Muhammad, Sayyid
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Peramalan Indeks Harga Konsumen Menggunakan Moving Average Method dan Least Square Method Nor Islamy, Sulaiha; Anas, Zulviar; Faisol, Faisol; Muhammad, Sayyid
Journal of Economic and Business Vol 1 No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nazhatut Thullab Al-Muafa Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52298/joebis.v1i1.48

Abstract

IHK merupakan angka yang menggambarkan perbandingan harga konsumen yang terjadi pada suatu periode waktu dengan periode waktu tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan sekaligus mencari model yang terbaik untuk digunakan sebagai peramalan Indeks Harga Konsumen di Indonesia tahun 2020 – 2023. Data yang digunakan adalah data bulanan dengan jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan dari Badan Pusat Statistika. Dari hasil penelitian ini didapatkan metode yang terbaik adalah metode Double Moving Average Method Dan Least Square karena metode ini memiliki kesamaan data yang mengalami trend baik trend naik maupun trend turun.
Dekonstruksi Mitos Hantu di Indonesia: Pendekatan Integratif Tafsir, Neurosains, dan Sosiologi Muhammad, Sayyid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v10i2.3977

Abstract

Abstract: Indonesian society remains entangled in "Mystical Logic" (Logika Mistika), as conceptualized by Tan Malaka, where natural phenomena and cognitive biases are frequently interpreted through supernatural lenses. This research aims to deconstruct the existence of visual ghosts (such as pocong and kuntilanak) through an integrative approach encompassing Islamic theology, neuroscience, and social critique. Employing a literature review method with theoretical triangulation, this study presents three primary findings. First, theologically, the human eye lacks the biological capacity to perceive the original form of Jinn (QS. Al-A'raf: 27), except through the mechanism of Tamatsul (material solidification) which is subject to the laws of physics. Modern ghost sightings, characterized by transparency, fail to meet this requirement. Second, scientifically, ghost sightings are illusions triggered by the mechanisms of Pareidolia, the Hyperactive Agency Detection Device (HADD), and environmental phenomena such as infrasound. Third, the inconsistency of ghostly forms, which are bound by geographical borders, proves that they are cultural constructions rather than objective realities. This study concludes that a firm demarcation is necessary between believing in the Unseen (Ghaib) entities (Jinn) and rejecting visual superstitions, in order to purify monotheism (Tawhid) and foster a scientific society free from mystical fatalism. Key Words : Ghaib, Mystical Logic, Pareidolia, Tamatsul, Tafsir Al-ManarMasyarakat Indonesia masih terjebak dalam Logika Mistika (Tan Malaka), di mana fenomena alam dan bias kognitif seringkali ditafsirkan secara supranatural. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi eksistensi hantu visual (seperti pocong dan kuntilanak) melalui pendekatan integratif: teologi Islam, neurosains, dan kritik sosial. Menggunakan metode studi pustaka dengan triangulasi teori, penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, secara teologis, mata manusia tidak memiliki kapasitas biologis untuk melihat wujud asli Jin (QS. Al-A'raf: 27), kecuali melalui mekanisme Tamatsul (pemadatan materi) yang tunduk pada hukum fisika. Penampakan hantu modern yang transparan tidak memenuhi syarat ini. Kedua, secara saintifik, penampakan hantu merupakan ilusi yang dipicu oleh mekanisme Pareidolia, Hyperactive Agency Detection Device (HADD), dan fenomena lingkungan seperti infrasound. Ketiga, inkonsistensi wujud hantu yang terikat batas geografis membuktikan bahwa ia adalah konstruksi budaya, bukan realitas objektif. Penelitian ini menyimpulkan perlunya demarkasi tegas antara mengimani entitas Ghaib (Jin) dengan menolak takhayul visual, demi memurnikan tauhid dan membentuk masyarakat berbasis sains (Scientific Society) yang bebas dari fatalisme mistis. Kata Kunci : Ghaib, Logika Mistika, Pareidolia, Tamatsul, Tafsir Al-Manar