Aplikasi kecerdasan buatan (AI) generatif, khususnya ChatGPT, telah mengalami adopsi yang masif dan mengubah cara pengguna mencari informasi serta berinteraksi dengan teknologi. Dalam pasar yang kompetitif ini, memahami perceived value pengguna menjadi krusial bagi penyedia layanan. Perceived value merupakan konsep penting bagi pemasar karena terbukti memengaruhi perilaku konsumen di setiap fase pembelian.Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang membentuk perceived value pengguna aplikasi AI ChatGPT, dengan fokus pada konteks pengguna di Provinsi Bali. Secara spesifik, studi ini menguji dampak perceived price dan perceived quality terhadap perceived value.Metodologi penelitian yang digunakan kuantitatif eksplanatif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebar kepada 100 responden pengguna ChatGPT, yang dipilih melalui metode purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan Analisis Jalur dan Sobel test. Temuan utama menunjukkan bahwa perceived price tidak secara langsung memengaruhi perceived value. Sebaliknya, pengaruh perceived price terhadap perceived value dimediasi secara penuh (full mediation) oleh perceived quality. Secara spesifik, hasil analisis jalur membuktikan bahwa perceived price berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived quality, dan perceived quality kemudian berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived value. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah memberikan rekomendasi strategis bagi penyedia layanan AI untuk meningkatkan perceived value pengguna, penetapan harga misalnya untuk layanan premium tidak dapat berdiri sendiri dan harus memastikan bahwa harga yang mereka tetapkan sepadan dengan kualitas fitur, akurasi informasi, dan keandalan.