Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana siswa SMA pria dan wanita yang tangguh di Kota Pontianak berbeda satu sama lain. Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri, mengatasi stres, dan bangkit kembali dari situasi yang sulit atau negatif dikenal sebagai ketahanan. Karena pria dan wanita diharapkan untuk memenuhi peran sosial, nilai-nilai budaya, dan harapan masyarakat yang berbeda, dihipotesiskan bahwa kesenjangan gender memengaruhi bagaimana orang mengembangkan ketahanan. 56 peserta 21 siswa pria dan 35 siswa wanita dipilih melalui pemilihan acak klaster untuk metodologi perbandingan kuantitatif penelitian ini. Skala ketahanan yang telah menjalani uji validitas dan reliabilitas (α = 0,802) digunakan untuk mengumpulkan data. Statistik deskriptif, Uji-T Sampel Independen, uji homogenitas Levene, dan uji normalitas Shapiro-Wilk semuanya digunakan dalam analisis data. Menurut temuan tersebut, data homogen dan terdistribusi secara teratur (Uji Levene Sig. = 0,571 > 0,05). Hasil uji-t menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tingkat resiliensi siswa laki-laki dan perempuan, dengan Sig. (2-tailed) = 0,012 < 0,05. Skor rata-rata siswa laki-laki lebih tinggi (M = 65,29) dibandingkan dengan siswa perempuan (M = 61,17). Berdasarkan hasil ini, siswa laki-laki lebih mungkin untuk bersikap fleksibel dan resiliensi saat berada di bawah tekanan dibandingkan siswa perempuan. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa gender, yang dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya di lingkungan mereka, merupakan faktor signifikan dalam menentukan resiliensi remaja.