Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LITERASI DIGITAL SEBAGAI FAKTOR PENDUKUNG PENCAPAIAN SDGS 2030: SEBUAH KAJIAN LITERATUR Fitrianti; Muhammad Safwan Jamil
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 8 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Agustus
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/r6kh3q86

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis literasi digital sebagai faktor pendukung tercapainya tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian berdasarkan berbagai sumber kajian pustaka menunjukkan bahwa literasi digital merupakan salah satu unsur atau faktor yang berperan penting dalam mendukung SDGs 2030. Implikasi literasi media dapat dilihat pada berbagai sektor antara lain sektor pendidikan (tujuan 4); keterampilan digital membantu meningkatkan kemampuan akademik, berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi siswa. Lebih lanjut, keterampilan literasi juga berkontribusi dalam meningkatkan taraf hidup pengguna dengan membuka peluang dan akses yang luas untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi (tujuan 8). Keterampilan digital juga dapat dikuasai oleh laki-laki dan perempuan, sehingga hal ini membantu tercapainya kesetaraan gender yang merupakan tujuan SDGs nomor 5. Oleh karena itu, keunggulan keterampilan teknologi digital berkontribusi pada peningkatan kreativitas dan inovasi serta pengembangan sumber daya masyarakat (tujuan SDGs 9). Kesimpulannya adalah literasi media merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan 2030 dan hal ini akan menciptakan masyarakat Indonesia yang melek huruf dan bermartabat.
MI REBUS BELITUNG SEBAGAI CERMIN BUDAYA MELAYU: PERSPEKTIF SEMIOTIKA PIERCE Putri Oktarin Nandya; Muhammad Safwan Jamil
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 9 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi September
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/wzg3hn40

Abstract

Kepulauan Bangka Belitung memiliki kekayaan alam yang melimpah, selain itu juga memiliki kuliner khas yang mencerminkan akulturasi budaya lokal, khususnya pengaruh budaya Melayu. Salah satu kuliner yang terkenal di Pulau Belitung adalah Mie Rebus Belitung, sebuah kuliner yang memadukan bahan-bahan lokal dengan teknik memasak Tionghoa dan menghasilkan rasa unik yang menjadi identitas budaya Pulau Belitung. Artikel ini ditulis bertujuan untuk menggambarkan kekayaan kuliner Belitung, terutama Mie Rebus Belitung, sebagai refleksi dari akulturasi budaya Melayu. Selain itu, artikel ini juga ditulis untuk menjelaskan peran kuliner dalam kebudayaan Melayu, dengan menekankan bagaimana Mie Rebus Belitung menjadi simbol tradisi dan identitas budaya. Dengan menggunakan kajian teori semiotika Charles Sanders Peirce, artikel ini menganalisis bahwa Mie Rebus Belitung memiliki ikon, indeks, dan simbol dari kehidupan sosial, budaya, dan sejarah masyarakat Belitung. Sebagai bagian dari kebudayaan, Mie Rebus Belitung juga berperan dalam mendukung sektor pariwisata dan ekonomi lokal, menjadikannya lebih dari sekadar makanan, tetapi sebagai wujud keberagaman budaya yang harmonis di Pulau Belitung.
PERANAN DAN JEJAK SEJARAH BENTENG PENUTUK BANGKA SELATAN SEBAGAI SIMBOL KETAHANAN MARITIM DI PULAU LEPAR Eliza Hizrial; Muhammad Safwan Jamil
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 11 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi November
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/56ndfv49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah berdirinya Benteng Penutuk di Pulau Lepar, Bangka Selatan, serta menelusuri makna simboliknya sebagai wujud ketahanan maritim masyarakat pesisir. Benteng Penutuk merupakan salah satu peninggalan penting yang merepresentasikan sistem pertahanan dan strategi keamanan laut pada masa lalu. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif historis, melalui pengumpulan data lapangan, wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi terhadap arsip kolonial, literatur sejarah, serta hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Penutuk didirikan pada masa dominasi kolonial Belanda sebagai bagian dari jaringan pertahanan di wilayah Bangka Selatan untuk mengawasi aktivitas perdagangan timah dan mencegah ancaman bajak laut. Benteng ini berfungsi strategis dalam menjaga jalur pelayaran serta menjadi pusat kontrol pertahanan dan ekonomi maritim. Namun, di luar fungsi militernya, Benteng Penutuk juga memiliki makna simbolik bagi masyarakat Pulau Lepar sebagai penanda identitas dan ketahanan sosial-budaya. Bagi masyarakat lokal, benteng ini menjadi simbol keberanian, solidaritas, dan kesadaran kolektif dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Benteng Penutuk tidak hanya berperan sebagai artefak sejarah, tetapi juga sebagai simbol ketahanan maritim yang menggambarkan semangat pertahanan, nilai-nilai gotong royong, dan kemandirian masyarakat pesisir Bangka Selatan. Benteng Penutuk dapat dijadikan sebagai media edukatif dan sumber inspirasi dalam memperkuat kesadaran sejarah, identitas budaya maritim, serta pembangunan berkelanjutan berbasis warisan bahari.