prevalensi TB paru adalah 43,8%. Perilaku responden meliputi riwayat kontak serumah (39,5%), kontak sosial (28,1%), kebiasaan mengunyah pinang (62,9%), tidur tidak teratur (35,2%), meludah sembarangan (63,8%), dan tidak membuka jendela secara rutin (69%). Kontak sosial (p=0,015) dan mengunyah pinang (p=0,049) berhubungan signifikan dengan kejadian TB paru. Analisis multivariat menunjukkan kontak sosial sebagai prediktor paling dominan (p=0,019; OR=0,454; 95% CI: 0,235–0,878). Kesimpulan: Kontak sosial dan kebiasaan mengunyah pinang merupakan prediktor perilaku signifikan terhadap kejadian TB paru, dengan kontak sosial sebagai faktor paling dominan. Intervensi pencegahan perlu difokuskan pada edukasi perubahan perilaku, pengurangan kebiasaan berisiko, serta penguatan deteksi dini melalui surveilans pada kelompok dengan interaksi sosial tinggi.