Putri Eka Ramadhani Batubara
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlindungan Hukum Bagi Calon Jemaah Umrah Pasca Pencabutan Izin Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Aini Widya Utami; Putri Eka Ramadhani Batubara
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 8 No. 2 (2025): AUGUST
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v8i2.12364

Abstract

This study examines the forms of legal protection and legal remedies available to prospective Umrah pilgrims following the revocation of licenses of Umrah Travel Organizers (PPIU) by the Ministry of Religious Affairs. The problem arises from the growing number of cases where pilgrims had fully paid for Umrah services but were not departed, such as in the case of PT. Naila Syafaah Wisata Mandiri. The license revocation has caused legal uncertainty, a lack of accountability, and financial harm to affected pilgrims. This research highlights the urgency of providing effective legal protection for prospective pilgrims who are placed in a vulnerable position due to the failure of the organizers to fulfill their obligations. Using a normative juridical method with statute, conceptual, and case approaches, this study finds that the affected pilgrims maintain a strong legal position based on civil law principles. Legal protection can be pursued through compensation claims, refund requests, and official complaints submitted to regulatory authorities. Legal remedies available include non-litigation efforts such as mediation, as well as litigation in the form of civil lawsuits, criminal reports, and class action lawsuits. This research contributes to filling the gap in post-license revocation consumer protection mechanisms in the legal framework of religious-based travel. It strengthens the theoretical understanding of civil liability and offers practical insights to improve regulatory safeguards and legal recovery channels for victims. This research provides a concrete contribution in encouraging comprehensive and sustainable improvements in regulations and protection systems for Umrah pilgrims in Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perlindungan hukum diterapkan serta upaya hukum yang dapat ditempuh oleh calon jemaah umrah pasca pencabutan izin Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) oleh Kementerian Agama. Latar belakang masalah ini muncul dari banyaknya kasus dimana calon jemaah telah melakukan pembayaran secara penuh, namun tidak diberangkatkan hingga akhirnya izin operasional PPIU dicabut, seperti yang terjadi pada PT. Naila Syafaah Wisata Mandiri. Kondisi ini menimbulkan kekosongan tanggung jawab, ketidakpastian hukum, serta kerugian yang menimpa jemaah sebagai konsumen jasa keagamaan. Urgensi penelitian terletak pada pentingnya perlindungan hukum yang efektif terhadap jemaah dalam posisi rentan akibat terputusnya mekanisme pertanggungjawaban setelah pencabutan izin. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang mengandalkan tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, serta pendekatan studi kasus. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus pembahasannya yang mengkaji perlindungan hukum terhadap calon jemaah yang telah melakukan pembayaran namun belum diberangkatkan, khususnya pasca pencabutan izin PPIU. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa calon jemaah memiliki kedudukan hukum yang kuat untuk menuntut haknya berdasarkan prinsip perikatan dalam hukum perdata. Perlindungan hukum dapat diberikan melalui jalur ganti rugi, pengembalian dana, serta pengaduan ke otoritas berwenang. Selain itu upaya hukum yang tersedia bagi jemaah mencakup penyelesaian nonlitigasi seperti mediasi, serta litigasi melalui gugatan pidana, gugatan perdata, termasuk gugatan kelompok (class action). Peran aktif pemerintah dalam pengawasan dan pemulihan hak-hak jemaah menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kasus serupa. Penelitian ini memberikan kontribusi konkret dalam mendorong perbaikan regulasi dan sistem perlindungan jemaah umrah di Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan.  
ANALISIS PUTUSAN PTUN MEDAN NOMOR 131\G\2023\PTUN MEDAN TERKAIT SERTIFIKAT HAK GUNA BANGUNAN PERSPEKTIF FIQH SIYASAH Ferdian Atallah; Putri Eka Ramadhani Batubara
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 1 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i1.919

Abstract

Sertifikat tanah merupakan alat bukti sah atas hak kepemilikan atau penguasaan atas tanah yang diterbitkan oleh negara berdasarkan peraturan perundang-undangan, khususnya yang diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Peraturan Pemerintah tentang Pendaftaran Tanah. Dalam hukum Islam, meskipun tidak dikenal sertifikat tanah secara formal, prinsip pemilikan dan pengelolaan tanah tetap dijunjung tinggi dengan pengakuan terhadap hak milik, pemanfaatan, dan perlindungan hukum. Kasus sengketa pertanahan yang diajukan oleh Penggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara Medan mencerminkan pentingnya kejelasan dan ketertiban dalam administrasi pertanahan. Penggugat mengklaim memiliki tanah seluas ±2 hektar berdasarkan serangkaian peralihan hak yang sah, namun kemudian mengetahui bahwa objek tanah tersebut telah disertifikatkan atas nama pihak lain melalui Sertifikat Hak Guna Bangunan No. 1547/Kel.Sunggal atas nama Yohannes Supratman yang diterbitkan pada tahun 2005. Ketidaktahuan atas penerbitan sertifikat dan tindakan penguasaan fisik oleh pihak ketiga menyebabkan kerugian pada Penggugat, sehingga gugatan diajukan berdasarkan ketentuan Pasal 53 UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sengketa ini menyoroti pentingnya sinkronisasi antara data yuridis dan data fisik dalam administrasi pertanahan guna menjamin kepastian hukum serta perlindungan hak atas tanah bagi masyarakat.