Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Resepsi Stuart Hall Pada Tayangan Youtube Narasi TV Episode Prabowo Menjawab Puput Juniar; Yulianti Fajar Wulandari; Ali Imron Hamid
An Nafi': Multidisciplinary Science Vol. 2 No. 03 (2025): An Nafi’
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the audience's reception position toward the “Prabowo Menjawab” episode on Narasi TV’s YouTube channel using Stuart Hall’s decoding theory. The research employs a qualitative approach through observation and interviews. A total of 30 comments were selected from 7,866 comments based on popularity (number of likes, replies, and posting time within the past two months), while interviews were conducted with four informants who had fully watched the video. The findings indicate that the majority of audiences occupy the oppositional decoding position, consciously rejecting the narrative and interpreting the program as a form of political image-building. Some audiences fall into the negotiated position, partially accepting the message while maintaining a critical stance toward its substance. Only a small portion of the audience demonstrates a dominant-hegemonic stance, showing full acceptance of the message. These results suggest that audiences are active in interpreting media content and that media constructions are not always received passively, but can be negotiated or even resisted.
Konten Edukatif di Instagram: Studi Kasus Tasya Farasya Approved Febriansis, Diva; Yulianti Fajar Wulandari; Ali Imron Hamid
Brand Communication Vol. 4 No. 3 (2025): Media Sosial dan Peradaban Manusia
Publisher : Prisani Cendekia Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Social media today serves not only as a means of communication and entertainment, but has also become a space for people to obtain information and knowledge. Instagram, as one of the most popular visual platforms, has given rise to the phenomenon of influencers who play a significant role in shaping public opinion. One prominent figure is Tasya Farasya, a beauty influencer known for her "Tasya Farasya Approved" content on her Instagram account. This study aims to analyze the extent to which the content produced contains educational value for the public. The study used a qualitative approach with a content analysis method on a number of posts over a certain period. The results show that Tasya Farasya's content is not only product promotion but also includes elements of public education in the form of explanations of ingredients, functions, how to use, and ethical considerations in choosing products. Analysis using the Two-Step Flow of Communication and Social Learning theories shows that Tasya Farasya acts as an opinion leader who not only conveys information from manufacturers but also interprets it in language that is easily understood by the public, resulting in a two-step communication flow that strengthens public understanding. This study concludes that the role of influencers can go beyond commercial functions to become an educational tool, particularly in the field of beauty literacy.
PERAN EMPATIK DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK: STUDI KASUS FENOMENOLOGIS PADA PENGALAMAN TERAPIS PSIKOLOG DI RSUD ANUGERAH SEHAT AFIAT DEPOK Endri Choirunnisa; Yulianti Fajar Wulandari; Ali Imron Hamid
An Nafi': Multidisciplinary Science Vol. 2 No. 4 (2025): An Nafi’
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi terapeutik memiliki peran sentral dalam proses penyembuhan pasien, terutama ketika empati menjadi inti dalam interaksi antara terapis dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan peran empatik dalam komunikasi terapeutik di RSUD Anugerah Sehat Afiat Depok dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Metode ini digunakan untuk menggali pengalaman subjektif para terapis psikolog dalam membangun hubungan empatik dengan pasien. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis fenomenologis dengan tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati menjadi fondasi utama dalam komunikasi terapeutik, yang diwujudkan melalui perhatian penuh, pendengaran reflektif, sikap nonverbal yang menenangkan, serta penerimaan tanpa penilaian. Empati terbukti meningkatkan rasa aman, kepercayaan, dan keterbukaan pasien dalam proses terapi, sekaligus memperkuat motivasi penyembuhan. Temuan ini menegaskan tiga dimensi empati dalam praktik terapeutik, yaitu empati kognitif, afektif, dan perilaku, yang secara sinergis membentuk hubungan terapeutik yang manusiawi dan efektif. Penelitian ini juga memperkuat teori Hildegard Peplau tentang hubungan interpersonal terapeutik serta fenomenologi Schutz mengenai kesadaran intersubjektif dalam memahami pengalaman manusia. Dengan demikian, empati tidak hanya berfungsi sebagai respon emosional, tetapi juga sebagai keterampilan profesional dan nilai kemanusiaan yang menjadi dasar praktik psikologi klinis modern. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pelatihan empatik bagi tenaga psikolog guna meningkatkan kualitas komunikasi terapeutik dan efektivitas penyembuhan pasien.
Makna Kehilangan pada Lirik Lagu “Satu Bulan” di Akun Resmi Youtube Bernadya Vicko Fabian Putra Pribadi; Yulianti Fajar Wulandari; Ali Imron Hamid
Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Sosial Politik Vol. 3 No. 2 (2025): Oktober - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jiksp.v3i2.3502

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna kehilangan dalam lirik lagu 'Satu Bulan' karya Bernadya dan resepsi audiens Generasi Z terhadapnya. Musik, sebagai media interaktif, berperan dalam pembentukan identitas dan ekspresi isu sosial. Lagu 'Satu Bulan' relevan karena mengangkat tema kehilangan, kerinduan, dan keterpisahan emosional, yang banyak digunakan Generasi Z dalam unggahan media sosial. Generasi Z (lahir 1997-2012) selektif, ekspresif, dan responsif terhadap konten personal. Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis resepsi Stuart Hall, berfokus pada tiga posisi decoding: dominan-hegemonik, negosiasi, dan oposisi. Hasil menunjukkan mayoritas Generasi Z menginterpretasikan lagu sebagai refleksi mendalam atas kehilangan personal (orang tua, anak, kekasih). Resepsi negosiasi menyesuaikan makna dengan konteks pribadi, sementara resepsi oposisi menolak makna dominan atau menginterpretasikannya secara berbeda (humor/kritis). Studi ini berkontribusi pada pemahaman hubungan musik dan identitas emosional generasi muda, serta peran musik sebagai media refleksi dan penyembuhan.