Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Retorika Pidato Prabowo Subianto Pada Pelantikan Presiden Tahun 2024-2029 (Kajian Teori Retorika Aristoteles) Dama, Yunus; Monoarfa, Frediyanto; Arjoyo, Rahmatia; Djalilu, Yusrin; Abdullah, Fendra Amellia; Hino, Karmila; Mokoagow, Syakil
Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol 15, No 1 (2025): (Januari 2025)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jbsb.v15i1.34212

Abstract

The purpose of this research is to describe Prabowo Subinato’s rhetoric in his 2024-2029 Presidential inauguration speech. The theory used to analyze is based on Aristotle’s Rhetoric theory which includes ethos, logos, and pathos. The method used in this research is qualitative description, by describing sentences that indicate the presence of ethos, logos, and pathos in Prabowo Subianto’s speech. The data source is a video of Prabowo Subianto’s presidential speech accessed through YouTube. The results showed that Prabowo Subianto’s speech reflected the application of Aristotle’s rhetorical theory through three main elements: ethos, logos, and pathos. In the ethos aspect, he emphasized the importance of integrity, morality, and leadership commitment to realize a clean and democratic government, reflecting the credibility and good character of the speaker. In terms of logos, Prabowo delivered rational arguments that invited the audience to think critically about the responsibility of leaders and the importance of collective efforts to overcome major problems such as poverty, showing rationality and structured logic. The pathos aspect is seen in the way he evokes the audience’s emotions, such as pride in Indonesia’s democracy and courage to face challenges, delivered through passionate and motivational words. By combining these three elements in a balanced way, Prabowo managed to establish credibility, provide strong arguments, and create a deep emotional connection with the audience, making his speech effective and inspiring.
Pandangan Dunia Pengarang Dalam Kumpulan Puisi “Tirani dan Benteng” Karya Taufik Ismail: Kajian Strukturalisme Genetik Lucian Gooldman: Penelitian Kadir, Herson; Djelema, Sartika; D. Daad, Rahman; Abelia Noho, Sri; Djalilu, Yusrin; Hino, Karmila
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4636

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan dunia pengarang dalam kumpulan puisi “Tirani dan Benteng” karya Taufik Ismail dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa karya sastra tidak hanya merupakan hasil kreativitas individual, tetapi juga merepresentasikan kesadaran kolektif kelompok sosial tertentu. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Data penelitian berupa teks puisi dalam kumpulan “Tirani dan Benteng” yang dianalisis melalui dua tahapan, yaitu analisis struktur intrinsik puisi dan analisis hubungan struktur puisi dengan struktur sosial masyarakat yang melahirkannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan dunia pengarang dalam “Tirani dan Benteng” merepresentasikan sikap kritis terhadap kekuasaan yang represif serta keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Struktur konflik dalam puisi memiliki homologi dengan struktur sosial-politik Indonesia pada dekade 1960-an, khususnya dalam konteks demonstrasi mahasiswa, krisis ekonomi, dan kekerasan politik pasca peristiwa G30S/PKI. Taufik Ismail tampil sebagai artikulator kesadaran kolektif mahasiswa, rakyat kecil, dan kaum terdidik yang menolak penindasan. Dengan demikian, “Tirani dan Benteng” tidak hanya berfungsi sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai medium kritik sosial dan kesaksian moral terhadap realitas zamannya.