Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Tindakan Sosial Tokoh dan Mistisisme dalam Novel Mata di Tanah Melus Karya Okky Madasari (Tinjauan Sosiologi Sastra Max Webber): Penelitian Lengkong, Natasya; Hinta, Ellyana; Achmad Bagtayan, Zilfa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2071

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tindakan sosial tokoh dan fungsi mistisisme dalam novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra Max Weber. Fokus penelitian tertuju pada bagaimana tindakan sosial para tokoh utama terbentuk berdasarkan orientasi rasional, nilai, tradisi, dan afeksi, serta bagaimana mistisisme dalam novel berperan sebagai kekuatan sosial yang membentuk struktur masyarakat. Pendekatan sosiologi sastra dipilih karena mampu menjembatani dunia fiksi dengan kenyataan sosial yang dihidupi masyarakat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data penelitian berupa kutipan naratif dan dialog dalam novel yang merepresentasikan perilaku sosial tokoh-tokoh utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan sosial tokoh dalam novel ini tergolong ke dalam empat tipe tindakan sosial Max Weber, yakni tindakan rasional instrumental, tindakan berorientasi nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional. Sementara itu, mistisisme dalam novel tidak hanya hadir sebagai elemen religius, melainkan juga berfungsi sebagai simbol identitas kolektif, legitimasi kekuasaan, kontrol sosial, dan pengatur kehidupan spiritual masyarakat Tanah Melus.
Dimensi Kearifan Lokal Masyarakat Bali Dalam Antologi Cerpen Malam Pertama Calon Pendeta Karya Gde Aryantha Soethama: Penelitian Andi Bacok, Anggriyani; Karmin Baruadi, Mohamad; Achmad Bagtayan, Zilfa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2161

Abstract

Penelitian ini membahas kearifan lokal masyarakat Bali yang tercermin dalam antologi cerpen Malam Pertama Calon Pendeta karya Gde Aryantha Soethama dengan menggunakan teori kearifan lokal menurut Jim Ife. Cerpen ini menggambarkan kehidupan masyarakat Bali yang penuh dengan tradisi, sistem kasta, dan adat yang mempengaruhi kehidupan sosial sehari-hari, di mana tokoh-tokoh cerita harus menghadapi dilema antara pilihan pribadi dan tuntutan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi kearifan lokal dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui membaca berulang kali, mencatat, serta memverifikasi teks dan referensi terkait. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan antropologi sastra, berfokus pada enam dimensi kearifan lokal menurut Jim Ife: (1) pengetahuan lokal, (2) kebudayaan lokal, (3) sumber daya lokal, (4) keterampilan lokal, (5) proses lokal, dan (6) kerja dalam solidaritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan belas budaya yang teridentifikasi dalam keenam dimensi tersebut, yang menggambarkan kesenian, upacara adat, profesi, dan nilai-nilai sosial masyarakat Bali.
ANALISIS TEORI HERMENEUTIKA PADA PUISI TERATAI KARYA SANUSI PANE Bila Talaa, Salsa; Achmad Bagtayan, Zilfa
Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol 14, No 2 (2024): (Mei 2024)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jbsb.v14i2.23459

Abstract

Karya sastra, dipandang dari perspektif hermeneutik, dianggap sebagai objek yang perlu diinterpretasikan oleh subjek. Hermeneutik, yang berasal dari kata Yunani "hermeneuein", memiliki makna "menjelaskan, menerjemahkan, dan mengekspresikan". Hubungan timbal balik antara subjek dan objek dalam hermeneutik mencerminkan korelasi atau fungsi komponen-komponen tersebut. Objek menjadi objek karena perhatian dan kearifan subjek, yang memberikan makna atau interpretasi berdasarkan perspektifnya. Puisi "Teratai" karya Sanusi Pane menjadi fokus penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian hermeneutika. Data diperoleh melalui simak catat, analisis dokumen, dan telaah pustaka. Metode studi pustaka dipilih karena data dikumpulkan melalui referensi yang telah ada, yang kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian di lapangan terkait substansi puisi. Pendekatan hermeneutika dalam penelitian sastra membuka kemungkinan untuk mengungkap lapisan-lapisan makna tersembunyi dalam karya, melampaui keindahan fisik teratai dalam puisi. Puisi ini mencerminkan hubungan manusia dengan alam, menggambarkan keindahan yang tersembunyi, dan menyampaikan pesan moral untuk menjaga keindahan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini juga mencermati penggunaan hermeneutika dalam karya sastra Indonesia, khususnya puisi "Teratai", untuk mengeksplorasi simbol-simbol dan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sanusi Pane menggambarkan Ki Hajar Dewantara dalam puisinya, menyentuh aspek kebangsaan dengan semangat keindonesiaan yang murni. Hermeneutika menjadi landasan untuk memahami dan menggali makna dalam karya sastra tersebut.
Transendensi Feminin Tokoh Mata Hari dalam Novel Namaku Mata Hari Karya Remy Sylado: Penelitian Nurgian Utina, Siti; Hinta, Ellyana; Achmad Bagtayan, Zilfa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3310

