Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Knowledge Authority and Power Relations in Digital Non-Formal Education: A Foucaultian Perspective on Alternative Learning Spaces Wicaksono, Ridlo Febi; Karsidi, Ravik
Indonesian Journal of Education and Mathematical Science Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ijems.v6i3.25662

Abstract

This study examines how digital non-formal education platforms shape knowledge authority and power relations in the Indonesian context. Qualitative case studies of educational YouTube, national online courses, and global platforms have been conducted using content observation, documentation, and critical discourse analysis based on Foucault's theory. The results of the study show that the legitimacy of knowledge shifts from academic authority to popularity metrics and algorithmic logic. Algorithms, gamification, and certification schemes function as disciplinary mechanisms that guide learning behavior while recording user data. Learning subjects are constructed as independent and productive individuals, but also as consumers and data commodities. The conclusion of the study confirms that claims of inclusivity in digital education are partial because inequality of access and digital literacy continue to create new exclusions, while knowledge is spread fragmentarily outside the formal curriculum.
ANALISIS KEBERLANJUTAN DAN KEBERMANFAATAN PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT. KAI DAOP 6 YOGYAKARTA Wicaksono, Ridlo Febi; Zunariyah, Siti
JISIP UNJA (Jurnal Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jambi) Vol 9, No 2(2025): November
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fakultas Hukum Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jisipunja.v9i2.46436

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan dan kebermanfaatan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilaksanakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 (Daop 6) Yogyakarta. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya evaluasi program CSR yang tidak hanya bersifat formalitas, tetapi memiliki dampak nyata terhadap masyarakat. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengkaji 15 literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program CSR PT KAI telah menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan melalui berbagai inisiatif seperti Rail Clinic, Pojok Baca, dan pengembangan UMKM. Keberlanjutan program umumnya terlihat pada aspek sosial, sedangkan kebermanfaatan dirasakan melalui akses layanan dan peningkatan kesejahteraan komunitas. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan berupa kurangnya pelibatan stakeholder secara partisipatif dan belum optimalnya evaluasi dampak jangka panjang. Penelitian ini terbatas pada sumber literatur sekunder dan belum mengkaji evaluasi berbasis data primer. Rekomendasi penelitian selanjutnya adalah perlunya studi lapangan untuk mengukur dampak empiris CSR terhadap kelompok sasaran secara lebih terperinci, serta mendorong integrasi CSR dalam strategi bisnis berkelanjutan PT KAI.
Wedangan as a local public space: Social identity and cultural adaptation to modernity Wicaksono, Ridlo Febi; Wijaya, Mahendra; Zuber, Ahmad
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.42758

Abstract

The phenomenon of wedangan in Surakarta represents an informal public space that has a significant role in shaping social interaction and collective identity in Javanese urban society. Beyond its function as a food and beverage stall, wedangan operates as a local public sphere where cross-class encounters, everyday communication, and social negotiations take place. This study aims to analyze how wedangan functions as an informal public space and how social identity is produced and negotiated amid the processes of modernization and globalization. Employing a descriptive qualitative approach, this research draws on observations, in-depth interviews, and documentation conducted in three types of wedangan: Wedangan Pak Djaiman (traditional), Wedangan Gerobak (mobile and grassroots), and Wedangan Nala Gareng (semi-modern adaptation). The findings demonstrate that wedangan sustains egalitarian values, guyub (togetherness), and social cohesion, while simultaneously accommodating selective elements of modernity. Rather than being eroded by modern lifestyles, wedangan actively negotiates modern influences through cultural adaptation and everyday practices. This study contributes theoretically to the discussion of non-Western public spheres by illustrating that public space in urban Indonesia is not solely formal, institutionalized, or rational in the Habermasian sense, but also embedded in informal, cultural, and relational practices. Furthermore, the findings reconceptualize social identity not as a fixed entity, but as a situational and dynamic process shaped through everyday interactions in informal urban spaces. Empirically, this research enriches cultural and urban sociology by positioning wedangan as an active agent of social change that mediates tradition and modernity within contemporary Javanese society.   Fenomena wedangan di Kota Surakarta merepresentasikan ruang publik informal yang memiliki peran signifikan dalam membentuk interaksi sosial dan identitas kolektif dalam masyarakat perkotaan Jawa. Lebih dari sekadar tempat penjualan makanan dan minuman, wedangan berfungsi sebagai ruang publik lokal tempat terjadinya perjumpaan lintas kelas, komunikasi keseharian, serta negosiasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana wedangan berfungsi sebagai ruang publik informal serta bagaimana identitas sosial diproduksi dan dinegosiasikan di tengah proses modernisasi dan globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan pada tiga tipe wedangan, yaitu Wedangan Pak Djaiman (tradisional), Wedangan Gerobak (bersifat mobile dan berbasis akar rumput), serta Wedangan Nala Gareng (adaptasi semi-modern). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wedangan mampu mempertahankan nilai-nilai egalitarian, guyub (kebersamaan), dan kohesi sosial, sekaligus mengakomodasi unsur-unsur modernitas secara selektif. Alih-alih tergerus oleh gaya hidup modern, wedangan justru secara aktif menegosiasikan pengaruh modern melalui adaptasi budaya dan praktik keseharian. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada diskursus mengenai ruanpublik non-Barat dengan menunjukkan bahwa ruang publik di perkotaan Indonesia tidak semata-mata bersifat formal, terinstitusionalisasi, atau rasional dalam pengertian Habermasian, melainkan juga tertanam dalam praktik-praktik informal, kultural, dan relasional. Lebih lanjut, temuan penelitian ini merekonseptualisasi identitas sosial bukan sebagai entitas yang bersifat tetap, melainkan sebagai proses yang situasional dan dinamis, yang dibentuk melalui interaksi sehari-hari di ruang-ruang publik informal. Secara empiris, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi budaya dan perkotaan dengan menempatkan wedangan sebagai agen aktif perubahan sosial yang memediasi antara tradisi dan modernitas dalam masyarakat Jawa kontemporer.