Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Alat Pengering Gerabah Berbasis Mikrokontroler untuk Meningkatkan Produksi Pengrajin Gerabah Tanah Liat. Adnyana, I Gede; Sudiarsa, I Wayan; Andika, I Gede; Gandika Supartha, I Kadek Dwi; Suryati, Kadek; Socatama, I Putu Yoga
Jurnal KOMET Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Komet: Kolaborasi Masyarakat Berbasis Teknologi : Volume 2 Nomor 2, Oktobe
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70103/komet.v2i2.64

Abstract

Pembuatan gerabah tradisional di Bali terdiri dari beberapa tahap, seperti memilih tanah liat, membentuk, mengeringkan, dan membakar. Dari semua tahapan tersebut, pengeringan sangat penting karena berpengaruh besar terhadap kualitas dan ketahanan gerabah. Sayangnya, proses ini masih sangat bergantung pada cuaca. Saat musim hujan atau cuaca mendung, pengeringan menjadi lambat dan sering membuat gerabah retak atau pecah sebelum dibakar. Untuk mengatasi masalah ini, tim pengabdi melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan membuat alat pengering gerabah yang menggunakan mikrokontroler. Alat ini dapat mengatur suhu dan aliran udara secara otomatis, sehingga pengeringan menjadi lebih cepat, merata, dan tidak tergantung pada sinar matahari. Dari hasil implementasi pada mitra, alat ini mampu mengeringkan 12 buah gerabah basah hanya dalam waktu 8 jam. Selain itu, alat ini juga hemat listrik, yaitu hanya menggunakan 2,22 kWh atau sekitar Rp 3.206,23 per penggunaan. Dengan adanya alat ini, proses produksi menjadi lebih efisien dan kualitas gerabah tetap terjaga. Pengrajin juga lebih mudah memenuhi pesanan, terutama saat cuaca tidak mendukung. Inovasi ini sangat membantu pengrajin dalam menjaga kelangsungan usahanya dan meningkatkan hasil produksi gerabah tradisional.
Balinese Statue Image Classification Using Transfer Learning: A Comparative Study of MobileNetV3 and EfficientNetV2 Wulandari, Dwi; Iswara, Ida Bagus Ary Indra; Yudi Antara, I Gede Made; Putra Asana, I Made Dwi; Gandika Supartha, I Kadek Dwi
Jurnal Teknik Informatika (Jutif) Vol. 7 No. 2 (2026): JUTIF Volume 7, Number 2, April 2026
Publisher : Informatika, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jutif.2026.7.2.5556

Abstract

Balinese sculpture is an important form of cultural heritage that exhibits high visual diversity in terms of shape, structure, and carving style, which makes manual identification and documentation challenging. Previous studies on automated statue classification have generally focused on limited sculpture categories and therefore do not fully represent the visual diversity of Balinese sculptures. This study aims to develop an automatic image classification model capable of recognizing multiple Balinese statue categories using transfer learning and fine-tuning strategies. The proposed approach compares two convolutional neural network architectures, MobileNetV3 and EfficientNetV2, across eight statue classes: Dewa, Dewi, Mitologi, Penabuh, Pengapit, Punakawan, Raksasa, and Wanara. A dataset of 8,400 images was constructed from three-dimensional video documentation to capture multiple viewing angles of each statue. The images were processed through frame extraction, resizing, normalization, data augmentation, and dataset splitting. Model training was conducted in two stages, consisting of transfer learning followed by fine-tuning using reduced learning rates. Experimental results indicate that both models achieve high classification performance on the test dataset. MobileNetV3 obtained the highest test accuracy of 99.64% with a loss value of 0.0119, while EfficientNetV2 achieved an accuracy of 98.56% with a loss of 0.0613. These findings demonstrate that lightweight architectures can deliver competitive performance when supported by appropriate training strategies. This study provides a comparative evaluation of efficient deep learning models for cultural heritage image classification and supports the development of more reliable and systematic digital documentation of Balinese sculptures.