Abstract

This study examines Remy Sylado's novel Namaku Mata Hari, which portrays Mata Hari's struggles as a woman facing a marriage that does not meet her expectations. Initially, Mata Hari perceives marriage as a path to happiness and self-actualization. However, she instead experiences domestic violence and infidelity, which deprive her of freedom and her rights as a woman. These conditions drive her to resist patriarchal norms through a transformative process toward becoming an independent woman. This research focused on two main aspects: the concept of feminine transcendence and the representation of women, as exemplified by Namaku Mata Hari. The analysis employed Simone de Beauvoir's existentialist feminist theory as presented in The Second Sex, which explored women's transcendence of oppression through freedom and consciousness in defining their identities. The study employed a descriptive qualitative method, utilizing reading, observation, and note-taking techniques. The findings revealed that Mata Hari succeeded in liberating herself from oppression by assuming the role of an entertainer who introduced Indonesian culture to the world, thereby achieving both economic and intellectual independence.
PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN DALAM NOVEL ANIMAL FARM KARYA GEORGE ORWELL DAN NEGERI PARA BEDEBAH KARYA TERE LIYE: KAJIAN SASTRA BANDINGAN Achmad Bagtayan, Zilfa; Anamira Pobela, Julianti; Nurhalisa Pobela, Siti
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 3 Nomor 2, September-Desember 2025
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v3i2.207

Abstract

Abuse of power is a social phenomenon often reflected in literary works as a form of criticism of the reality of social life. This study aims to describe the similarities and differences in the forms of power in George Orwell's novel Animal Farm and Tere Liye's novel Negeri Para Bedebah. This study uses a comparative literature approach with Alan Swingewood's sociological analysis framework, which views literature as a social mirror and a means of understanding societal structures. The research method used is descriptive qualitative with content analysis techniques. The results of the study show significant similarities in both novels in terms of legal manipulation, the use of propaganda, and the exclusion of idealism for the sake of elite control. Fundamental differences are found in their sociological contexts: Animal Farm represents the protection of power in a totalitarian system based on physical revolution, while Negeri Para Bedebah reflects power in a modern capitalist system through economic manipulation and political networks. The conclusion of this study confirms that although written in different time and cultural settings, these two novels both threaten how uncontrolled power tends to become a tool of oppression that harms human values.
Representasi Realitas Sosial dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna: Kajian Sosiologi Sastra Alan Swingewood: Penelitian Kadir, Herson; Achmad Bagtayan, Zilfa; Mangilo, Nurhalima; S. Daud, Yuniarti; Mongilong, Melani
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3860

Abstract

This study aims to reveal the representation of social reality in Brian Khrisna's novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Chicken Noodles Before Dying) using Alan Swingewood's sociological approach to literature. Through qualitative descriptive analysis, this study examines how the social conditions of modern society are reflected through experiences in the novel. The results of the analysis show that this novel presents three main forms of social reality, namely poverty, social injustice, and crime. Poverty is depicted through people's lives full of economic limitations and life pressures that make them trapped in a cycle of decisions. Injustice in families often arises when rules are not applied consistently. Meanwhile, crime arises as a consequence of deep-rooted economic and social pressures, showing how violence and criminal acts are part of the dynamics of harsh urban society. Based on Swingewood's theory, this novel functions as a reflection of social reality as well as a critique of inhumane social conditions. Thus, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati not only presents the personal stories of its characters, but also presents a portrait of complex social life in contemporary society.
Pandangan Dunia Pengarang Novel Bandung Menjelang Pagi Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann: Penelitian Kadir, Herson; Achmad Bagtayan, Zilfa; Hanapi, Ratna; Pomolango, Cindriawati; Debila P. Deu, Zaqia; Mooduto, Oktafiyani
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4193

Abstract

This study analyzes the author's worldview in Brian Khrisna's novel Bandung Nearing Morning using Lucien Goldmann's genetic structuralism approach. This study aims to reveal the relationship between the novel's narrative structure and the social structure of urban society as represented through themes, conflicts, characters, and settings. The research method used is descriptive qualitative with textual analysis of intrinsic elements containing expressions of collective ideas and values. The research findings show that this novel presents the dynamics of urban life characterized by identity crises, the pressures of modernity, the disintegration of social relations, and the existential struggles of its characters. The city of Bandung functions as a social space that mediates the characters' psychological conflicts and reflects the conditions of contemporary society. The author's worldview is reflected through criticism of the fast-paced urban lifestyle as well as messages about the importance of self-reflection, emotional health, and the restoration of human relations. This novel, therefore, functions as a social representation that integrates personal experiences and historical contexts in its narrative structure.