Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah berdirinya Benteng Penutuk di Pulau Lepar, Bangka Selatan, serta menelusuri makna simboliknya sebagai wujud ketahanan maritim masyarakat pesisir. Benteng Penutuk merupakan salah satu peninggalan penting yang merepresentasikan sistem pertahanan dan strategi keamanan laut pada masa lalu. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif historis, melalui pengumpulan data lapangan, wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi terhadap arsip kolonial, literatur sejarah, serta hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Penutuk didirikan pada masa dominasi kolonial Belanda sebagai bagian dari jaringan pertahanan di wilayah Bangka Selatan untuk mengawasi aktivitas perdagangan timah dan mencegah ancaman bajak laut. Benteng ini berfungsi strategis dalam menjaga jalur pelayaran serta menjadi pusat kontrol pertahanan dan ekonomi maritim. Namun, di luar fungsi militernya, Benteng Penutuk juga memiliki makna simbolik bagi masyarakat Pulau Lepar sebagai penanda identitas dan ketahanan sosial-budaya. Bagi masyarakat lokal, benteng ini menjadi simbol keberanian, solidaritas, dan kesadaran kolektif dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Benteng Penutuk tidak hanya berperan sebagai artefak sejarah, tetapi juga sebagai simbol ketahanan maritim yang menggambarkan semangat pertahanan, nilai-nilai gotong royong, dan kemandirian masyarakat pesisir Bangka Selatan. Benteng Penutuk dapat dijadikan sebagai media edukatif dan sumber inspirasi dalam memperkuat kesadaran sejarah, identitas budaya maritim, serta pembangunan berkelanjutan berbasis warisan bahari.