The phenomenon of wedangan in Surakarta represents an informal public space that has a significant role in shaping social interaction and collective identity in Javanese urban society. Beyond its function as a food and beverage stall, wedangan operates as a local public sphere where cross-class encounters, everyday communication, and social negotiations take place. This study aims to analyze how wedangan functions as an informal public space and how social identity is produced and negotiated amid the processes of modernization and globalization. Employing a descriptive qualitative approach, this research draws on observations, in-depth interviews, and documentation conducted in three types of wedangan: Wedangan Pak Djaiman (traditional), Wedangan Gerobak (mobile and grassroots), and Wedangan Nala Gareng (semi-modern adaptation). The findings demonstrate that wedangan sustains egalitarian values, guyub (togetherness), and social cohesion, while simultaneously accommodating selective elements of modernity. Rather than being eroded by modern lifestyles, wedangan actively negotiates modern influences through cultural adaptation and everyday practices. This study contributes theoretically to the discussion of non-Western public spheres by illustrating that public space in urban Indonesia is not solely formal, institutionalized, or rational in the Habermasian sense, but also embedded in informal, cultural, and relational practices. Furthermore, the findings reconceptualize social identity not as a fixed entity, but as a situational and dynamic process shaped through everyday interactions in informal urban spaces. Empirically, this research enriches cultural and urban sociology by positioning wedangan as an active agent of social change that mediates tradition and modernity within contemporary Javanese society. Fenomena wedangan di Kota Surakarta merepresentasikan ruang publik informal yang memiliki peran signifikan dalam membentuk interaksi sosial dan identitas kolektif dalam masyarakat perkotaan Jawa. Lebih dari sekadar tempat penjualan makanan dan minuman, wedangan berfungsi sebagai ruang publik lokal tempat terjadinya perjumpaan lintas kelas, komunikasi keseharian, serta negosiasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana wedangan berfungsi sebagai ruang publik informal serta bagaimana identitas sosial diproduksi dan dinegosiasikan di tengah proses modernisasi dan globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan pada tiga tipe wedangan, yaitu Wedangan Pak Djaiman (tradisional), Wedangan Gerobak (bersifat mobile dan berbasis akar rumput), serta Wedangan Nala Gareng (adaptasi semi-modern). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wedangan mampu mempertahankan nilai-nilai egalitarian, guyub (kebersamaan), dan kohesi sosial, sekaligus mengakomodasi unsur-unsur modernitas secara selektif. Alih-alih tergerus oleh gaya hidup modern, wedangan justru secara aktif menegosiasikan pengaruh modern melalui adaptasi budaya dan praktik keseharian. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada diskursus mengenai ruanpublik non-Barat dengan menunjukkan bahwa ruang publik di perkotaan Indonesia tidak semata-mata bersifat formal, terinstitusionalisasi, atau rasional dalam pengertian Habermasian, melainkan juga tertanam dalam praktik-praktik informal, kultural, dan relasional. Lebih lanjut, temuan penelitian ini merekonseptualisasi identitas sosial bukan sebagai entitas yang bersifat tetap, melainkan sebagai proses yang situasional dan dinamis, yang dibentuk melalui interaksi sehari-hari di ruang-ruang publik informal. Secara empiris, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi budaya dan perkotaan dengan menempatkan wedangan sebagai agen aktif perubahan sosial yang memediasi antara tradisi dan modernitas dalam masyarakat Jawa kontemporer.