Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Ekonomi Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng handayani, Sri Putri; Siradjuddin, Irsyadi; Idham AP, Andi; Anshar, Muhammad
Jurnal Kajian Ruang Vol 5, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v5i2.47506

Abstract

ABSTRAKKepadatan penduduk di suatu daerah seringkali memicu terjadinya alih fungsi lahan. Kondisi ini kemudian berdampak pada aspek ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan pertanian dan mengidentifikasi faktor serta dampak ekonominya. Studi ini penting untuk memahami efek jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi analisis data deskriptif kuantitatif, teknik overlay untuk melihat perubahan penggunaan lahan, serta uji Chi-Square guna menentukan faktor dan dampak ekonomi dari alih fungsi lahan pertanian. Hasil menunjukkan lahan pertanian menurun dari 7625,70 Ha (83,01%) pada 2014 menjadi 7164,44 Ha (77,99%) pada 2024 sementara lahan permukiman meningkat dari 562,86 Ha (6,13%) menjadi 860,38 Ha (9,37%). Faktor utama yang memengaruhi alih fungsi lahan meliputi jumlah dan kepadatan penduduk, pendidikan petani, infrastruktur, harga lahan, pendapatan, kebijakan, dan penyerapan tenaga kerja. Dampak positif dari segi ekonomi adalah terbukanya lapangan pekerjaan baru dan pergeseran struktur ekonomi masyarakat dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan jasa. Dampak negatifnya berupa penyusutan lahan pertanian yang mengancam produksi pangan, memicu kenaikan harga bahan pokok, dan mengganggu kestabilan ekonomi petani. Penelitian ini penting bagi negara berkembang untuk memahami dampak jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, serta sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan lahan.Kata Kunci: Perubahan Penggunaan lahan, Analisis Spasial, Alih Fungsi Lahan Pertanian, Dampak Ekonomi ABSTRACTPopulation density in an area often triggers land use change. This condition then has an impact on economic aspects. This study aims to analyze changes in agricultural land use and identify the factors and economic impacts. This study is important for understanding the long-term effects of land use change on environmental sustainability and community welfare. The methods used include quantitative descriptive data analysis, overlay techniques to observe changes in land use, and Chi-Square tests to determine the factors and economic impacts of agricultural land use change. The results show that agricultural land decreased from 7625.70 Ha (83.01%) in 2014 to 7164.44 Ha (77.99%) in 2024, while residential land increased from 562.86 Ha (6.13%) to 860.38 Ha (9.37%). The main factors influencing land conversion include population size and density, farmer education, infrastructure, land prices, income, policy, and labor absorption. The positive economic impact is the creation of new jobs and a shift in the community's economic structure from the agricultural sector to the industrial and service sectors. The negative impact is the reduction of agricultural land, which threatens food production, triggers an increase in the price of basic commodities, and disrupts the economic stability of farmers. This research is important for developing countries to understand the long-term impact of land conversion on environmental sustainability and welfare, as well as for consideration in land use decision-making.Keywords: Land Use Change, Agricultural Land Conversion, Spatial Analysis, Economic Impact
Analisis Indeks Desa Membangun Berbasis GIS di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad; Idham AP, Andi; Fitriani, Fitriani
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.111335

Abstract

Abstrak. Pembangunan desa merupakan salah satu kunci utama dalam mendorong pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perdesaan. Namun, perbedaan tingkat perkembangan antar desa masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, termasuk di Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Kondisi tersebut mendorong perlunya suatu kajian yang mampu memetakan status pembangunan desa secara lebih terukur dan terarah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status perkembangan desa berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) serta menyajikannya dalam bentuk pemetaan spasial. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan pemanfaatan indikator IDM yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa. Data dianalisis dan kemudian divisualisasikan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk menghasilkan peta status pembangunan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Tombolo Pao terdapat dua desa yang termasuk kategori maju, yaitu Desa Kanrepia dan Desa Pao, sedangkan enam desa lainnya masih berada pada kategori berkembang. Tidak terdapat desa yang mencapai kategori mandiri maupun yang tertinggal, sehingga kondisi ini mencerminkan adanya peluang percepatan pembangunan jika intervensi dilakukan secara tepat. Temuan ini menegaskan bahwa pemetaan IDM berbasis GIS tidak hanya memberikan gambaran spasial tentang status pembangunan desa, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen strategis dalam perencanaan pembangunan wilayah. Kesimpulannya, pemanfaatan IDM melalui pemetaan spasial mampu membantu pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan, mengarahkan alokasi sumber daya secara lebih efektif, serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan desa berkelanjutan.Abstract. Village development is one of the key drivers in promoting equitable growth and improving the welfare of rural communities. However, disparities in development levels among villages remain a challenge for local governments, including those in Tombolo Pao District, Gowa Regency. This condition highlights the need for a study capable of mapping village development status in a more measurable and systematic way, providing a solid basis for targeted policy-making. The objective of this research is to identify the development status of villages based on the Village Development Index (Indeks Desa Membangun/IDM) and to present the results through spatial mapping. The study applies a descriptive quantitative and qualitative approach using IDM indicators issued by the Ministry of Villages. Data were analyzed and then visualized using Geographic Information System (GIS) applications to produce maps of village development status. The findings reveal that in Tombolo Pao District, two villages Kanrepia and Pao fall into the advanced category, while six other villages remain in the developing category. No villages were classified as independent or underdeveloped, indicating that there is potential for accelerated development if proper interventions are implemented. These results emphasize that IDM-based GIS mapping not only provides a spatial representation of village development status but also serves as a strategic instrument in regional development planning. In conclusion, the utilization of IDM through spatial mapping can assist local governments in setting development priorities, directing resource allocation more effectively, and supporting the achievement of sustainable village development goals.Submitted: 2025-09-19 Revisions:   2025-12-03  Accepted:  2026-02-01 Published: 2026-02-06