Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Gamifikasi dalam Industri Ojek Online: Pengaruh terhadap Perlindungan dan Kesejahteraan Pekerja Muhammad Syaihuputra, Brian Maulana; Fauzyyah, Nabilah Putri; Aritonang, Christian Daniel; Tiffany Putri, Gabriela
Forschungsforum Law Journal Vol 2 No 03 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Hukum |Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35586/flj.v2i03.10830

Abstract

Gamification has become a core strategy in the online taxi industry, implemented to enhance driver performance through incentive systems, point accumulation, and rankings. While it provides flexibility and income opportunities, this system often results in unfair working conditions, including extended working hours, income instability, and inadequate social protection. Utilizing a library research approach and normative juridical analysis, this study assesses the impact of gamification on worker welfare and identifies regulatory loopholes in their legal protection. The findings indicate that the partnership status weakens drivers' bargaining power, while algorithmic systems restrict their control over work. Consequently, more transparent regulations and labor protection policies that are responsive to platform-based work models are necessary.
ANALISIS KONFLIK PULAU REMPANG TERHADAP HAK ATAS TANAH MASYARAKAT ADAT DALAM PERSPEKTIF HUKUM AGRARIA Rahmawati, Adinda Rizki; Inaaya, Arifa Ishla; Syifa, Fiona Amara; Behestizahra; Fauzyyah, Nabilah Putri
Van Java Law Journal Vol 1 No 03 (2024): DESEMBER
Publisher : Zhata Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64578/vjlj.v1i03.116

Abstract

Konflik hukum agraria merupakan perselisihan yang timbul akibat benturan kepentingan antara masyarakat adat, pemerintah, dan pihak swasta dalam hal penguasaan, pemanfaatan dan pengelolaan atas tanah. Artikel ini membahas konflik agrarian di Pulau Rempang, terjadi penolakan masyarakat adat atas relokasi tanah mereka akibat Proyek rempang Eco City, Dimana hak katas tanah, dan hak ulayat mereka tidak diakui secara adil. Konflik ini dipicu oleh pemberian Hak Guna Usaha (HGU) kepada investor atau perusahaan tanpa didasari prinsip keadilan sosial yang diatur pada Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Penelitian ini menggunakan metode yuridis normative untuk menganalisis kronologi sengketa, legalitas HGU, dan dampaknya terhadap masyarakat adat. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan hukum yang terjadi serta implikasinya. Hasil peelitian ini menunjukkan adanya tumpang tindih antara status hukum masyarakat ulayat dan pemerintah yang memicu kerusuhan sosial. Artikel ini menekan pentingnya peninjauan ulang status tanah, perlindungan hak ulayat, dan konsultasi publik yang lebih inklusif.
PERAN HAK ANGKET DPR DALAM UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA HASIL PEMILU Rabiah, Salwa; Nathanael, Hezki Nalom; Fauzyyah, Nabilah Putri
Jurnal BATAVIA Vol 1 No 2 (2024): MARET
Publisher : Zhata Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64578/batavia.v1i2.33

Abstract

Abstrak Hak angket merupakan hak yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyelidiki terkait sistem pemerintahan di Indonesia yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis fungsi dan efektivitas hak angket Dewan Perwakilan Rakyat dalam menyelidiki penyelenggaraan pemilihan umum, dimana banyak beranggapan adanya tindak kecurangan dalam proses pemilihan umum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode normatif empiris, dimana metode ini digunakan untuk menyelidiki kasus yang sedang terjadi atau prosesnya belum selesai. Hasil penelitian menunjukan bahwa hak angket secara khusus diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat. Hak angket Dewan Perwakilan Rakyat dapat dilaksanakan apabila hak itu telah diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang kemudian akan disidangkan untuk mendapatkan persetujuan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Fungsi hak angket Dewan Perwakilan Rakyat itu sendiri mewujudkan nilai demokrasi, yaitu mewakilkan hak masyarakat Indonesia. Maka dari itu, diperlukannya peran aktif dari Dewan Perwakilan Rakyat sebagai perwakilan rakyat dalam mengimplementasi hak demokrasi masyarakat dimana semua keresahan masyarakat terhadap sistem pemerintahan dapat diterima oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Kata Kunci: Hak Angket, Dewan Perwakilan Rakyat, Pemilihan Umum. Abstract The right of inquiry is a right held by the House of Representatives (DPR) to investigate the government system in Indonesia that is considered contrary to the law. The purpose of this study is to analyze the function and effectiveness of the right of inquiry of the House of Representatives in investigating the conduct of general elections, where many assume fraud in the electoral process. The method used in this research is the empirical normative method, where this method is used to investigate cases that are happening or the process has not been completed. The results show that the right of inquiry is specifically regulated in Law of the Republic of Indonesia Number 6 Year 1954 on the Determination of the Right of Inquiry of the House of Representatives. The right of inquiry of the House of Representatives can be exercised if the right has been proposed by the House of Representatives which will then be heard for approval by members of the House of Representatives. The function of the House of Representatives' right of inquiry itself embodies the value of democracy, which is to represent the rights of the Indonesian people. Therefore, an active role is needed from the House of Representatives as the people's representative in implementing the people's democratic rights where all public concerns about the government system can be accepted by the House of Representatives. Keywords:Right of Inquiry, House of Representatives, General Election.
IMPLIKASI HUKUM WANPRESTASI DALAM PEMBAYARAN FITUR CASH ON DELIVERY (COD) PADA MARKETPLACE Fauzyyah, Nabilah Putri; Rahmawati, Adinda Rizki; Inaaya, Arifa Ishla; Behestizahra; Syifa, Fiona Amara
Van Java Law Journal Vol 2 No 01 (2025): APRIL
Publisher : Zhata Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64578/vjlj.v2i01.128

Abstract

Cash on Delivery (COD) adalah sistem pembayaran dalam transaksi online pada marketplace dimana pembayaran dilakukan saat barang diterima oleh konsumen. Permasalahan hukum yang sering terjadi pada sistem ini yaitu wanprestasi akibat kelalaian pihak penjual atau pembeli dalam memenuhi kewajibannya. Pasal 1238 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menjelaskan bahwa wanprestasi adalah kegagalan salah satu pihak dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab serta implikasi hukum terhadap wanprestasi dalam sistem pembayaran COD pada marketplace. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konsep, teori, dan asas hukum untuk menganalisis wanprestasi dalam pembayaran COD serta implikasinya. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa wanprestasi dalam fitur pembayaran COD pada marketplace terjadi karena dua faktor, yakni kelalaian melakukan kewajiban dari segi penjual atau bahkan konsumen itu sendiri. Kelalaian kewajiban yang terjadi dari segi penjual salah satunya adalah ketidaksesuaian barang yang dikirim dengan yang ditawarkan. Sedangkan, dari segi konsumen kerap terjadi peristiwa saat barang sampai, tetapi konsumen tidak melakukan pembayaran. Terjadinya wanprestasi tersebut menimbulkan implikasi hukum terhadap pihak yang melakukan wanprestasi, dengan mengacu pada Pasal 1266, 1267, dan 1517 KUHPerdata.