Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengelolaan Madrasah Diniyah Nonformal dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Muatan Lokal di Madrasah Aliyah Al Hidayah Basmol Nor Yahya, Hilmi; Shunhaji, Akhmad; Sarnoto , Ahmad Zain
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 12 (2024): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v2i12.286

Abstract

Tesis ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektifitas Pengelolaan Madrasah Diniyah Nonformal Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Muatan Lokal metode penelitian yang dipergunakan adalah metode survei dengan Teknik penelitian menggunakan wawancara dan observasi kepada sumber data yaitu pengurus Yayasan kepala madrasah diniyah dan guru. Adapun hasil penelitian ini adalah sebaga iberikut; pertama, Pengelolaan Madrasah Diniyah Nonformal Al-Hidayah Basmol, masih belum menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan administratif yang dikemukakan oleh Henri Fayol. Akibatnya, tujuan pengelolaan madrasah diniyah ini belum sepenuhnya tercapai sesuai yang diharapkan. Padahal, madrasah ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran muatan lokal di Madrasah Aliyah Al-Hidayah. Jika sistem pengelolaan yang lebih baik diterapkan, madrasah diniyah ini dapat berperan lebih efektif dalam memperkuat fondasi ilmu agama dan keterampilan santri yang juga mengikuti program di Madrasah Aliyah. Kedua, Kualitas pembelajaran muatan lokal di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Basmol sangat tinggi, dengan fokus pada pemahaman keislaman yang mendalam, yang idealnya hanya bisa dicapai oleh santri yang telah lama berada di pondok pesantren. Muatan lokal ini merupakan warisan dari para guru terdahulu yang memiliki tingkat keilmuan yang sangat tinggi, sehingga level pembelajarannya menjadi sangat kompleks dan berorientasi pada pendalaman ilmu agama secara intensif. Hal ini tentunya memberikan tantangan bagi para siswa dalam memahami materi dengan baik. Seharusnya, Madrasah Diniyah nonformal dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan manfaat tambahan bagi pembelajaran muatan lokal di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Basmol, sehingga mendukung penguatan pemahaman agama para santri.
Epistemologi Empiris Qur’ani: Kajian Tafsir Tematik atas QS. Āli ‘Imrān [3]: 190-191, al-Ḥujurāt [49]: 6, dan al-Mulk [67]: 3-4 Kholik, Anas; Sarnoto , Ahmad Zain
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 6 No. 2 (2025): AT–TAISIR Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study of empirical verses in the Qur’an has gained renewed significance in the context of twenty-first–century scientific advancement, digital transformation, and the rapid circulation of information. Although discussions on the integration of science and religion have grown within Islamic philosophy and contemporary epistemology, many of these works exhibit a fundamental gap: the Qur’anic text itself is not analyzed as the primary object of study. Instead, empirical verses are often cited as slogans to support the discourse of “Islamic scientific ethics” or “integrative epistemology,” without undergoing rigorous tafsir-based examination. This research fills that gap by Conducting a thematic exegesis of three foundational empirical verses: Āli ‘Imrān [3]:190–191, which emphasizes cosmic contemplation (tadabbur); al-Ḥujurāt [49]:6, which establishes the principle of verification (tabayyun); and al-Mulk [67]:3–4, which introduces the principle of repeated observation (takrār al-baṣar). Employing the tafsīr mawḍū‘ī (thematic exegesis) method, this study integrates linguistic analysis, semantic mapping, contextual background, and a comparative reading of classical and contemporary commentaries. The findings reveal that these three verses collectively construct a Qur’anic empirical epistemology founded on three pillars: reflective observation (tadabbur), verification of information (tabayyun), and repeated examination (takrār al-baṣar). Together, they offer not only a Qur’anic articulation of empirical reasoning but also a value-laden framework in which empirical inquiry is guided by spiritual awareness and ethical responsibility. This research contributes to Qur’anic studies by grounding the discourse of empiricism and epistemology in the text itself rather than in philosophical abstraction. The proposed model provides a conceptual foundation for developing research methodology, scientific ethics, and Islamic education that are firmly rooted in the Qur’anic worldview.