Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Respon Morfologi Bibit Kelapa Sawit Terhadap Pemberian Pupuk Fadli Pangaribuan, Ikhwan; Diah Setiowati, Retno; Wening, Sri; Rahma Pratiwi, Dian; Novandi Ginting, Eko; Mardiana, Cut; Ernayunita, Ernayunita
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 33 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v33i2.294

Abstract

Kelapa sawit memerlukan pasokan nutrisi yang seimbang dan cukup untuk mencapai hasil yang optimal. Unsur-unsur seperti nitrogen (N) dan kalium (K) adalah makronutrien yang paling penting dibutuhkan oleh tanaman. Biaya aplikasi pupuk relatif tinggi, yang menimbulkan peluang dan tantangan dalam merakit bahan tanaman yang efisien dalam pemanfaatan nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati respons berbagai populasi tanaman kelapa sawit terhadap perlakuan aplikasi pupuk. Penelitian ini disusun menggunakan rancangan split-split plot dengan tiga faktor: jenis pupuk [nitrogen (N1) dan kalium (N2)], dosis pupuk [0% (P0), 100% (P1), 75% (P2), dan 50% (P3) dari dosis yang dianjurkan], dan bahan tanaman [populasi 1-6 (V1-V6)], diulang sebanyak enam kali. Perlakuan dengan rata-rata tinggi tanaman tertinggi diamati pada P2, dimana pupuk diaplikasikan sebesar 75% dari dosis yang dianjurkan. Sebaliknya, kombinasi jenis pupuk dan dosis terbaik diperoleh dari N1, yang mengacu pada tanaman yang diperlakukan dengan 75% pupuk nitrogen yang dianjurkan. Berdasarkan populasi yang digunakan, populasi V1 menunjukkan rata-rata tinggi tanaman terendah, berbeda signifikan dari populasi lainnya. Ketika mengamati populasi, rata-rata jumlah daun populasi V2 dan V6 berbeda signifikan dari yang lain dan memiliki rata-rata tertinggi. Namun, ketika mengamati interaksi dengan jenis pupuk, interaksi N2V6 yang melibatkan populasi enam yang diperlakukan dengan pupuk kalium menunjukkan rata-rata jumlah daun tertinggi dan berbeda signifikan dari interaksi lainnya. Mengenai diameter batang, populasi V3, V2, V4, dan V6 memiliki rata-rata diameter batang terbesar dan berbeda signifikan dari V5 dan V1. Kombinasi perlakuan N2P2V6 (populasi enam yang diperlakukan dengan 75% pupuk kalium) dan N1P3V2 (populasi dua yang diperlakukan dengan 50% pupuk nitrogen) memiliki rata-rata diameter batang terbesar, masing-masing 8,14 cm dan 8,07 cm, dan berbeda signifikan dari 46 interaksi lainnya. Di sisi lain, rata-rata diameter batang terkecil ditemukan pada tanaman dengan interaksi N2P3V1, yang berukuran 5,33 cm, dan berbeda signifikan dari 47 interaksi lainnya.
DAPATKAH POHON KELAPA SAWIT PULIH PASCA PENGAMBILAN SUMBER EKSPLAN? Rahma Pratiwi, Dian; Wening, Sri; Ernayunita, Ernayunita; Nazri`, Erwin
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.189

Abstract

Perbanyakan kelapa sawit melalui kultur jaringan memerlukan pohon ortet unggul sebagai sumber eksplannya. Penggunaan sumber eksplan berupa daun muda lebih diminati karena jumlahnya melimpah, tersusun atas jaringan yang meristematik, serta kondisinya lebih steril. Namun pemotongan sumber eksplan di dekat daerah meristem juga memiliki risiko seperti serangan hama dan penyakit akibat luka terbuka hingga potensi kematian tanaman. Pohon ortet yang dijadikan sampel terdiri dari tiga kategori umur yakni 5, 10, dan 18 tahun. Pengamatan pohon ortet pasca pengambilan sumber eksplan bertujuan untuk mengetahui proses pemulihan sejak adanya pelukaan hingga tumbuh menjadi tanaman yang normal kembali serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses pemulihan tersebut. Proses pemulihan tajuk diawali dengan pembentukan pelepah-pelepah abnormal terlebih dahulu yang berjumlah 9-11 pelepah, kemudian berangsur pulih seiring waktu untuk membentuk pelepah normal. Proses pemulihan pada tanaman muda relatif lebih cepat dibandingkan dengan tanaman tua. Pada tanaman berusia 5 tahun tanaman sudah terlihat normal setelah 9 bulan, sedangkan pada tanaman berusia 10 tahun proses pemulihan memerlukan waktu 14 bulan. Proses pemulihan umumnya memerlukan waktu setidaknya dua tahun, sehingga resampling dari pohon ortet yang sama sebaiknya dilakukan di tahun ketiga setelah pengambilan sebelumnya. Proses pemulihan tajuk memerlukan waktu yang relatif lama karena dipengaruhi beberapa faktor seperti aktivitas single shoot apical meristem (SAM) untuk produksi primordia daun, serta ketersediaan karbon yang meliputi penyerapan dan translokasi untuk pertumbuhan tanaman.